benuanta.co.id, TARAKAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan memutuskan menutup sementara akses jalan dari arah Jalan Amal Lama No. 1, Kelurahan Pantai Amal, Kecamatan Tarakan Timur, Kota Tarakan menuju kawasan wisata Pantai Amal menyusul munculnya bara batu bara di bawah badan jalan yang dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, mengatakan keputusan penutupan diambil setelah pemerintah daerah bersama sejumlah instansi meninjau langsung kondisi lokasi. Dari hasil pemeriksaan awal, bagian bawah badan jalan diduga telah mengalami kerusakan dan kekosongan akibat bara batu bara yang merambat di bawah permukaan.
“Keputusan kita, satu bahwa ini jalan kita tutup sementara, sampai dilakukan penanganan secara menyeluruh. Karena batu baranya kelihatannya di bawah sudah separuh jalan ini sudah keruak, sudah kosong di bawah ini, khawatir runtuh,” ujarnya, Senin (24/5/2026).
Penutupan dilakukan dari dua arah, baik dari sisi Amal maupun dari arah Universitas Borneo Tarakan (UBT). Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah risiko kecelakaan, terutama jika kondisi badan jalan semakin melemah akibat bara yang terus merambat.
Meski ditutup, akses menuju kawasan Pantai Amal tetap disiapkan melalui jalur alternatif. Pengendara dari arah kota dapat menggunakan jalan di depan kawasan Marinir, kemudian melintasi jalan beton dan jembatan yang menyusuri kawasan wisata menuju Pantai Ratu Intan.
Sementara masyarakat dari wilayah Amal dan sejumlah rukun tetangga (RT) di sekitarnya dapat memanfaatkan jalur alternatif melalui Karungan, RT 5, hingga Mamburungan Timur. Pemkot juga mempertimbangkan pemanfaatan akses TMB yang dapat terhubung kembali ke kawasan depan Marinir.
Dirinya menegaskan penanganan bara batu bara akan dilakukan secepatnya. Badan jalan di lokasi yang terdampak akan diputus dan dilakukan pengerukan untuk menghentikan rambatan bara di bawah permukaan. “Diputus jalannya, dikeruk, lalu ditimbun lagi, disiram, dan yang sudah terbakar dimatikan,” katanya.
Selain itu, Pemkot Tarakan akan membuat kolam-kolam kecil sebagai bagian dari upaya penanganan dan antisipasi rambatan bara. Langkah tersebut merupakan rekomendasi teknis dari pihak yang memiliki pengalaman dalam menangani kondisi serupa, termasuk Pertamina dan Sucofindo.
Khairul menargetkan pekerjaan penanganan dapat dimulai segera. Jika memungkinkan, pekerjaan dimulai pada hari yang sama setelah keputusan penutupan dilakukan dan paling lambat keesokan harinya.
Ia menyebut luas area terdampak belum dapat dipastikan karena bara diduga merambat di bawah permukaan. Kondisi yang terlihat di permukaan diperkirakan hanya sebagian kecil dari area yang sebenarnya terdampak.
“Ini kan kita enggak tahu dalam merembetnya. Api kan merembetnya pelan-pelan biasanya, kayak sekam. Ini sama, api dalam batu bara,” jelasnya.
Penanganan melibatkan sejumlah perangkat daerah dan instansi terkait, mulai dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), hingga Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan. Unsur TNI dan Polri juga dilibatkan dalam pengamanan serta penanganan kondisi darurat.
Pemkot juga akan berkoordinasi dengan pihak Universitas Borneo Tarakan yang berada paling dekat dengan lokasi terdampak. Selain penanganan teknis, pemerintah bersama aparat dan pemerintah kecamatan serta kelurahan akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penutupan jalan dan penggunaan jalur alternatif.
Khairul menegaskan, penutupan jalan dilakukan sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi kejadian yang membahayakan masyarakat selama proses penanganan berlangsung. “Kalau pas enggak ada orang lewat masih lumayan, kalau pas ada orang lewat kan bahaya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina








