Sabu Kaltara Asal Lahad Datu, Diantar Jaringan Filipina

PEREDARAN sabu di Kalimantan Utara (Kaltara) seakan tak pernah ada habisnya. Meski Kaltara identik dengan pintu masuk utama sabu di wilayah perbatasan, namun penegakan hukum terhadap pemainnya pun tak pernah dibiarkan. Pun begitu, narkotika yang banyak menjerumuskan putra – putri daerah ini masih saja eksis. Bisa dibilang tak pernah surut meski gencar dilakukan pengungkapan. Lalu, bagaimana perjalanan masuknya kristal mematikan tersebut ke Kaltara?

Benuanta.co.id belum lama ini melakukan penelusuran ke beberapa mantan bandar sabu di Tarakan. Beberapa bandar sabu yang disambangi benuanta.co.id rata – rata berinteraksi langsung dengan jaringan bandar internasional di Malaysia dan Filipina. Sebut saja Golf (bukan nama sebenarnya) merupakan salah satu bandar sabu di Kaltara yang bermain 8 tahun silam. Kini Golf memutuskan untuk pension. Meski menyatakan diri pensiun, namun para kurir di wilayah Tarakan maupun beberapa wilayah lain di Kaltara tak asing dengan Golf. Bahkan, Golf kerap ditawari setoran tunai dari para kurir yang mengenalnya. Namun begitu, Golf mengaku selalu menolak dan tak jarang meminta para kurir untuk kembali ke jalan yang benar.

Golf tak pernah menyangka dirinya akan menjadi bandar sabu. Lalu berhenti karena sadar akan perbuatannya akan merusak berbagai kalangan. Golf paham betul bagaimana bertransaksi sabu dengan jaringan internasional di Malaysia dan Filipina. Kedua Negara ini, kata Golf sudah menjadi mitra terbaik dalam peredaran sabu di Kaltara. Jika ada bandar dari Kaltara menghubungi, bandar sabu di Malaysia sudah tahu cara melayani dan jenis sabu yang cocok untuk wilayah Kaltara. Begitu juga dengan cara pengantaran dan pemesanannya. Jaringan Filipina merupakan ahli dalam pengantaran sabu ke wilayah – wilayah Kaltara. Golf sengaja menghubungi rekan bisnisnya di Malaysia kala itu. Sebut saja Volta yang berperan sebagai peluncur atau yang biasa disebut kuda liar. Komunikasi Golf dan Volta via telpon WhastApp (WA) terdengar sangat akrab. Maklum, kedua kerap berkomunikasi untuk memindahkan barang terlarang dari Lahad Datu ke Tarakan.

“Siapkan saja uang Rp175 juta, tapi itu belum termasuk ongkos kuda liar. Kalau pertama pembayaran harus cash, bawa Rp200 juta oke sudah tuh,” ucap Volta kepada Golf dengan santai.
Di awal percakapan via telpon ini, Golf berpura – pura menanyakan harga sabu terbaru serta kualitasnya. Volta antusias menyambut diskusi jual beli barang haram ini, karena Golf sudah sangat lama tidak membeli kepada Volta. “Satu ball RM 5 ribu, setengah gram RM 50 ribu,” singkat Volta.

Sabu senilai 45 gram jika dirupiahkan seharga Rp17 juta, sementara setengah gram mencapai Rp167 juta. Golf meminta kepada Volta agar bisa menguruskan pengambilan sabu di Malaysia dengan memberikan imbalan nantinya.

Berita lainnya : 

“Bisakah uruskan dulu, nanti aku nyebrang bawa duitnya. Kau jemput di Lahad Datu, nanti aku kasih kamsen lah (komisi). Kau main di belakang layar aja,” Golf memancing Volta berniaga.
Volta makin tak sabar bertemu Golf. Volta pun memintanya untuk segara ke Malaysia untuk bernegosiasi serta cara memasukan sabu ke Tarakan.

“Kapan itu, nanti ku antar ke Kampung Puyut di Lahad Datu. Di sana enak barangnya, macam beli gula. Nanti kamu pergi sama aku, kalau kamu belanja sendiri pasti tidak ada yang kasih kamu masuk. Tidak ada yang mengenalmu di sana,” beber Volta.

Golf masih terus memancing Volta. Ia menyampaikan bahwa perairan Malaysia dan Indonesia dijaga ketat. Seperti 8 tahun silam, sebelum memutuskan pensiun sebagai bandar sabu Volta hampir tertangkap tangan oleh petugas perbatasan di perairan Indonesia – Malaysia. Menanggapi hal tersebut, Volta menganjurkan agar Golf dapat menyelundupkan barang haram itu dengan menggunakan sejumlah cara. Di antaranya menyelundupkan sabu-sabu melalui styrofoam yang biasa digunakan untuk mengangkut ikan. Selain itu, bisa memasukkan sabu tersebut ke dalam buah-buahan.

Bagi Volta, Golf kini sudah lama tidak terhubung dengan jaringan sabu Malaysia. Itu sebabnya Golf dianjurkan untuk kembali memulai membangun kepercayaan kepada bandar yang ada di Malaysia dengan cara berkorban untuk mengambil barang haram tersebut ke Malaysia. Jika sudah mendapatkan kepercayaan dari Taiko (Bandar Besar), calon pembeli tidak perlu repot untuk mengambil sabu tersebut ke Malaysia. Sebab, ada jaringan dari Filipina yang akan mengantarkan sabu masuk ke Indonesia, terkhusus di perairan Kaltara.
Jalur masuk sabu ke Kaltara. Golf juga mengisahkan terkait jalur masuk yang sering digunakan para bandar sabu ke Kaltara. Salah satunya jalur perairan Indonesia – Malaysia. Dalam perjalanannya, sabu – sabu melewati 3 negara dan 2 kabupaten di wilayah Kaltara.

Dalam pengakuannya, jaringan bisnis barang haram internasional menggunakan dua metode pengiriman yang ia sebut pengiriman manual dan pengiriman otomatis. Jalur manual merupakan cara jaringan menyelundupkan sabu melalui pintu perbatasan dengan skala risiko tinggi, dan hal tersebut biasa digunakan oleh calon pembeli baru. Berbeda dengan jalur pengiriman otomatis yang menggunakan jalur pengiriman langsung dari Filipina ke Indonesia menggunakan speedboat. Artinya, calon pembeli sudah mendapatkan kepercayaan dari Taiko.

Sebelum membeli sabu dari Kampung Puyut, Distrik Lahad Datu, Negara Bagian Divisi Sabah, Malaysia yang bisa dikatakan sebagai daerah yang memiliki reputasi hitam. Golf berkomunikasi dengan jaringan narkoba yang berada di Malaysia. Kemudian kuda liar yang akan menghubungi Taiko. Jika sepakat, Golf akan mengirim uang via transfer kepada jaringan di Malaysia lalu masing-masing akan bertemu di tempat yang sudah ditentukan.

“Untuk pembelian pertama wajib bayar cash, jadi berkorban untuk ambil di sana, untuk modal air liur, tunggu pembelian selanjutnya,” sebutnya.

Dalam misi transaksi bisnis barang haram tersebut, Golf harus bertolak dari Kota Tarakan menuju Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan melalui speedboat reguler tanpa menggunakan surat resmi antar negara. Setiba di Sungai Nyamuk, Golf diminta melanjutkan perjalanan menuju Batu-Batu, Tawau daerah pinggiran yang merupakan jalur ilegal selama 15 menit dengan mengunakan pete-pete atau perahu angkut penyebrangan air. “Setiba di Tawau nanti akan ada yang jemput,” sebutnya.
Di Tawau, Golf diantar ke sebuah hotel Jalan Persiran, Tawau Sabah. Tak membutuhkan waktu lama pesanan sabu tiba di hadapannya. Kuda liar datang membawa sabu beserta tester untuk digunakannya di hotel sebelum bertolak ke Indonesia. Masih dikisahkan Golf, sebagai bandar sabu wajib memiliki kenalan motoris speedboat, saat dipemeriksaan, pihak keamanan perbatasan akan melakukan pemeriksaan ketat terhadap barang bawaan maupun orang.

“Sabu tidak dinaikan ke atas, oknum speedboat reguler yang mengamankan barang. Nanti kita akan bayar oknum speedboat seharga Rp5 juta. Sebelum ke pelabuhan, mereka sudah dihubungi agar bersiap di tempat keberangkatan. Waktu itu sempat digeledah seluruh barang dibongkar, namun sabu-sabu saya aman karena disimpan di speedboat kecil lalu nanti ditaruh ke speed reguler,” sebutnya.

Cara otomatis dilakukan oleh calon pembeli yang sudah mendapatkan kepercayaan dari Taiko. Artinya, si pembeli sabu sudah tidak lagi belanja barang haram di Negeri Jiran. Pembeli di Indonesia hanya melakukan pemesanan via panggilan telepon, kemudian barang tersebut langsung diantar ke Indonesia menggunakan speedboat mesin 15 PK.

“Jadi, nanti kuda liar menaruh sabu di sekitar daerah pertambakan yang berada di Bebatu. Bahkan di sejumlah perairan Pulau Bunyu, Tanjung Daun, dan Tanjung Aus,” akunya.
Sabu yang berhasil diturunkan di tempat yang telah disepakati, nantinya akan dijemput oleh peluncur, orang bayaran, bahkan oknum aparat keamanan. Daerah pesisir Kota Tarakan menjadi pintu masuk barang haram tersebut seperti Juwata Laut, Perikanan, Beringin, bahkan Belakang BRI lalu disebarkan ke wilayah Kota Tarakan. (*)

Tim Redaksi

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1962 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *