benuanta.co.id, TARAKAN – Gangguan distribusi air bersih yang terjadi di Tarakan menunjukkan persoalan mendasar pada ketersediaan air baku. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tarakan masih menghadapi keterbatasan sumber air ketika curah hujan menurun karena sebagian sistem penyediaan air bergantung pada tampungan embung.
Direktur PDAM Tarakan, Iwan Setiawan, mengatakan saat ini tiga sumber air baku, yakni Embung Binalatung, Persemayan dan Rawasari, mulai mengalami persoalan. Kondisi paling kritis terjadi di Embung Binalatung. Air di embung tersebut sudah berada di bawah kemampuan pipa hisap sehingga IPA Kampung 1 berkapasitas 60 liter per detik harus dihentikan.
“IPA ini 60 liter per detik kita matikan karena tidak ada air bakunya. Sudah dua hari yang lalu kita matikan,” ujarnya.
Situasi tersebut kemudian berimbas pada penurunan kapasitas produksi PDAM dari sekitar 333–340 liter per detik menjadi hanya 191 liter per detik.
Dirinya mengungkapkan, persoalan ini tidak sepenuhnya terjadi pada seluruh sumber air baku. Embung Indulung dan Bengawan masih relatif aman karena mendapatkan pasokan dari aliran air yang berasal dari kawasan hutan. Begitu pula sumber air di Juwata dan Amal.
“Yang masalah ini tiga embung, Binalatung, Persemaian, Rawasari. Juwata masih aman, Bengawan masih aman, Amal masih aman,” ungkapnya.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan kerentanan sistem air baku Tarakan ketika hujan berkurang. Iwan mengakui, karakter sumber air baku yang mengandalkan tampungan tadah hujan membuat kebutuhan air bersih rentan terganggu ketika musim kering berlangsung.
Ia menyebut solusi jangka panjang yang paling ideal adalah membangun sistem air regional dengan sumber air yang lebih besar, salah satunya dari wilayah Sekatak.
“Yang paling jangka panjang sebenarnya harus ada air regional dari Sekatak misalnya. Tapi biayanya besar itu,” ungkapnya.
Menurutnya, kebutuhan terhadap sumber air regional sebenarnya telah lama disuarakan. Namun, realisasinya membutuhkan investasi besar sehingga belum menjadi solusi yang dapat langsung mengatasi persoalan saat ini.
Di tengah keterbatasan tersebut, PDAM lebih banyak mengandalkan optimalisasi infrastruktur yang sudah ada. Peremajaan pompa di sejumlah embung dan sistem distribusi disebut turut membantu mempertahankan pelayanan.
“Kalau kemarin tidak kita remajakan pompa distribusi maupun pompa di intake, mungkin kita sudah tiga minggu yang lalu, satu bulan yang lalu sudah shutdown,” jelasnya.
Guna memperkuat kapasitas pelayanan, PDAM merencanakan penambahan pompa di Embung Indulung dan Bengawan pada tahun depan.
Di Indulung, satu pompa dengan kapasitas sekitar 200–300 liter per detik direncanakan ditambahkan. Sementara di Bengawan, PDAM akan memisahkan jalur pipa menuju Embung Bengawan dan Persemayan agar pengaturan distribusi lebih mudah, sekaligus menambah satu unit pompa.
Pengadaan tersebut direncanakan menggunakan anggaran mandiri PDAM. Iwan memperkirakan kebutuhan satu pompa berkapasitas sekitar 150 liter per detik berada di kisaran Rp1 miliar hingga Rp2 miliar.
“Anggaran mandiri. Mau minta sama pemerintah, kasihan juga kondisi sekarang ini. Kita pikir diri masing-masing, tidak memberatkan pemerintah,” terangnya.
Sementara itu, rencana penambahan embung berada di ranah Balai Wilayah Sungai (BWS). Ia menyebut pembangunan sumber tampungan baru di kawasan Sungai Maya, berdasarkan informasi yang diterimanya, ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
Namun, selama sumber air alternatif berkapasitas besar belum terealisasi, Tarakan masih harus menghadapi risiko yang sama setiap kali pasokan air baku dari embung menurun.
PDAM pun kini mengambil langkah jangka pendek dengan menerapkan penggiliran distribusi kepada pelanggan terdampak serta menyiapkan bantuan air melalui mobil tangki bagi wilayah yang benar-benar tidak mendapatkan aliran. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







