Populasi Gajah Borneo Diperkirakan Tinggal 12 Ekor, Indonesia-Malaysia Perkuat Konservasi

benuanta.co.id, TARAKAN – Indonesia dan Malaysia memperkuat kerja sama lintas batas dalam upaya menyelamatkan gajah Borneo yang populasinya di wilayah Indonesia diperkirakan hanya tersisa sekitar 12 ekor.

Langkah tersebut dibahas dalam rangkaian pertemuan selama tiga hari antara Kementerian Lingkungan Hidup/Kementerian Kehutanan RI dan Sabah Wildlife Department di Kota Tarakan, Rabu (23/9/2026).

Kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada perlindungan gajah Borneo yang hidup di kawasan perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara)-Sabah, tetapi juga memperkuat penanganan perdagangan ilegal satwa liar yang masih menjadi ancaman bagi kelestarian keanekaragaman hayati.

Kepala Subdirektorat Pengawetan Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Budi Mulyanto, menjelaskan rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan keakraban, dilanjutkan diskusi penyusunan rencana kerja sama, dan ditutup dengan kunjungan lapangan di Tarakan.

Baca Juga :  BKD Kaltara Tangani Puluhan Pelanggaran Disiplin ASN, Didominasi Bolos Kerja

“Kita berdiskusi membangun sebuah rencana kerja sama ke depan dalam konservasi gajah, khususnya gajah yang ada di Kalimantan, baik yang berada di Sabah maupun di Kalimantan Utara,” ujarnya.

Selain membahas perlindungan gajah, kedua negara juga menyusun langkah bersama menghadapi
perdagangan ilegal satwa liar yang melintasi kawasan perbatasan.

“Kemudian yang kedua, terkait bagaimana kita mengantisipasi penanganan terhadap illegal wildlife trade atau perdagangan ilegal satwa liar yang ada di wilayah kita,” ungkapnya.

Pada hari terakhir, delegasi Sabah Wildlife Department dijadwalkan mengunjungi sejumlah lokasi di Tarakan, termasuk melihat pengelolaan kawasan perbatasan dan potensi yang dapat menjadi bagian dari promosi kerja sama konservasi ke depan.

Baca Juga :  Cegah Indikasi Perlakuan 'Spesial' untuk Napi Tertentu, Ombudsman RI Kaltara Buka Peluang Sidak Lapas

Budi mengungkapkan, pertemuan tersebut merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya delegasi Indonesia melakukan kunjungan ke Sabah dengan agenda serupa, yakni membahas konservasi satwa liar dan penguatan penegakan hukum.

Ia menyoroti kondisi populasi gajah Borneo di Indonesia yang masih sangat terbatas. Berdasarkan pendataan beberapa tahun lalu, jumlahnya diperkirakan sekitar 12 ekor, meski angka tersebut masih bersifat estimasi karena pergerakan gajah melintasi batas negara.

“Kalau Malaysia itu kisaran 1.000 ekor lebih. Sedangkan di kita kurang lebih sekitar 12 ekor. Karena gajah kita melintas antara perbatasan, masuk-keluar, sehingga data itu perlu terus dimonitor lagi untuk mengetahui populasi sebenarnya,” sebutnya.

Baca Juga :  Nasib Peserta JKN PBPU di Kaltara Menunggu Kepastian, 30.727 Data Terancam Dinonaktifkan

Menurutnya, karakter gajah Borneo yang berpindah melintasi wilayah Indonesia dan Malaysia menjadi alasan mengapa pemantauan populasi harus dilakukan secara bersama agar data yang diperoleh lebih akurat.

Budi menegaskan, kolaborasi antarnegara menjadi kunci dalam menjaga kelestarian satwa liar di kawasan perbatasan. Menurutnya, Indonesia tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan konservasi, terutama untuk spesies yang habitatnya berada di dua negara.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Tentu butuh dukungan dari masing-masing pihak, tidak hanya di internal Indonesia, tetapi juga negara lain yang berbatasan dengan kita. Itu menjadi penting dalam upaya pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati dan sumber daya alam kita ke depan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *