Fenomena LGBT di Tarakan Dinilai Perlu Pendekatan Keluarga dan Edukasi

benuanta.co.id, TARAKAN – Perbincangan mengenai fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Tarakan terus menjadi perhatian dari berbagai kalangan. Setelah muncul dorongan agar pemerintah menyusun regulasi, kini pendekatan psikologis dinilai tak kalah penting sebagai upaya memahami persoalan secara menyeluruh, khususnya ketika isu tersebut melibatkan remaja usia sekolah.

Psikolog sekaligus Konselor HIV Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Indah Wahyuni, S.Keb, mengungkapkan perilaku seseorang tidak dapat dijelaskan hanya dari satu faktor. Menurutnya, terdapat berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari kondisi individu hingga pengaruh lingkungan sosial yang membentuk perkembangan psikologis seseorang.

Baca Juga :  Hypermart Buka 42 Lowongan Kerja di Job Fair Tarakan 2026

“Kalau dari sisi psikologis, itu bisa muncul dari diri sendiri dan juga dari lingkungan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan lingkungan pergaulan menjadi salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar, terutama pada masa remaja yang sedang berada dalam proses pencarian jati diri. Tanpa pengawasan dan pendampingan yang memadai, pengaruh dari teman sebaya dapat membentuk pola pikir maupun perilaku anak.

“Lingkungan itu bagian yang sangat berpengaruh, apalagi kalau pengawasan dari keluarga kurang,” jelasnya.

Menurut Indah, keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Peran orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap perkembangan emosional serta aktivitas sehari-hari anak.

Baca Juga :  Cekcok Soal Pekerjaan, Mandor Tikam Buruh Proyek Sekolah Rakyat di Tarakan

“Pola asuh orang tua sangat berpengaruh, jadi orang tua harus tetap memantau anak-anaknya,” tegasnya.

Ia menambahkan kondisi tertentu dalam lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak. Dinamika yang terjadi di dalam rumah tangga, termasuk pola interaksi antaranggota keluarga, perlu menjadi perhatian karena dapat memberikan dampak terhadap pembentukan karakter remaja.

“Misalnya dia satu-satunya anak laki-laki sementara kakak atau adiknya perempuan semua, itu juga bisa berpengaruh,” tambahnya.

Selain faktor keluarga dan lingkungan, Indah menilai penguatan nilai-nilai keimanan juga memiliki peran penting sebagai bagian dari pembentukan karakter anak. Menurutnya, nilai spiritual dapat membantu anak memiliki kontrol diri yang lebih baik ketika menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan sosial.

Baca Juga :  Parah! Kasus Begal di Gunung Selatan Rupanya Laporan Palsu, Polisi Dalami Motifnya

“Keimanan juga harus diperkuat, karena itu bagian dari pembentukan karakter dan kontrol diri anak,” ujarnya.

Indah berharap pembahasan mengenai fenomena LGBT tidak berhenti pada polemik semata, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat edukasi, meningkatkan peran keluarga, sekolah, serta membangun kolaborasi berbagai pihak dalam mendampingi anak dan remaja.

“Intinya semua pihak harus ikut berperan agar anak-anak terlindungi dari risiko kesehatan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *