oleh

KKMB Tarakan Dibiarkan Rusak?

KAWASAN Konservasi Mangrove dan Bekatan (KKMB) Kalimantan Utara (Kaltara) yang terletak di Tarakan kini dalam keadaan tak terawat dan banyak fasilitas di dalamnya yang mengalami kerusakan. Salah satu tempat wisata kebanggan warga Kaltara itu tak lagi diminati warga lantaran kondisinya yang memprihatinkan. Bahkan fasilitas penunjang di dalam KKMB banyak yang dengan sengaja dirusak oknum yang tidak bertanggungjawab.

BAGI warga Tarakan, KKMB merupakan salah satu tempat wisata yang patut dikunjungi bersama keluarga saat hari libur maupun akhir pekan. Namun begitu, KKMB kini tak lagi seperti sediakala yang setiap waktu diminati wisatawan lokal maupun mancanegara. Setelah diambil alih Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara pada 2019 lalu, KKMB Tarakan berangsur menurun lantaran kurangnya perhatian Pemprov Kaltara.

KKMB Tarakan merupakan salah satu destinasi wisata yang terbilang cukup diminati. Setiap kali ada kujungan wisatawan mancanegara atau pejabat negara tetangga di Tarakan, KKMB selalu menjadi objek wisata yang paling sering dikunjungi. Lokasi wisata mangrove dan konservasi bekantan tersebut diresmikan Jusuf SK tahun 2003 saat masih menjabat sebagai Walikota Tarakan. Selain dihuni bekantan, kawasan mangrove 22 ha itu juga dihuni beberapa binatang lainnya seperti elang hingga ditunjang beberapa fasilitas lainnya.

Sejak 2003 hingga 2021, KKMB Tarakan yang menyimpan banyak habitat dan ragam jenis pepohonan air asin itu nampak dimakan zaman. Jembatan yang terbuat dari kayu berlumut dan sebagiannya lagi dibiarkan porak-poranda lapuk karena jabuk. Fasulitas penunjang hingga kandang burung elang dibiarkan rusak, bahkan ada beberapa fasilitas yang sengaja dirusak dan kayunya dicuri oknum yang tidak bertanggung jawab.

Penelusuran Koran Benuanta, sebagian fasilitas KKMB Tarakan rusak parah dan nampak sekali dibiarkan rusak tanpa ada perhatian terhadap fasilitas-fasilitas tersebut. Wisatawan yang datang tak lagi bisa menggunakan seluruh fasilitas yang ada, seperti kursi kayu yang fungsinya tempat rehat wisatawan, kini tak lagi bisa digunakan karena rusak. Jembatan penghubung di KKMB banyak yang rusak hingga tak dapat dilalui lagi. Terlebih kandang satwa lainnya yang juga dibiarkan rusak. Begitu juga dengan toilet yang berada di dalam KKMB Tarakan, tak ada aliran air dan sebagian lainnya dikunci karena tak lagi difungsikan.

Selain hari libur, KKMB Tarakan tetap buka seperti biasanya dan pengunjung masih terlihat namun tak ramai. Rata-rata, pengunjung di hari biasa kebanyakan muda-mudi yang memadu asmara di beberapa bagian KKMB Tarakan yang sunyi dari lalu – lalang. Tak jarang didapati sepasang kekasih sedang asyik melakukan aksi yang tak senonoh di KKMB Tarakan.

Baca Juga :  Pendidikan dan Keluarga Jadi Solusi Jitu Jauhkan Anak dari Minol

“Saya sering dapati orang pacaran, bahkan berani ciuman kalau nggak ada yang lihat. Kan saya sering juga lewat sini, jalan pintas saya kalau mau ke pasar (Ghuser),” terang Ardi salah seorang warga yang dijumpai Koran Benuanta.

Menurut Ardi, fasilitas KKMB Tarakan bukan rusak dengan sendirinya melainkan sengaja dirusak dan kayu-kayu yang terbilang masih bagus diambil. Seperti yang terdapat di jembatas semenisasi di dalam KKMB Tarakan, sisi jembatan yang berfungsi sebagai pagar yang terbuat dari beton rusak total. Pagar beton yang dapdukan dengan kayu tersebut nampaknya sengaja dirusak menggunakan hammer puluhan kilo. Kayu – kayu di pagar beton tersebut juga hilang dan sebagian lainnya sengaja dipotong. Kayu di sepanjang jembatan tersebut hilang dan hanya menyisakan beberapa potongan.

“Saya tidak pernah melihat langsung mungkin saja mereka (rusak) malam jadi tidak ada yang lihat. Selama saya sering lewat kadang heran juga kok makin banyak yang rusak. Memang ada sudah yang rusak tapi tidak sebanyak begini,” tuturnya.

Heri, salah seorang warga Tarakan yang saat itu berkunjung ke KKMB mengaku prihatin terhadap keadaan KKMB Tarakan. Sebagai seorang wisatawan lokal, dirinya tak merasa puas dengan fasilitas yang terbengkalai bahkan tak ada perbaikan dari pemerintah. Hal itu sudah diperhatikannya sejak lama, lantaran hampir setiap akhir pekan ia datang bersama keluarganya.

“Kita nggak bilang ini jelek lah ya, tapi kalau keadaanya begini siapa juga yang tidak prihatin. Secara kan KKMB ini tempat wisata favoritnya orang Tarakan, kasihan lah liat keadaannya begini,” tukasnya.

Mengenai kerusakan fasilitas di KKMB Tarakan, kata Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Pemprov Kaltara, Lasty, MM. par, kerusakan merupakan sesuatu yang pasti terjadi. Apalagi kondisi lingkungan yang lembab dan di luar ruangan, tentu akan berakibat kelapukan pada material kayu. Dinas Pariwisata Kaltara telah mengalokasikan dana untuk rehabilitasi KKMB setiap tahunnya selama 3 tahun terakhir.

Baca Juga :  Remaja, Minol, dan Kedok Nongki

“Saya rasa yang paling penting untuk diperbaiki adalah mindset. Sarana dan prasarana dapat dikembangkan dan diperbaiki. Namun selama masyarakat masih berpikir bahwa KKMB bukanlah milik mereka, bukan suatu kekayaan alam yang perlu mereka jaga, ya mereka bakal acuh, buang sampah sembarangan, atau sama sekali tidak peduli,” ungkapnya.

Upaya Dinas Pariwisata Kaltara dalam menggenjot minta wisatawan datang ke KKMB dikatakan Lasty, pariwisata di Kaltara merupakan wisata minat khusus sehingga pihaknya tidak mengejar jumlah, melainkan kualitas dari wisatawan. Hal ini penting terutama di tengah kondisi pandemi seperti saat ini disaat kita dianjurkan untuk menjauhi kerumunan dan tinggal di rumah. Wisata minat khusus yang memberi nilai edukasi serta bermanfaat bagi upaya konservasi di KKMB akan sangat membantu.

“Untuk fasilitas penunjang yang diperlukan, telah kami rincikan dalam dokumen perencanaan dan masterplan yang kami susun tahun 2020 lalu.

Di dalam KKMB ini terdapat hewan bekantan dan mangrove adalah jenis binatang endemik yang perlu dilindungi, namun keberadaan mereka tentu tidak bisa lepas dari ekosistem yang ada di dalam kawasan tersebut. Maka semua flora dan fauna yang ada di dalam perlu untuk dijaga keberadaannya. Kemudian keberadaan KKMB juga sangat penting karena merupakan salah satu objek daya tarik di salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Daerah yang berada dalam Daerah Pembangunan Pariwisata Nasional.

“Kami mengikuti paradigma pariwisata modern yang mengedepankan kualitas wisatawan. Hingga kami berharap agar KKMB bukan menjadi lahan pemeras retribusi bagi wisatawan yang datang melainkan sebuah wahana edukasi bagi mereka yang ingin belajar tentang kehidupan bekantan dan ekosistem mangrove serta menjadi sebuah cara untuk dapat melestarikan keberagaman hayati yang ada di dalamnya,” pungkasnya.

Lanjut dia, sektor pariwisata adalah sektor yang multidimensional. Pembangunan sektor ini harus melibatkan berbagai pihak, dari pemerintah, daerah, desa, masyarakat, dan swasta. Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara sebagai pemerintah daerah berusaha mensinergikan promosi pariwisata, pengembangan destinasi pariwisata, serta peningkatan kualitas SDM Pariwisata untuk pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara tahun 2018-2025, Dinas Pariwisata berusaha mengoptimalkan potensi kekayaan alam dan budaya yang ada untuk menarik wisatawan dengan minat khusus baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga :  Masih Banyak Tempat Usaha yang Belum Patuh Perizinan Minol

Wisata minat khusus adalah jenis wisata yang mengedepankan nilai. Jadi sasaran dari jenis pariwisata ini adalah kualitas wisatawan, bukan kuantitasnya. Kemudian Kalimantan Utara kaya dengan potensi daya tarik wisata, baik alam, budaya, maupun buatan. Namun masih ada berbagai hambatan dalam pengembangannya.

“Banyak hal perlu dibenahi ke depannya dan pembenahan ini  merupakan suatu usaha yang harus dilakukan secara multi-sektoral, aksesibilitas, atraksi, dan amenitas,” ungkap Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Pemprov Kaltara, Lasty, MM. par.

Menurutnya, dalam skala pembangunan pariwisata nasional, Kaltara memiliki Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), yaitu Kayan Mentarang. Kayan Mentarang sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai suatu destinasi pariwisata berskala internasional karena memiliki kekayaan alam dan budaya yang unik. Selain itu juga terdapat satu Daerah Pembangunan Pariwisata di Tarakan dan sekitarnya yang merupakan terminal penghubung antara dua KSPN (Kayan Mentarang dan Derawan).

“Dalam skala provinsi, setiap kabupaten dan kota yang ada di Kalimantan Utara memiliki daya tarik wisata masing-masing. Dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah kami telah menelaah daya tarik tiap kabupaten dan memetakannya dalam kawasan strategis yang akan kami kembangkan,” jelasnya.

Berbicara soal potensi objek wisata di Tarakan karena merupakan kota terbesar di provinsi, juga merupakan Daerah Pengembangan Pariwisata Nasional, merupakan lokasi yang penting bagi pariwisata di Kaltara. Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan di Tarakan merupakan salah satu objek daya tarik wisata unggulan dan telah dipetakan dalam satu Kawasan Strategis Pariwisata Daerah.

Pengalihan kepengelolaan dari Kota ke Provinsi merupakan bentuk kepatuhan terhadap Undang – Undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mana mengatur kewajiban provinsi untuk mengelola aset terkait konservasi dan pelestarian alam. Oleh sebab itu, selama dalam pengelolaan provinsi, aspek yang ditekankan adalah konservasi terhadap kekayaan alam dan keanekaragaman yang ada di kawasan tersebut.

“Adapun terkait pengembangan pariwisata, kami telah berkordinasi dengan Dinas Kehutanan selaku Pengelola utama untuk melakukan perbaikan pada sarana dan prasarana serta meningkatan objek daya tarik di sekitar kawasan. Pengembangan lebih besar telah kami rencanakan dengan adanya perencanaan dan masterplan yang kami susun tahun 2020 lalu,” ujarnya. (ram/nik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed