Festival Literasi Kaltara Tumbuhkan Minat Baca Masyarakat

TANJUNG SELOR – Festival Literasi menjadi salah satu program Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) tahun 2023.

Kegiatan tersebut dihelat di Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan (2/12/2023) kemarin.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Kalimantan Utara, Yosua Batara Payangan mengatakan, Festival Literasi merupakan salah satu solusi dalam pemecahan masalah rendahnya keinginan atau tingkat emosional seseorang terhadap pentingnya literasi informasi.

Pihaknya berupaya menstimulasi keinginan masyarakat untuk aktif mencari, memahami, mengevaluasi secara kritis, dan mengelola informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat untuk pengembangan kehidupan pribadi dan sosialnya.

Lanjut dia, untuk meningkatkan Literasi informasi, pemerintah memang harus mengambil bagian, yaitu menyediakan dan memfasilitasi sistem pelayanan pendidikan sesuai Pasal 31 Ayat 1 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 31 yang menyebut bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

“Tentunya bukan hanya sekedar mendapatkan pendidikan saja, namun tentunya pendidikan yang berkualitas, yang bisa didapat bukan hanya dari pendidikan formal, tetapi dapat juga diperoleh dari perpustakaan,” katanya, Ahad (3/12/2023).

Sesuai dengan amanah tersebut, ia mengatakan DPK Kaltara secara perlahan telah mewujudkan. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas layanan perpustakaan dengan gedung megah yang menunjukan komitmen kesungguhan dalam mengembangkan budaya literasi.

Kemudian, dengan adanya program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan bahkan sampai dengan desa/kelurahan. Kehadiran Bunda Literasi juga dinilai sangat membantu dalam pengembangan perpustakaan dan pengembangan literasi pada masyarakat.

“Alhamdulillah kita punya Bunda Literasi yang sangat aktif, Ibu Rachmawati, beliau sangat aktif, banyak sekali kegiatan beliau dalam meningkatkan literasi masyarakat di Provinsi Kaltara,” katanya.

Dirinya berupaya agar transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat menjadikan perpustakaan bukan hanya tempat membaca dan meminjam buku. Namun perpustakaan juga merupakan tempat terbuka sebagai sarana belajar sepanjang hayat, pusat kreatifitas, berbagai kegiatan dapat dilaksanakan di perpustakaan dengan melibatkan masyarakat.

Dikatakan, melalui kegiatan ini dapat mendorong dan meningkatkan minat baca dan kebiasaan membaca di perpustakaan agar tercipta masyarakat yang berbudaya membaca. Yakni dengan menggunakan koleksi perpustakaan semaksimalnya dan menambah jumlah orang yang membaca.

Kemudian memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat pemakai; menumbuhkan kesadaran membaca sampai tindakan untuk memanfaatkan keberadaan perpustakaan di masyarakat; serta menggerakkan dan menumbuh kembangkan minat baca anak-anak secara berkelanjutan dimulai dari sejak usia dini dalam rangka percepatan untuk memenuhi daya saing bangsa menuju generasi emas Indonesia.

“Dengan membaca, kita bisa mendapatkan wawasan yang luas termasuk informasi dari seluruh dunia yang awalnya kita tidak tahu. Dengan membaca pula kita dapat memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik lagi,” sebutnya.

Membaca, lanjutnya, menjadikan seseorang, khususnya generasi muda seperti pelajar menjadi individu yang kreatif, inovatif, pandai dan cinta serta bangga terhadap budaya membaca.(adv)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *