61 Hotspot Terdeteksi di Kaltara, Level Confidence Masuk Kategori Medium

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mencatat sebanyak 61 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Kalimantan Utara. Dari jumlah tersebut, satu titik berada di Tarakan dengan tingkat kepercayaan atau confidence level kategori medium.

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan tingkat kepercayaan hotspot yang terpantau berada pada kisaran 20 hingga 80 persen.

“Untuk saat ini titik hotspot masih ada, namun level confidence-nya masih di angka 20 sampai 80 persen. Artinya masih dalam kategori medium,” jelasnya.

Di Tarakan, tercatat satu hotspot. Sementara secara keseluruhan di Kalimantan Utara terdapat 61 hotspot. Rinciannya, dua titik masuk kategori low atau tingkat kepercayaan rendah, sedangkan 59 titik lainnya berada dalam kategori medium.

Adapun hotspot dengan kategori high atau tingkat kepercayaan tinggi saat ini tidak ditemukan. Kondisi ini menjadi perhatian karena Tarakan tengah mengalami periode hari tanpa hujan yang relatif panjang jika dibandingkan dengan karakteristik cuaca normalnya.

Baca Juga :  Peserta Mancanegara Ramaikan Balapan Speedboat di Tarakan, Gubernur Ingin Kompetisi Naik Kelas

BMKG mencatat hari tanpa hujan di Tarakan saat ini mencapai 6 hingga 10 hari. Padahal, karakteristik Tarakan selama ini cenderung basah dengan hari tanpa hujan umumnya kurang dari lima hari.

Kondisi tersebut membuat tingkat kekeringan permukaan tanah meningkat dan turut meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ketika tidak ada hujan tiga hari, empat hari, bahkan sampai sembilan hari, ini sangat berpengaruh terhadap stok air di Tarakan maupun level kekeringan di permukaan tanah. Ini yang menyebabkan beberapa hari terakhir atau beberapa minggu terakhir Tarakan juga mengalami fenomena kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.

Baca Juga :  Reklamasi dan Revegetasi Jadi Perhatian Pemprov Kaltara untuk Jaga Lingkungan

Hotspot terbanyak di Kalimantan Utara berada di Kabupaten Bulungan, khususnya wilayah Tanjung Palas dan Tanjung Palas Timur. Menurut Khilmi, Tanjung Palas Timur merupakan salah satu wilayah di Kalimantan Utara yang mengalami periode musim kemarau, sehingga kondisi tersebut turut memengaruhi munculnya titik panas.

Situasi di Kalimantan Utara juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi wilayah lain. Khilmi menyebut hotspot di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah lebih banyak dibandingkan Kalimantan Utara. Dengan arah angin dominan dari selatan hingga tenggara menuju utara, dampak asap dari kebakaran di wilayah lain tetap berpotensi masuk ke Kalimantan Utara.

Di sisi lain, BMKG menyebut fenomena El Nino turut memberikan pengaruh terhadap kondisi kering yang terjadi. Namun, dampaknya di Kalimantan Utara tidak sekuat sejumlah wilayah lain seperti Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga :  Speedboat Race Jadi Etalase Sport Tourism Kaltara

BMKG juga masih memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Kalimantan Utara pada 26 hingga 28 Agustus 2026. Untuk Tarakan, hujan intensitas sedang hingga lebat diprakirakan terjadi pada 26 Agustus.

Potensi hujan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kondisi kering, meski masyarakat tetap diminta tidak bergantung sepenuhnya pada hujan dan mulai melakukan penghematan air. Khilmi mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran di lahan terbuka. Selain berpotensi memicu karhutla, asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan proses atmosfer.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta menjaga kesehatan dan menggunakan masker apabila jarak pandang mulai berkurang akibat kabut asap. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *