Kisah Perawat Pasien Gangguan Jiwa di Ruang Teratai “Saya Tidak Sakit” (Part I)

14 tahun sudah Ipung Jatmiko mengabdikan diri sebagai perawat pasien dengan gangguan kejiwaan di RSUD Tarakan yang kini berganti nama RSUD H. dr. Jusuf SK. Ipung memilih pekerjaannya sebagai perawat karena niat dan tekadnya mengabdikan diri untuk urusan sosial kemanusiaan.

Penulis: Endah Agustina

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1901 votes

Tak semua orang mau mengurusi orang dengan gangguan jiwa, Ipung dihadapkan dengan pasien-pasien yang mengalami kelainan kejiwaan di RSUD dr H JSK. Umumnya, Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) cenderung agresif, stigma itulah yang membuat publik takut dan tak mau mendekat dengan orang yang sedang terganggu jiwanya.

Di rumah sakit tempat Ipung bekerja, ia duduk di posisi Ketua Tim (Katim) penanganan pasien jiwa. Setiap pagi, sebelum pukul 07.00 WITA, saat pergantian shift dari malam ke pagi dimulai, ia absen sidik jari terlebih dahulu. Beruntung, Ipung tak pernah kena shift malam. Sehingga ia hanya merawat pasien dari pagi sampai sore saja. Setelah itu, ia berjalan menuju lorong belakang rumah sakit. Untuk menuju ruangan pasien jiwa, ini memang sedikit sepi karena berada di bagian belakang rumah sakit.

Pada lorong belakang rumah sakit, berjalan tak sampai 10 meter ada 2 ruang perawatan di sebelah kiri, Teratai A dan B. Kebetulan, Ipung dinas di instalasi rawat inap Unit Pelayanan Intensif Psikiatrik (UPIP) Teratai A. Ruangan itu dihuni oleh pasien jiwa dengan gangguan kejiwaan yang kronis. Sedangkan ruangan Teratai B untuk pasien jiwa yang bisa dikatakan sudah pulih. Ipung pun berjalan sekitar 2 menit seorang diri, tak ada satu perawat atau seseorang yang melintas di lorong itu.

Setelah tiba di rungan, ia meletakkan barang-barangnya di meja miliknya. Sambil menunggu pengantar sarapan tiba, ia menekan tombol on pada CPU dan mulai mengutak-atik komputer di mejanya. Kemudian ia mengecek beberapa berkas yang ada di mejanya. Itu sudah menjadi kebiasaannya setiap pagi agar tak ada data atau informasi yang terlewat. Sesekali, ia juga mengintip lorong UPIP untuk memastikan perawat yang masih on shift mengarahkan pasien untuk mandi. Biasanya, ini selalu dilakukan sebelum waktu pasien sarapan sekitar pukul 06.00 WITA.

Pengantar makanan tiba tepat pukul 07.00 WITA, ia bersama perawat lainnya memastikan makanan yang diantar pas sesuai jumlah pasien. Setelah itu, ia membalikkan badan dan menuju tempat kunci-kunci ruangan yang digantung sebelumnya oleh perawat shift malam. Ia mengambil beberapa kunci untuk membuka pagar besi di UPIP.

Pintu di UPIP memang sengaja dirancang berpagar besi dan dikunci dengan gembok besi. Karena pasien tak bisa dibiarkan bebas di luar lantaran khawatirnya akan berkeliaran dan mengganggu pengunjung rumah sakit lainnya.

‘Klutak-klutak’ bunyi khas saat ada petugas yang membuka kunci di pagar utama ruang perawatan. Ipung bersama perawat lainnya mulai masuk lorong dengan membawa sarapan pasien. Ia pun membuka kembali kunci di sebuah ruangan inap. Dalam bilik itu terdapat 10 ranjang yang disebut dengan ruangan intensif 2 dan 3. Mayoritas dihuni oleh pasien berjenis kelamin laki-laki. Rentang usianya beragam dan masih dalam usia produktif.

