Sebelumnya, setelah percakapan dengan Trump, Fox News melaporkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan Operation Project Freedom guna memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan peran militer yang diperluas.
Trump semakin frustrasi terhadap sikap Iran dalam negosiasi untuk menyelesaikan konflik, dan kini lebih serius mempertimbangkan dimulainya kembali operasi militer skala besar dibanding beberapa pekan terakhir, menurut laporan CNN.
Sumber-sumber mengatakan bahwa Trump mulai kehilangan kesabaran karena Selat Hormuz masih ditutup. Ia juga meyakini adanya perpecahan di dalam kepemimpinan Iran yang menghambat tercapainya konsesi besar terkait isu nuklir.
Menurut sumber tersebut, kini terdapat beberapa kelompok di dalam pemerintahan AS. Sebagian mendukung pendekatan keras dengan mengusulkan pengeboman terarah secara berkelanjutan terhadap Iran untuk melemahkan posisi Teheran, sementara kelompok lain tetap mendorong cara diplomatik untuk menyelesaikan konflik.
Posisi Pakistan sebagai mediator dalam perundingan AS-Iran juga disebut menjadi isu tersendiri bagi Washington. Berdasarkan sumber CNN, pemerintah AS masih belum yakin seberapa jelas Islamabad menyampaikan posisi Washington kepada Teheran, serta seberapa objektif Pakistan mengkomunikasikan pandangan Iran kepada pihak AS.
Arah kebijakan yang akan diambil AS dalam konflik Timur Tengah masih belum jelas, dan keputusan kemungkinan besar tidak akan dibuat sebelum kunjungan Trump ke China yang dijadwalkan berlangsung pada 13-15 Mei, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Adapun pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang target-target di Iran, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang. Washington dan Teheran kemudian menyatakan gencatan senjata pada 8 April.
Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil, serta tanpa pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali permusuhan, Namun, setelah itu, Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti






