Dialog Kebudayaan Kaltara Dorong Lahirnya Kampus Budaya

benuanta.co.id, TARAKAN – Gagasan pembentukan kampus atau fakultas budaya di Kalimantan Utara menjadi fokus utama dalam Dialog Kebudayaan bertema “Urgensi Kampus/Fakultas Budaya di Kalimantan Utara” yang digelar Yayasan Sejarah dan Budaya Kalimantan Utara (YSBKU) di Aula Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (24/6/2026). Forum tersebut mempertemukan akademisi, tokoh adat, budayawan, pemerintah, mahasiswa, hingga komunitas budaya untuk membahas kebutuhan menghadirkan lembaga pendidikan tinggi yang secara khusus mengembangkan ilmu kebudayaan.

Kegiatan yang diinisiasi YSBKU itu lahir dari keprihatinan terhadap belum adanya institusi pendidikan tinggi di Kalimantan Utara yang fokus pada kajian sejarah, budaya, antropologi, arkeologi, maupun seni. Ketua YSBKU, Joko Supriyadi, menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian karena Kaltara memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan beragam.

“Kami ingin menghimpun berbagai pandangan dan gagasan dari akademisi, budayawan, pemerintah, mahasiswa, serta masyarakat agar lahir rekomendasi yang dapat menjadi dasar pembentukan kampus atau fakultas budaya di Kalimantan Utara,” ungkapnya.

Menurut Joko, keberadaan lembaga pendidikan berbasis kebudayaan menjadi kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi. Berbagai warisan budaya seperti bahasa daerah, tradisi lisan, pengetahuan adat, hingga nilai-nilai lokal dinilai membutuhkan upaya pelestarian yang lebih terstruktur melalui pendidikan dan penelitian.

Baca Juga :  Disdukcapil Kaltara Bakal Fasilitasi Dokumen Adminduk bagi 500 Personel YonTP dan Keluarga di Tana Tidung

“Kalimantan Utara memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Karena itu, kita memerlukan lembaga yang mampu menjadi pusat kajian, penelitian, dokumentasi, pelestarian, sekaligus pengembangan budaya daerah secara berkelanjutan,” katanya.

Urgensi pembentukan program pendidikan budaya juga mengemuka dalam sesi dialog yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan. Sejumlah peserta menilai pendidikan tinggi dapat menjadi instrumen penting untuk memastikan warisan budaya tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga terdokumentasi dan dikembangkan secara akademis.

“Hal ini penting untuk melestarikan kebudayaan kita yang ada di Kalimantan Utara,” imbuhnya.

Selain membahas peluang pendirian kampus budaya, dialog tersebut juga menjadi forum untuk merumuskan rekomendasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan kebudayaan di Kalimantan Utara.

Baca Juga :  YSBKU Dorong Pembentukan Kampus Budaya Melalui Dialog Kebudayaan

“Kami berharap forum ini melahirkan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti secara nyata,” tuturnya.

Menurut Joko, keberadaan kampus atau fakultas budaya tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga berperan dalam menjaga identitas daerah, memperkuat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, serta meningkatkan daya saing Kaltara sebagai wilayah perbatasan.

“Pembentukan kampus budaya adalah investasi jangka panjang untuk pelestarian budaya dan masa depan daerah,” tegasnya.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga adat, budayawan, dan masyarakat dapat mendorong terwujudnya gagasan tersebut menjadi langkah konkret. “Kami ingin kampus atau fakultas budaya menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Utara,” tukasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H., mengatakan kebutuhan akan ruang akademik yang fokus pada kebudayaan memang semakin terasa. Namun, menurutnya, pembentukan fakultas baru memerlukan sejumlah persyaratan yang tidak sederhana, mulai dari ketersediaan dosen hingga dukungan sarana dan prasarana.

“Yang paling memungkinkan saat ini adalah program studi budaya. Tetapi itu masih terus kami kaji, termasuk kebutuhan tenaga pengajar dan dukungan lainnya,” ujarnya.

Baca Juga :  Persyaratan Ekspor Perikanan Dinilai Memberatkan Pelaku Usaha, Ombudsman Kaltara Dorong Revisi Regulasi 

Ia menjelaskan bahwa saat ini UBT masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia untuk mendukung pembentukan program studi tersebut. Karena itu, berbagai persiapan perlu dilakukan agar pengembangan pendidikan budaya dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Minimal harus ada lima dosen yang fokus di bidang budaya, sementara saat ini kami baru memiliki tiga orang,” bebernya.

Dukungan terhadap penguatan pendidikan budaya juga datang dari kalangan adat. Ketua Adat Besar Dayak Bulusu Provinsi Kaltara, Ignasius Rudi Yungop, menilai kajian akademik sangat diperlukan agar berbagai kearifan lokal tidak hilang ditelan zaman. Menurutnya, budaya harus didokumentasikan secara ilmiah sehingga dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

“Jangan sampai budaya ini hanya menjadi cerita-cerita rakyat. Harapannya, hasil kajian itu nanti bisa menjadi buku tertulis yang menjadi acuan bagi anak-anak dan cucu kita ke depan,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *