benuanta.co.id, TARAKAN – Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara) sebesar 4,96 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) pada triwulan II 2026 dinilai masih menunjukkan tren yang positif. Meski investasi, sektor pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan menjadi motor utama pertumbuhan, pemerintah daerah diminta tidak mengabaikan pengembangan sektor ekonomi lainnya agar pertumbuhan yang tercipta lebih berkelanjutan.
Akademisi sekaligus Ekonom Kaltara, Dr. Syaiful Anwar, S.E., M.Si., mengungkapkan capaian pertumbuhan ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencerminkan kondisi perekonomian daerah yang cukup baik. Menurutnya, apabila dilihat secara kumulatif selama semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Kaltara bahkan mencapai 5,09 persen sehingga masih berada di atas lima persen.
“Kalau melihat data yang dirilis BPS, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara masih bagus. Secara kumulatif semester I 2026 masih berada di kisaran 5,09 persen,” ungkapnya, Kamis (6/8/2026).
Ia menjelaskan pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh investasi, sektor pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan yang menjadi penggerak utama perekonomian daerah. Namun, ketergantungan terhadap sektor berbasis komoditas juga membuat Kaltara rentan terhadap dinamika ekonomi global.
“Sektor penggerak utamanya memang investasi, pengadaan listrik dan gas, termasuk sektor pertambangan,” jelasnya.
Menurut Dr. Syaiful, kondisi geopolitik global, seperti konflik internasional maupun perang dagang, turut memengaruhi perekonomian Kaltara. Hal itu disebabkan daerah ini merupakan salah satu penghasil batu bara, minyak, dan gas yang sangat dipengaruhi fluktuasi harga komoditas dunia.
“Perubahan harga minyak, gas, maupun batu bara di pasar dunia tentu ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara,” terangnya.
Karena itu, ia menilai pemerintah daerah perlu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan sektor-sektor lain yang memiliki potensi besar. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi akan lebih kuat apabila tidak hanya bergantung pada satu atau dua sektor unggulan.
“Jangan hanya mengandalkan satu sektor. Sektor lain yang memiliki potensi juga harus dikembangkan agar mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tegasnya.
Salah satu sektor yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih adalah pertanian. Dr. Syaiful mengatakan penguatan sektor tersebut sejalan dengan program pemerintah pusat yang saat ini mendorong ketahanan pangan melalui program Makan Bergizi Gratis. Dengan potensi lahan yang dimiliki, Kaltara dinilai mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani
“Sektor pertanian harus ikut diperkuat agar petani juga merasakan manfaat dari pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Selain pertanian, ia juga menyoroti sektor peternakan yang hingga kini masih menjadi kelemahan Kaltara. Menurutnya, berbagai kebutuhan pokok, seperti telur dan sejumlah komoditas pangan lainnya, masih bergantung pada pasokan dari luar daerah sehingga perlu ada upaya memperkuat produksi lokal.
“Kita masih bergantung pada pasokan dari luar untuk memenuhi kebutuhan pokok. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah,” imbuhnya.
Menanggapi kontribusi ekonomi Kaltara terhadap perekonomian Pulau Kalimantan yang masih menjadi yang terendah, yakni sebesar 8,04 persen, Dr. Syaiful menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh potensi sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia menilai masih banyak peluang investasi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
“Potensi sumber daya alam kita besar, tetapi belum digarap secara maksimal sehingga kontribusi ekonomi Kaltara masih relatif kecil,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan peningkatan investasi harus dibarengi dengan terciptanya iklim usaha yang kondusif. Pemerintah daerah diminta mampu menjamin rasa aman bagi investor sekaligus memastikan masyarakat sekitar dilibatkan sehingga manfaat investasi dapat dirasakan secara merata.
“Investor harus merasa aman berusaha, tetapi masyarakat juga harus dilibatkan agar sama-sama merasakan manfaat investasi,” terangnya.
Lebih lanjut, Dr. Syaiful berharap proyek-proyek strategis nasional yang tengah berkembang di Kaltara, seperti Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Mangkupadi, pembangunan PLTA Mentarang, industri galangan kapal, hingga berbagai industri pengolahan lainnya mampu memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah. Menurutnya, proyek-proyek tersebut harus membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Proyek-proyek strategis itu harus memberikan manfaat bagi daerah, UMKM, dan tenaga kerja lokal,” paparnya.
Ia juga menilai hilirisasi sektor perkebunan sawit perlu terus dipercepat agar komoditas yang dihasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah di Kalimantan Utara. Dengan demikian, kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah akan semakin besar.
“Hilirisasi sawit harus benar-benar berjalan agar memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian Kalimantan Utara,” lanjutnya.
Di akhir, Dr. Syaiful berharap pertumbuhan ekonomi Kaltara ke depan tidak hanya mampu dipertahankan di atas lima persen, tetapi juga semakin berkualitas melalui penguatan berbagai sektor produktif. Ia menegaskan keberhasilan pembangunan ekonomi harus diukur dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, pelaku UMKM, dan tenaga kerja lokal.
“Yang terpenting bukan hanya pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi masyarakat, UMKM, dan tenaga kerja lokal juga harus merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







