benuanta.co.id, BULUNGAN – Special Envoy of the President of Seychelles for ASEAN, Nico Barito, membagikan pengalaman negaranya dalam mengembangkan ekonomi berbasis konservasi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan program Konservasi Ekonomi Biru di provinsi termuda yang ada di Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Nico sapaanya menegaskan Seychelles berhasil membangun perekonomian tanpa mengorbankan kelestarian alam. Menurutnya, keberhasilan itu lahir dari komitmen menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Seychelles berhasil maju secara ekonomi karena alam kami tetap terjaga dan konservasi berjalan dengan baik. Pengalaman-pengalaman itulah yang kami bagikan kepada Kaltara,” ujar Nico, Rabu (22/7/2026).
Ia menilai Kaltara memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan Seychelles, yakni memiliki kekayaan alam yang masih terjaga serta jumlah penduduk yang relatif sedikit. Karena itu, menurutnya, pembangunan harus dilakukan dengan tetap mempertahankan keseimbangan lingkungan.
“Alam yang bagus kalau tidak dikelola dengan baik bisa menjadi rusak. Karena itu, pembangunan harus tetap memperhatikan kelestarian alam,” katanya.
Nico juga menyoroti pentingnya mempertahankan praktik-praktik berbasis kearifan lokal. Ia mencontohkan budidaya udang windu organik yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk yang dihasilkan melalui cara-cara yang kurang ramah lingkungan.
“Kalau kita sudah bisa hidup baik dengan udang windu organik, mengapa harus mengubah pola yang justru berpotensi merusak alam? Kembali ke alam atau back to nature akan memberikan nilai tambah yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Nico, daya saing suatu produk tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga kualitasnya. Produk yang berkualitas tinggi, kata dia, akan memiliki nilai ekonomi lebih besar meskipun diproduksi dalam jumlah terbatas.
“Menjual itu bukan soal kuantitas, tetapi kualitas. Barang yang jumlahnya sedikit tetapi mutunya tinggi akan selalu dicari dan memiliki harga yang lebih baik,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Nico juga melihat potensi besar Kaltara dalam pengembangan kawasan mangrove sebagai bagian dari ekonomi biru. Ia menilai ekosistem mangrove dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat melalui hasil perikanan seperti udang, kepiting, dan berbagai jenis ikan, asalkan dikelola secara berkelanjutan.
Ia mengingatkan agar eksploitasi sumber daya alam tidak dilakukan secara berlebihan, termasuk mengambil seluruh hasil tangkapan tanpa memperhatikan keberlanjutan.
“Kalau kepiting besar maupun kecil semuanya diambil, begitu juga udang, lama-kelamaan tidak akan ada lagi yang tersisa. Karena itu harus ada sistem pengelolaan yang benar,” katanya.
Selain menjaga kawasan mangrove, Nico menekankan pentingnya menjaga kualitas air di wilayah pesisir dan muara sungai. Menurutnya, pencemaran akan berdampak langsung terhadap produktivitas ekosistem dan hasil perikanan masyarakat.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk meninggalkan praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan listrik, bahan kimia, maupun racun.
“Praktik-praktik seperti itu sebaiknya ditinggalkan karena hanya akan merusak ekosistem. Orang Kalimantan dikenal mencintai alam. Karena itu, kembalilah kepada kearifan lokal dan kelola alam secara bijaksana,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina







