benuanta.co.id, BULUNGAN – Kelangkaan Minyakita masih dikeluhkan pedagang dan masyarakat di Kabupaten Bulungan. Minyak goreng subsidi yang selama ini menjadi pilihan warga karena harganya lebih murah, sudah cukup lama sulit ditemukan di pasaran.
Pedagang di Pasar Induk Tanjung Selor, Darwa, mengaku sudah hampir sebulan tidak mendapatkan pasokan Minyakita. Padahal, produk tersebut menjadi minyak goreng yang paling banyak dicari pembeli.
“Kalau ada ya kami ambil, karena itu yang paling laku dan murah. Harapan kami semoga cepat ada lagi, karena kalau Minyakita itu cepat habis terjual,” katanya saat ditemui Selasa (24/6/2026).
Keluhan serupa juga disampaikan Sulviani, pemilik toko di Tanjung Selor. Menurutnya, Minyakita sudah langka sejak sebelum Ramadan dan hingga sekarang belum pernah masuk lagi.
“Banyak sekali masyarakat yang cari. Padahal selisih harganya dengan minyak lain sedikit, tapi orang tetap lebih pilih Minyakita. Harapannya jangan dipersulit, supaya barangnya cepat tersedia lagi,” ujarnya.
Di sisi lain, warga Selimau, Surniati mengaku terpaksa membeli minyak goreng merek lain yang harganya lebih mahal karena Minyakita sudah lama tidak ada.
“Sudah lebih dari sebulan saya nggak beli Minyakita. Kalau bisa pemerintah adakan lagi, karena kami ibu rumah tangga sangat terbantu dengan minyak subsidi ini,” ungkapnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Bulungan, Oktavianoor, membenarkan bahwa stok Minyakita di Bulungan memang sedang kosong. Namun, Bulog memastikan pasokan baru saat ini sedang dalam perjalanan menuju Kalimantan Utara (Kaltara).
“Memang saat ini stok Minyakita masih kosong. Sekarang ada sekitar lima sampai sepuluh kontainer yang sedang menuju Tarakan. Diperkirakan tanggal 29 sampai 30 Juni sudah sampai, setelah itu baru ditarik ke Bulungan,” katanya.
Menurutnya, selama stok kosong, distribusi Minyakita melalui pasar-pasar SP2KP sementara belum bisa dilakukan. Namun Bulog memastikan penyaluran akan kembali berjalan setelah barang tiba.
“Bukan berarti kami berhenti menyalurkan. Stoknya memang sedang dalam perjalanan dan bulan depan akan kami suplai lagi ke pasar-pasar,” jelasnya.
Oktavianoor mengatakan keterlambatan pasokan terjadi karena kendala distribusi dari produsen. Selain itu, kondisi geografis Kaltara juga yang menjadi tantangan.
“Untuk Bulungan, pasokan harus melalui Tarakan atau Berau. Itu yang menjadi salah satu kendala distribusi di daerah kita,” ujarnya.
Bulog memperkirakan total pasokan yang masuk mencapai sekitar 100 ribu liter atau setara lima kontainer. Namun stok tersebut nantinya tidak hanya untuk Bulungan, melainkan juga dibagi ke Kabupaten Malinau dan Tana Tidung.
“Kalau semuanya masuk, kemungkinan tiga kontainer untuk Bulungan, sedangkan dua kontainer lainnya untuk Malinau dan KTT. Karena kebutuhan masyarakat di Bulungan memang lebih besar,” katanya.
Ia memperkirakan jumlah tersebut cukup memenuhi kebutuhan sekitar satu bulan. Namun tingginya permintaan masyarakat membuat stok tersebut bisa saja cepat habis.
“Kalau saya lihat di lapangan, Minyakita memang sangat sedikit beredar. Kalaupun ada, biasanya dari distributor lain dan harganya sudah lebih tinggi dari HET,” jelasnya.
Bulog sendiri menetapkan harga Minyakita Rp15.400 per liter dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Pihaknya juga mengingatkan pedagang agar tidak menjual di atas harga tersebut.
“Kalau Rp15.700 per liter itu sudah sesuai HET. Kami juga selalu memasang spanduk harga setiap kali penyaluran, meski memang pengawasan setiap hari tidak bisa kami lakukan,” tutupnya. (*)
Reporter: Alvianita
Editor: Ramli