Sarapan yang dibawa pun diterima oleh pasien. Ipung pun kembali ke ruangannya dan kembali mengunci ruangan intensif. Sembari menunggu pasien sarapan, ia menyiapkan obat yang sudah diklasifikasikan sebelumnya oleh dokter spesialis jiwa. Tugas Ipung hanya mendistribusikan obat saja.

Memasuki pukul 09.00 WITA, ia memasuki kembali ruangan intensif dan pasien jiwa diberikan obat sesuai dengan tingkat gangguan jiwanya. Saat inilah, ia harus berperang dengan nalurinya sendiri untuk mengendalikan emosi. Baginya, penanganan pasien jiwa berbeda dengan pasien lainnya. Kesabaran extra harus diperlukan. Setiap Ipung memberikan obat, tak jarang ada pasien yang berteriak dan bersikeras menolak.

“Saya tidak sakit,” ujar Ipung sembari menirukan suara pasien jiwa yang enggan diberi obat.

Drama pemberian obat tak berhenti disitu. Bukannya ucapan terimakasih dari pasien, terkadang Ipung dengan beberapa perawat lain menerima perlakuan kasar dari beberapa pasien jiwa seperti diludahi, dipukul, dilempar makanan bahkan dilempar oleh kotoran. Tapi, lagi-lagi ia tak pernah sedikitpun marah atau membalas perlakuan pasien.

Dengan keteguhan hati, Ipung bersama perawat lainnya membujuk pasien dengan iming-iming nanti akan beri makan, atau diperbolehkan keluar ruangan. Hanya itu saja yang bisa yang berikan untuk meluluhkan hati pasiennya. Aturannya, obat yang diberikan memang harus diminum untuk membantu kesembuhan pasien. Mau tidak mau, jika diperlukan paksaan dalam memberikan pasien
obat hal itu juga akan dilakukan oleh perawat.

“Lain halnya dengan pasien yang sudah bisa pulang, itu mereka kami biasakan memilih obatnya sendiri. Obatnya juga kami pisahkan dengan yang lain,” kata Ipung.

Setelah minum obat, pasien jiwa diberikan waktu bebas. Ipung sengaja tak mengunci pagar besi UPIP, jadi pasien dengan bebasnya bisa beraktivitas di luar ruangan perawatan, namun akses utama UPIP tetap dikunci agar pasien tak keluar lingkungan UPIP. Biasanya, waktu bebas ini diberikan setiap jam 08.00 – 12.00 WITA. Saat memasuki waktu bebas, aktivitas kantor di ruangannya menjadi ramai. Kadang, ia dihampiri pasien jiwa yang sekedar meminta rokok atau uang Rp 2 ribu. Atau, pasien jiwa mondar mandir di ruangannya dan berdiri dengan tatapan kosong. Maklum saja, kantor Ipung dengan ruangan intensif berada di gedung yang sama dan hanya dipisahkan pagar besi.

Ya, kejadian itu sudah bukan hal yang tabu lagi dan sudah biasa dihadapi oleh Ipung dan rekan-rekan perawatnya. Waktu bebas ini, juga diselingi setiap paginya dengan jadwal terapi yang beda-beda. Misalnya pada hari Senin pagi, terapi yang diberikan adalah kebersihan lingkungan, Selasa terapi berkebun dan kognitif, Rabu terapi dengan menjemur kasur dan audio, Kamis terapi survey kebersihan dan kognitif, Jumat terapi senam, spiritual dan lainnya hingga berlanjut sampai Minggu. Saat mulai mengajak pasien terapi, Ipung melihat dahulu layar monitor atau lembaran kertas yang berisi data progress pasien dari hari ke hari. Jika pasien menunjukan progress yang positif, maka akan diikutkan dalam terapi. Jika tidak terdapat progress atau belum bisa bersosialisasi dengan normal maka tak akan diikutkan dalam terapi.

Biasanya ia memilih pasien untuk terapi berkebun, karena terdapat alat-alat berkebun yang turut diberikan ke pasien. Khawatir, jika pasien tak dipilah, itu malah melukai perawat atau orang sekitar saat memegang peralatan berkebun. Lain halnya dengan terapi senam yang dilakukan setiap Jumat, seluruh pasien dapat mengikuti asalkan pasien tersebut tidak dalam kondisi lemah fisik.

“Kita pilih pasien yang tidak ada riwayat kekerasan dan kooperatif untuk berkebun, kalau terapi kognitif kita pilih pasien yang pikirannya baik. Terkadang juga kalau kita terapi spiritual itu ada pasien yang merasa dirinya ustad, kadang kita itu perawat dimarahin,” sebutnya.

Setelah waktu bebas dan terapi selesai, seperti biasa, ia dan perawat lain menunggu pengantar makan siang untuk diberikan ke pasien. Keseluruhan pasien sebelumnya sudah diarahkan masuk ruangan untuk makan. Ia pun memperhatikan pasiennya yang malang satu persatu dan melihat betapa lahapnya menelan makanan. Setelah makan siang, waktunya memberikan waktu tidur siang yang dimulai jam 12.00 – 16.00 WITA. Ipung pun meminta perawat untuk langsung mengunci pagar besi ruangan instalasi UPIP karena pasien wajib tidur siang. Lagi-lagi, saat masuk waktu tidur siang, pasien sering dilaporkan susah tidur sehingga ia bergegas untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis agar diberikan obat tidur. Pasien dengan masa penyembuhan jiwa, tidur adalah hal yang penting. Dalam teori kejiwaan, tidur merupakan pondasi untuk menjaga kestabilan mood, emosi dan pikiran seseorang.

Tak mudah, Ipung dan perawat lainnya terkadang harus sampai melakukan tindakan fiksasi atau mengikat pasien yang memberontak. Fiksasi biasanya ia lakukan terhadap pasien jiwa dengan tingkat amukan yang tinggi, ia dan perawat lainnya terpaksa membatasi gerak pasien supaya tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tapi, fiksasi tidak akan membuat pasien sakit, karena di dalam tali ikatan terdapat spons yang tak melukai bagian tubuh pasien. Ia pun segera memisahkan pasien yang mengamuk ke ruangan khusus atau intensif 1 sembari memberikan obat penenang.

Setelah menunggu 15 sampai 30 menit, begitu pasien tenang, perawat akan langsung membuka ikatan dan membiarkan pasien terlelap. Memasuki jam istirahat, ia harus bergantian makan dan sholat dengan perawat lainnya, lantaran pasien jiwa tak bisa ditinggalkan begitu saja. Pernah seketika, hanya ia dan dua orang rekannya yang berjaga, terdengar suara amukan pasien dan hentakan benda tajam seperti besi dari dalam bilik ruangan intensif. Dengan sesegera mungkin ia bersama rekannya mengatasi pasien tersebut dengan tak melukai sedikitpun. Biasanya dengan cara dibujuk, atau benda yang berbahaya ditukar dengan makanan.

Padahal SOP dalam menangani pasien jiwa juga harus mempertimbangkan keselamatan perawat.

“Kita ada pintu emergency. Seandainya kalau pasien ini misal bawa besi, kalau kami hadapi sendiri pasti kalah kan. Nah itu bisa perawat lewat pintu emergency. Tapi sejauh ini bisa kami hadapi semuanya,” tukas Ipung.

Selain ruang intensif 2 dan 3, terdapat ruang intensif 1 yang digunakan untuk fiksasi dan mengurung pasien dengan amukan tinggi. Saat ini, kondisi ruang intensif di Teratai A penuh dengan jumlah 8 pasien yang terbagi, intensif 1 2 orang, intensif 2 empat orang dan intensif 3 empat orang. Ipung cukup prihatin melihat pasien jiwa yang saat ini dianggap sebagai manusia paling tidak diinginkan, baik di lingkungan sosial maupun keluarganya sendiri. Pasien jiwa dianggap lebih menakutkan dibandingkan pasien yang mengidap penyakit lainnya. Bahkan Ipung pernah menerima permintaan dari keluarga untuk menyuntik mati pasien jiwa yang sudah dikategorikan sembuh.(rm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *