benuanta.co.id, NUNUKAN – Keterampilan menganyam rotan yang diwariskan secara turun-temurun oleh kaum perempuan di Kecamatan Sebuku kini dilirik sebagai potensi ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Potensi tersebut menjadi fokus penjangkauan yang dilakukan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan bersama Pokja II TP PKK Kabupaten Nunukan di Desa Kunyit dan Desa Sujau.
Kegiatan yang dipimpin Ketua Pokja II TP PKK Kabupaten Nunukan, Mardiana, itu bertujuan menggali sekaligus mendorong pengembangan kerajinan anyaman berbahan baku rotan lokal yang selama ini menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Di kedua desa tersebut, mayoritas perempuan memiliki kemampuan menganyam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Beragam produk rumah tangga dihasilkan dari tangan-tangan terampil para perajin, mulai dari tikar, keranjang, tas, kipas hingga tampi yang memanfaatkan rotan sebagai bahan baku utama.
Mardiana menilai kemampuan menganyam yang dimiliki masyarakat, ditambah ketersediaan bahan baku yang melimpah, merupakan peluang besar untuk dikembangkan menjadi usaha produktif yang bernilai ekonomi.
“Kami melihat potensi anyaman rotan di Desa Kunyit dan Desa Sujau sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Selama ini masyarakat, khususnya kaum perempuan, telah memiliki keterampilan menganyam yang diwariskan secara turun-temurun. Tinggal bagaimana kita mendorong inovasi produk agar mampu menembus pasar yang lebih luas,” ujar Mardiana pada Rabu, (24/6/2026).
Menurutnya, selama ini sebagian besar hasil anyaman masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan belum banyak dipasarkan secara komersial. Karena itu, para perajin didorong untuk mulai berinovasi dengan menghasilkan produk yang lebih modern, praktis, dan sesuai dengan tren pasar.
“Kami berharap para perajin tidak hanya memproduksi kebutuhan rumah tangga tradisional, tetapi juga mulai mengembangkan produk-produk kreatif seperti aksesori, suvenir, dan kerajinan etnik yang diminati pasar. Dengan begitu, keterampilan yang dimiliki masyarakat dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga sekaligus melestarikan budaya lokal,” tambahnya.
Mardiana mencontohkan, rotan tidak hanya dapat diolah menjadi tikar atau keranjang, tetapi juga dikreasikan menjadi berbagai aksesori etnik seperti gelang, cincin, bando, gantungan kunci, hingga produk suvenir khas daerah yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun pasar luar daerah.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, TP PKK, pemerintah desa, dan masyarakat dapat mempercepat pengembangan industri kreatif berbasis kearifan lokal di wilayah Sebuku.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah, TP PKK, pemerintah desa, dan masyarakat sangat penting agar potensi kerajinan rotan ini dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan warga,” tutupnya. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli








