Ribuan Bibit Ditanam, Ekosistem Embung Bolong Mulai Dipulihkan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Upaya pemulihan lingkungan di Kabupaten Nunukan mulai bergerak dari hal yang lebih konkret. Tidak sekadar seremoni, penanaman ribuan pohon, pelepasan burung, hingga penebaran benih ikan di kawasan Embung Bolong, pada Senin (4/5/2026), menjadi langkah awal memperbaiki ekosistem yang mulai tertekan.

Kegiatan yang dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Nunukan, Masniadi, mewakili Bupati Nunukan H. Irwan Sabri itu difokuskan pada pemulihan fungsi lingkungan, terutama di kawasan sumber air. Embung Bolong dipilih karena memiliki peran vital sebagai penyangga kebutuhan air masyarakat.

Sebanyak 3.290 bibit pohon ditanam, terdiri dari tanaman keras dan produktif seperti ulin, meranti, mahoni, hingga durian dan rambutan. Kombinasi ini tidak hanya ditujukan untuk penghijauan, tetapi juga memberi nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Tidak berhenti di daratan, intervensi juga dilakukan pada ekosistem perairan. Sebanyak 1.000 benih ikan lele ditebar di embung sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan air sekaligus membuka peluang pemanfaatan berkelanjutan. Sementara itu, 100 ekor burung dari berbagai jenis dilepasliarkan untuk menghidupkan kembali rantai ekologi yang sempat terganggu.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Nunukan, Masniadi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan berbasis lingkungan.

“Kalau ekosistemnya rusak, dampaknya langsung ke pertanian dan ketersediaan air. Karena itu kita dorong kegiatan seperti ini tidak berhenti hari ini saja, tapi berlanjut dengan perawatan dan keterlibatan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penanaman pohon produktif juga menjadi langkah untuk menggabungkan aspek konservasi dan ekonomi. “Kita ingin masyarakat juga merasakan manfaatnya, bukan hanya menjaga lingkungan, tapi ke depan bisa meningkatkan pendapatan,” tambahnya.

Masniadi menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari gerakan serentak yang diinisiasi jajaran Kodam VI/Mulawarman di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Namun di Nunukan, kegiatan ini diarahkan lebih spesifik pada titik-titik yang dinilai membutuhkan penanganan cepat, seperti kawasan embung dan wilayah resapan air.

“Pelaksanaannya juga tidak terpusat di satu lokasi. Selain di Nunukan, kegiatan serupa digelar di wilayah Sebatik dan Kabudaya, menandakan bahwa persoalan lingkungan di daerah perbatasan ini membutuhkan penanganan menyeluruh, bukan parsial,” ungkapnya.

Dengan langkah awal ini, harapannya tidak berhenti pada penanaman, melainkan berlanjut pada pengawasan dan perawatan agar ekosistem yang dipulihkan benar-benar bisa bertahan dalam jangka panjang. (*)

Reporter: Soni Irnada

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *