Dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, dijelaskan perebutan senjata milik OPM dilakukan untuk memastikan ruang gerak organisasi separatis itu semakin sempit dan terbatas.
“Setiap senjata yang berhasil diamankan berarti berkurangnya potensi ancaman terhadap keselamatan manusia. Prajurit harus tetap tegas, profesional, dan terukur dalam menjalankan tugas, dengan mengutamakan perlindungan masyarakat,” kata Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto dalam siaran pers tersebut.
Riyanto menjelaskan, perebutan senjata itu bermula ketika personel sedang berpatroli di lokasi.
Di tengah patroli, personel mendapati sebuah tempat diduga menjadi lokasi persinggahan anggota OPM. Saat mendekati tempat itu, personel langsung berhadapan dengan anggota OPM hingga akhirnya terlibat baku tembak.
Usai baku tembak, personel akhirnya berhasil mendekati tempat tersebut dan menyita tujuh senjata api.
“Tim gabungan menemukan tujuh pucuk senjata api, terdiri atas dua senjata laras pendek dan lima senjata laras panjang, serta sejumlah amunisi, alat bidik, teropong, dan perlengkapan lainnya. Jenis serta kondisi senjata masih dalam proses identifikasi,” jelas dia.
Senjata tersebut kemudian disita dan dibawa ke markas untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut.
Riyanto memastikan tindakan ini merupakan bukti kuatnya komitmen TNI dalam menjaga dan melindungi masyarakat Papua dari OPM.
“Tindakan ini dilakukan agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman menuju Papua yang damai berkelanjutan,” tutup dia.
Sumber : Antara







