benuanta.co.id, TARAKAN – Kesepakatan kerja sama antara Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBOC) dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan kedua negara. Kebijakan tersebut diyakini dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Ketua Penasihat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Tarakan Koordinator Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Syaiful Anwar, S.E., M.Si., mengungkapkan salah satu substansi penting dalam kerja sama yang dibangun kedua bank sentral adalah terbukanya ruang bagi transaksi perdagangan menggunakan mata uang masing-masing negara.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan memberikan alternatif yang lebih luas bagi pelaku usaha dalam melakukan kegiatan ekspor dan impor.
“Dalam transaksi perdagangan tidak lagi harus menggunakan dolar. Transaksi perdagangan boleh dilakukan dengan uang lokal masing-masing negara,” ungkapnya, Selasa (16/6/2026).
Ia menilai penggunaan mata uang lokal berpotensi memperkuat ketahanan ekonomi kedua negara terhadap gejolak eksternal. Selama ini, sebagian besar transaksi perdagangan internasional masih bergantung pada dolar AS sehingga perubahan nilai tukar dolar sering memengaruhi biaya perdagangan dan aktivitas bisnis lintas negara.
“Transaksi dengan uang lokal dapat membantu mempertahankan nilai tukar kedua negara,” jelasnya.
Menurut Dr. Syaiful, kerja sama tersebut menjadi semakin penting karena melibatkan dua negara dengan kapasitas ekonomi dan jumlah penduduk yang sangat besar. Kondisi itu membuat hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arus perdagangan regional maupun global.
“China nomor satu dan Indonesia nomor empat dari sisi jumlah penduduk. Kalau penduduknya besar berarti pangsa pasar ekonomi dunia dari dua negara ini juga sangat baik,” terangnya.
Ia menambahkan, kebijakan penggunaan mata uang lokal tidak hanya menjadi urusan pemerintah pusat dan bank sentral, tetapi juga perlu dipahami oleh dunia perbankan dan pelaku usaha di daerah. Pemahaman yang baik dinilai akan membantu daerah memanfaatkan peluang yang muncul dari semakin eratnya hubungan ekonomi kedua negara.
“Pihak bank yang ada di daerah harus segera mengakomodir apa yang disepakati oleh Bank Indonesia,” tegasnya.
Dr. Syaiful berharap informasi mengenai kerja sama tersebut dapat disosialisasikan lebih luas agar masyarakat dan pelaku usaha memahami arah kebijakan ekonomi yang sedang dibangun pemerintah. Menurutnya, manfaat kerja sama baru akan terasa apabila seluruh pihak mampu merespons dan menyiapkan diri sejak awal.
“Ini bukan hanya kerja sama jangka pendek, tetapi kerja sama jangka panjang,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








