benuanta.co.id, NUNUKAN – Sebagian besar kasus kebakaran yang terjadi di Kabupaten Nunukan dan Pulau Sebatik dalam beberapa hari terakhir ternyata dipicu oleh faktor kelalaian. Mulai dari kebocoran gas, dugaan puntung rokok, hingga api yang ditinggalkan tanpa pengawasan menjadi penyebab rentetan empat kebakaran yang terjadi dalam rentang 29 Mei hingga 1 Juni 2026.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kabupaten Nunukan menilai kejadian tersebut harus menjadi perhatian bersama karena seluruh insiden sebenarnya berpotensi dicegah apabila masyarakat lebih waspada dalam beraktivitas.
Kepala Seksi Bantuan Penyelamatan dan Evakuasi (Rescue) Disdamkartan Nunukan, Arista Pratama Sanmigo, mengatakan empat kejadian yang terjadi dalam waktu berdekatan menunjukkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya kebakaran.
“Musibah ini harus menjadi pelajaran bersama. Kebakaran sering kali berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan disiplin, risiko kebakaran dapat diminimalkan,” ujarnya.
Peristiwa pertama terjadi di Kampung Pukat, Jalan Hasanuddin RT 11, Kelurahan Nunukan Utara, pada 29 Mei lalu. Api muncul akibat kebocoran tabung gas di dalam rumah warga.
Beruntung, pemilik rumah segera bertindak dengan mengeluarkan tabung gas dari dalam bangunan sehingga kobaran api tidak sempat membesar. Warga sekitar turut membantu melakukan pemadaman menggunakan APAR sebelum petugas tiba di lokasi.
Keesokan harinya, kebakaran melanda gudang penyimpanan kardus dan plastik di kawasan Pangkalan Posal, Jalan Manunggal Bakti RT 12, Nunukan. Material yang mudah terbakar membuat api cepat membesar dan menghasilkan kepulan asap tebal yang terlihat dari sejumlah titik.
Petugas mengerahkan delapan unit armada untuk memadamkan api. Dugaan sementara, kebakaran dipicu puntung rokok yang dibuang sembarangan di sekitar area gudang. Bangunan gudang dilaporkan hangus terbakar, sementara satu rumah warga di sekitar lokasi turut terdampak.
Insiden berikutnya terjadi pada 1 Juni 2026 di sebuah rumah sarang burung walet di Jalan Dewi Sartika RT 08, Sei Lancang, Kelurahan Nunukan Selatan. Warga sempat mendengar suara ledakan sebelum api membesar.
Hasil pemeriksaan awal mengarah pada dugaan korsleting listrik yang berasal dari meteran bangunan. Petugas berhasil mencegah api menjalar ke permukiman warga yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Masih pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Desa Lapri, Kecamatan Sebatik Utara. Api menghanguskan sebagian dapur rumah milik Kepala Desa Lapri, Samsurijal.
Kebakaran diduga bermula saat kotak telur yang dibakar di atas kompor untuk mengusir nyamuk ditinggalkan tanpa pengawasan. Api kemudian merambat ke bagian atap dapur sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh warga bersama petugas.
Arista mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan aspek keselamatan di rumah maupun tempat usaha. Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, penggunaan tabung gas yang sesuai standar, serta memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi menjadi langkah sederhana yang dapat mencegah terjadinya kebakaran.
Selain itu, masyarakat juga disarankan memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sebagai langkah awal penanganan apabila terjadi kebakaran sebelum petugas tiba di lokasi.
Menurutnya, rentetan kebakaran yang terjadi dalam waktu singkat ini menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran tidak hanya berasal dari faktor teknis, tetapi juga dari kebiasaan sehari-hari yang kurang memperhatikan aspek keselamatan. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







