15 Dapur MBG di Nunukan Tetap Beroperasi, Belum Ada Perubahan Skema

benuanta.co.id, NUNUKAN – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nunukan hingga saat ini masih berjalan normal dan belum mengalami perubahan skema sebagaimana yang ramai diperbincangkan di sejumlah daerah.

Wakil Kepala Regional Wilayah Kalimantan Utara Sulaimana menjelaskan seluruh kegiatan masih mengacu pada mekanisme yang berlaku dan terus dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan infrastruktur serta keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Di Nunukan memiliki sekitar 15 SPPG yang telah beroperasi. Sebarannya meliputi enam SPPG di Pulau Sebatik, delapan SPPG di wilayah Nunukan dan Nunukan Selatan, serta masing-masing satu SPPG di Atulai dan Sebuku. Sementara untuk kecamatan lain, proses survei dan penjajakan lokasi masih terus dilakukan guna memperluas jangkauan layanan MBG.

“Sejauh ini belum ada perubahan program meski kepala BGN sudah berganti. Pelaksanaan MBG di Nunukan masih berjalan seperti biasa. Untuk kecamatan yang belum terlayani, masih dalam tahap survei,” ujar Sulaimana pada Rabu (10/6/2026).

Baca Juga :  Komisi II DPRD Nunukan Soroti Mandeknya Proyek Waduk Mamolo Senilai Rp1,9 Miliar

Ia juga memastikan empat SPPG di Nunukan yang sebelumnya sempat mengalami suspensi operasional kini telah kembali beroperasi dan melayani peserta didik seperti sediakala.

Menurutnya, dari sisi cakupan layanan, sebagian besar sekolah di wilayah Nunukan dan Nunukan Selatan telah menerima manfaat program MBG. Namun demikian, masih terdapat beberapa sekolah yang belum terjangkau, di antaranya sekolah tingkat SD, SMP, serta TK/PAUD yang berada di wilayah Sei Lancang dan Binusan.

Menurutnya, kendala yang sempat terjadi bukan disebabkan persoalan pembayaran kepada penyedia layanan di Nunukan, melainkan terkait keterlambatan proses pengisian dana atau top up operasional.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Listrik, Gereja Katolik Santo Yosep di Tulin Onsoi Ludes Terbakar

Sistem yang berlaku mengharuskan dana masuk terlebih dahulu sebelum kegiatan penyediaan makanan dapat dilaksanakan. Karena itu, ketika terjadi keterlambatan pencairan dana, operasional SPPG berpotensi terganggu sementara waktu.

“Kalau di Nunukan relatif aman. Dana harus masuk dulu baru kegiatan berjalan. Kendala seperti yang terjadi di Tarakan beberapa waktu lalu karena dana terlambat masuk, sehingga SPPG sempat tidak beroperasi sementara,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap SPPG saat ini rata-rata melayani sekitar 3000 siswa penerima manfaat. Dengan bertambahnya jumlah SPPG di masa mendatang, cakupan penerima MBG di Kabupaten Nunukan diharapkan semakin luas hingga menjangkau seluruh kecamatan.

Salah satu guru di SMA Negeri 1 Nunukan, Sugi, mengatakan pihak sekolah sempat merasakan dampak ketika layanan Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara akibat suspensi operasional SPPG. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan kini layanan telah kembali berjalan normal.

Baca Juga :  Warga Nunukan Keluhkan Bertambahnya Beban Perawatan Kendaraan

“Saat program sempat terhenti, tentu siswa menanyakan kapan makanan bergizi kembali diberikan. Namun kami memahami bahwa ada proses administrasi dan teknis yang harus diselesaikan. Syukurlah sekarang program sudah kembali berjalan,” ujar Sugi.

Ia menilai keberadaan program MBG sangat membantu para siswa, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Pemerintah bersama pihak terkait terus melakukan evaluasi dan pemetaan kebutuhan di lapangan guna memastikan program strategis nasional tersebut dapat berjalan optimal serta memberikan manfaat bagi seluruh peserta didik yang menjadi sasaran program. (*)

Reporter: Soni Irnada

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *