Akses Masuk Mahasiswa UBT Terdampak Titik Panas Batu Bara, Kampus Siapkan Kuliah Daring Jika Kondisi Memburuk

Tarakan30 views

benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas perkuliahan semester ganjil di Universitas Borneo Tarakan (UBT) tetap berjalan di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran batu bara yang terjadi di kawasan Pantai Amal, Kota Tarakan.

Perkuliahan semester ganjil resmi dimulai pada Senin (25/8/2026). Meski terdapat penutupan akses jalan di kawasan yang terdampak kebakaran batu bara, pihak kampus belum mengambil keputusan untuk meliburkan mahasiswa.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UBT, Dr. Arifin mengatakan, kondisi perkuliahan masih normal. Namun, pihak kampus terus memantau perkembangan situasi, termasuk kondisi asap dan dampak penutupan akses jalan menuju kawasan Pantai Amal.

“Senin ini kita memulai untuk perkuliahan semester ganjil. Sambil kita lihat perkembangannya bagaimana,” ujarnya, Senin (24/8/2026).

Menurut Arifin, penutupan jalan tidak berdampak signifikan terhadap sebagian besar mahasiswa UBT. Pasalnya, mahasiswa yang berasal dari kawasan pusat kota maupun sejumlah wilayah lain tidak menggunakan jalur Pantai Amal sebagai akses utama menuju kampus.

Dampak lebih dirasakan mahasiswa yang tinggal di rumah kos di kawasan Amal Lama karena jalur tersebut sebelumnya menjadi salah satu akses yang mereka gunakan untuk menuju kampus.

Baca Juga :  3 Rumah Ludes di Karang Balik Tarakan

“Ada beberapa mahasiswa yang ngekos di daerah Amal Lama mungkin agak terganggu. Tapi sudah ada alternatif jalannya,” jelasnya.

Kampus, lanjut dia, akan memberikan informasi kepada mahasiswa agar menggunakan jalur alternatif selama akses utama masih ditutup. Salah satu jalur yang dapat digunakan yakni akses melalui Jalan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).

“Kita akan sampaikan kepada mahasiswa, khususnya teman-teman yang ngekos di daerah Amal, untuk bisa mencari akses lain untuk menembus kampus,” ungkapnya.

Arifin menyebut, mahasiswa dari kawasan Kampung Satu dan Kampung Enam maupun dari pusat kota relatif tidak terdampak karena tidak perlu melewati jalur yang sedang ditutup tersebut. Mengenai kemungkinan perkuliahan dihentikan sementara, pihak UBT masih menunggu perkembangan kondisi di lapangan.

Dirinya mengatakan keputusan tersebut akan mempertimbangkan kondisi kebakaran batu bara, kualitas udara, akses menuju kampus, serta langkah penanganan yang dilakukan Pemerintah Kota Tarakan. “Kita lihat kondisinya nanti,” ujarnya.

Baca Juga :  Biosolar Dikeluhkan Langka, DPRD Tarakan Lakukan Evaluasi dan Monitoring Sasaran

Ia berharap penanganan kebakaran batu bara dapat dilakukan secepatnya. Menurutnya, proses pemadaman batu bara memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena material yang terbakar harus ditangani dan dikeruk terlebih dahulu.

“Mudah-mudahan pemerintah kota sudah cepat dengan pembagian tim tadi. Proses penanganan batu bara ini tidak mudah, harus dikeruk terlebih dahulu dan sebagainya,” jelasnya.

Selain persoalan akses, Arifin mengungkapkan kawasan sekitar UBT juga memiliki potensi material batu bara. Ia menyebut bagian belakang kampus yang masih berupa kawasan hutan diduga menyimpan material batu bara. Bahkan, di sekitar pintu masuk Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan FKIP terdapat batu bara yang menurutnya memiliki ketebalan atau ketinggian hingga sekitar tiga meter.

“Pintu masuk FIKES, kemudian FKIP, samping kanannya sudah setinggi tiga meter batu bara itu,” ungkapnya.

Namun, Arifin menegaskan material batu bara tersebut tidak berada pada lahan yang menjadi bagian dari kepemilikan UBT. UBT sendiri memiliki lahan lebih dari 30 hektare. Sementara lokasi yang disebut memiliki material batu bara tersebut berada di luar lahan kampus dan sebagian merupakan lahan warga maupun lahan milik Pemerintah Kota Tarakan.

Baca Juga :  Karhutla di Tarakan Tembus 56 Hektare pada Periode Agustus

Mengantisipasi kemungkinan kondisi karhutla, asap, maupun bencana lain yang berdampak terhadap kegiatan akademik, UBT telah memiliki mekanisme mitigasi bencana. Arifin menjelaskan, apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, kegiatan perkuliahan dapat dialihkan menjadi pembelajaran secara daring.

“Kita di pedoman pendidikan, jika ada mitigasi bencana seperti ini, tentu kita akan melakukan proses pembelajaran secara online. Kita sudah mengantisipasi itu,” jelasnya.

Saat ini, UBT masih menjalankan aktivitas perkuliahan seperti biasa. Kampus juga telah menerima dan menindaklanjuti surat edaran Rektor UBT terkait kondisi karhutla dan asap yang terjadi di Tarakan.

“Masih normal (aktivitas perkuliahan). Karena sudah ada surat edaran dari Pak Rektor, termasuk karhutla, asap, dan sebagainya, kita sudah mengantisipasinya. Kita punya mitigasi bencana dari Universitas Borneo Tarakan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *