benuanta.co.id, NUNUKAN – Ribuan pelajar dan guru di Kabupaten Nunukan memadati jalan dalam kegiatan jalan santai memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-67, pada Ahad, (3/5/2026). Sekitar 3.000 peserta dari berbagai jenjang pendidikan mengikuti rute sejauh kurang lebih 3 kilometer, dari Pintu Tunon Taka Pelabuhan hingga Alun-alun Kota Nunukan.
Di balik kemeriahan yang ditandai dengan drumband, yel-yel pelajar, hingga pembagian doorprize, momentum ini menjadi pengingat bahwa tantangan dunia pendidikan di daerah perbatasan seperti Nunukan belum sepenuhnya tuntas.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Muhammad Amin, yang mewakili Bupati Nunukan, mengakui tingginya partisipasi masyarakat pendidikan menjadi energi positif. Namun, ia menegaskan bahwa semangat tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas dan pemerataan layanan pendidikan.
“Antusiasme ini patut diapresiasi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita memastikan akses dan mutu pendidikan bisa dirasakan merata, termasuk di wilayah terpencil,” ujarnya.
Sejumlah guru yang ditemui di lokasi kegiatan juga menyampaikan harapan agar perhatian terhadap fasilitas pendidikan, distribusi tenaga pengajar, hingga sarana pendukung belajar semakin ditingkatkan. Menurut mereka, kegiatan seremonial seperti ini penting untuk membangun semangat, tetapi tidak boleh mengalihkan fokus dari persoalan mendasar.
Hal senada disampaikan beberapa siswa yang berharap kegiatan peringatan Hardiknas tidak hanya berhenti pada acara tahunan, melainkan juga membawa perubahan nyata, seperti peningkatan kualitas pembelajaran dan ketersediaan fasilitas sekolah yang lebih memadai.
Di Kabupaten Nunukan yang memiliki tantangan geografis cukup kompleks, pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Akses ke wilayah pedalaman, keterbatasan infrastruktur, serta kebutuhan tenaga pendidik yang merata menjadi isu yang terus mengemuka setiap tahunnya.
Peringatan Hardiknas ke-67 dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” pun menjadi relevan untuk direfleksikan. Partisipasi yang terlihat dalam kegiatan jalan santai diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi nyata dalam memperbaiki kualitas pendidikan di daerah perbatasan. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli







