Dua Mantan Napiter Bom Bali II Ngajar Ngaji di Kaltara, Dandim 0914/TNT: Tetap Kami Pantau

benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Menjadi tempat perantauan mantan narapidana kasus teroris (Napiter) bom Bali II, ternyata tak membuat Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) berpotensi jadi sarang teroris.

Diketahui saat ini dua mantan Napiter bom Bali II, telah menetap di salah satu kabupaten di Provinsi Kaltara.

Hal ini turut dibenarkan oleh Komandan Kodim 0914/TNT, Letkol Inof Kresna Santy Dharma yang mengatakan dua napiter yang dimaksud itu sudah sejak lama menetap di Kaltara.

“Memang betul informasinya dan mereka sebenarnya sudah sejak lama menetap di Kaltara, bahkan sebelum saya ditugaskan di sini,” kata Dandim 0914/KTT, saat dihubungi benuanta.co.id, pada Selasa, 3 Desember 2022.

Anggota TNI berpangkat melati dua itu menyebut, pihaknya selalu melakukan tindak pengawasan terhadap akivitas sehari-hari kedua Napiter yang diketahui rutin mengajarkan ngaji kepada anak-anak.

“Artinya, meski sudah berstatus sebagai mantan Napi dan mereka sudah bersumpah untuk setia terhadap NKRI. Namun bukan berarti kita tidak melakukan tindak pengawasan dan pencegahan. Apalagi hal ini juga berkaitan dengan ideologi yang pernah mereka yakini. Jadi tentu akan kita awasi terus,” ujarnya.

Ia membeberkan dua mantan Napi terorisme itu, sebelumnya juga pernah tampil secara terbuka pada upacara HUT Kemerdekaan RI. Dimana mereka diminta untuk mengikharkan sumpah setia kepada NKRI.

“Pengakuan keduanya, mereka sudah bersumpah untuk setia kepada NKRI. Tapi saya juga mohon maaf karena tetap harus melakukan tindak pengawasaan terhadap mereka,” bebernya.

Meski harus melakukan tindak pengawasan, namun bukan berarti pihaknya ataupun masyarakat harus mengucilkan kedua mantan Napi itu.

Menurutnya penerimaan kembali di lingkungan masyarakat juga diperlukan, agar kedua mantan Napiter itu dapat hidup normal dan tidak kembali menjadi teroris.

“Memang pengakuan keduanya ini, mereka pernah berhubungan dengan Nordin M. Top dan dr. Azhari yang merupakan teroris yang paling dicari di Indonesia,” lanjutnya lagi.

“Tapi kita juga tidak boleh mengucilkan mereka, karena pengucilan itulah yang sangat membahayakan dan bisa membuat pagam radikalisme mereka kembali dan sejauh dari pengawasan yang kita lakukan selama ini. Mereka terlihat hidup normal seperti masyarakat umum lainnya,” pungkasnya. (*/bn1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *