Daerah Pemasok Dilanda Kemarau, Harga Cabai di Nunukan Masih Bertahan di Rp120 Ribu

benuanta.co.id, NUNUKAN — Harga cabai di Kabupaten Nunukan masih bertahan di kisaran harga Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Nunukan, Dior Frames, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi pasokan dari daerah penghasil, salah satunya Sulawesi Selatan.

Menurut Dior, saat ini sejumlah wilayah penghasil cabai di Sulsel tengah menghadapi musim kemarau. Kondisi tersebut berdampak terhadap produksi sehingga pasokan cabai yang dikirim ke Nunukan ikut berkurang.

Baca Juga :  BI Dorong Walet Kaltara Tembus Pasar Ekspor

“Untuk harga cabai sekarang masih di kisaran Rp100 ribu sampai Rp120 ribu per kilogram. Salah satu penyebabnya karena di daerah penghasil, khususnya Sulawesi Selatan, sedang musim kemarau sehingga berpengaruh terhadap produksi cabai,” ujar Dior.

Berkurangnya produksi di daerah pemasok membuat ketersediaan cabai menjadi lebih terbatas. Sementara kebutuhan masyarakat di Nunukan tetap berjalan, sehingga kondisi tersebut ikut mendorong harga di tingkat pedagang.

Baca Juga :  Pemkab Nunukan Mulai Tahapan Seleksi Terbuka Jabatan Sekda

Menurutnya, pergerakan harga cabai masih terus dipantau pemerintah daerah. Selain produksi, kelancaran distribusi dari daerah pemasok juga menjadi faktor yang menentukan ketersediaan dan harga cabai di Nunukan.

Harga yang telah menembus Rp120 ribu per kilogram tentu berdampak terhadap masyarakat maupun pelaku usaha kuliner yang membutuhkan cabai sebagai salah satu bahan baku.

Baca Juga :  Sempat Minta Diurut karena Demam, Pria 52 Tahun di Nunukan Ditemukan Kaku di Dapur Rumah

“Kita DKUKMPP Nunukan akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan di pasar,” jelasnya.

Penurunan harga sangat bergantung pada kembali normalnya produksi di daerah penghasil serta kelancaran distribusi menuju Nunukan. Dengan kondisi produksi di Sulsel yang masih terdampak kemarau, harga cabai di Nunukan diperkirakan masih berpotensi bertahan tinggi sampai pasokan dari daerah penghasil kembali membaik. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *