benuanta.co.id, BULUNGAN – Tak ada presentasi panjang ataupun pelatihan formal dalam diskusi yang digelar Inaya Kayan Indonesia di Kampung Baru dan Tanah Kuning, Kecamatan Tanjung Palas Timur. Sebaliknya, kegiatan justru dimulai dengan percakapan santai yang membuat perempuan merasa nyaman untuk bercerita.
Melalui pendekatan tersebut, para peserta diajak menuliskan perubahan yang mereka rasakan antara tahun sebelumnya dengan kondisi saat ini. Dari cerita mengenai usaha kecil yang menurun, perubahan mata pencaharian keluarga, hingga kondisi lingkungan yang semakin berbeda, seluruh pengalaman dihimpun menjadi pengetahuan bersama.
“Sederhana kami berkumpul, lalu bercerita, senang sekaligus dapat pengetahuan baru, kami jarang atau bahkan tidak pernah melakukan ini, padahal kami satu kampung. Ya pengetahuan kita tentang perempuan, dan kampung jadi bertambah,“ ungkap Syahira salah satu peserta yang saat ini tercatat sebagai salah satu pelajar di Tanjung Palas Timur, Jumat (14/8/2026).
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena berangkat dari pengalaman nyata masyarakat. Perempuan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi sumber informasi utama mengenai kondisi desa mereka sendiri.
Inaya Kayan Indonesia yang selama ini fokus pada isu perempuan dan lingkungan di Kalimantan melihat bahwa proses mendengarkan merupakan bagian penting dalam pemberdayaan. “Ketika perempuan memiliki ruang aman untuk berbicara, mereka mulai menyadari bahwa pengalaman yang mereka alami juga dirasakan oleh warga lain,“ ujar Meta Koordinator Inaya Kayan, Meta.
Selain meningkatkan rasa percaya diri, forum seperti ini membantu peserta memahami persoalan secara lebih utuh serta membuka peluang lahirnya solusi yang berasal dari masyarakat sendiri.
Ke depan, Inaya Kayan Indonesia berencana melanjutkan diskusi serupa dengan tetap menggunakan pendekatan yang santai agar peserta semakin leluasa menyampaikan pandangan mereka mengenai berbagai perubahan yang terjadi di desa. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina








