oleh

Belasan Tahun Terisolir, TNI Wujudkan Impian Warga Bangun Jalan 1.100 Meter

PROGRAM TMMD KE-109 KODIM 0907/TARAKAN WUJUD PENGABDIAN UNTUK NEGERI

Di bawah temaram senja, barisan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) tak kenal lelah mengabdikan diri kepada Ibu Pertiwi. Menyerahkan jiwa raga untuk rakyat. Bekerja keras sejak pagi hingga malam. Itu tergambar dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-109 Kodim 0907/Tarakan, Korem 092/Maharajalila, sebagai wujud “Pengabdian Untuk Negeri”, yang menuntaskan penantian warga dalam pembangunan akses jalan dan jembatan di Kelurahan Karang Harapan, Kecamatan Tarakan Barat, Provinsi Kalimantan Utara, yang belasan tahun harus menikmati buah getir di kampung terisolir.

=======

BELASAN kilometer dari jantung Kota Tarakan, barisan prajurit TNI Satgas TMMD ke-109 Kodim 0907 Tarakan, Korem 092/Maharajalila, silih berganti menyandarkan lelah di bawah pondok kecil dari seng lapuk berkarat melapis dinding dan atapnya. Bersanding air putih, atau kopi tubruk hitam yang uap panasnya baru beranjak meninggalkan gelas plastik, sebagai kawan pelepas dahaga usai berjibaku mengerjakan jembatan dan menyulap rawa untuk dibuatkan jalan sepanjang 1.100 meter dan lebar 8 meter di RT 12 hingga RT 16, Kampung Swaran, Kelurahan Karang Harapan, Kecamatan Tarakan Barat, Provinsi Kalimantan Utara.

Kampung Swaran cukup jauh dari perkotaan. Jauh dari hiruk pikuk kota. Dan, Penuh rerimbunan hijau hutan. Di daerah ini, TNI dalam program TMMD ke-109 Kodim 0907 Tarakan tengah mengabdikan diri untuk membuka keterisoliran warga dengan membangun akses jalan dan jembatan. Kegiatan TMMD ini dimulai 22 September 2020 hingga 21 Oktober 2020.

Meski matahari telah terbenam dan waktu menunjukan pukul 19.30 Wita, prajurit dan warga terus bekerja beradu lincah di pematang lumpur atau rawa gambut lumut, yang konon di beberapa titik mencapai pinggang orang dewasa untuk ditimbun tanah sebagai proses pembukaan akses jalan. Dari Jalan Damai Bhakti, Karang Harapan menuju Kampung Swaran, dihitung-hitung mampu memangkas jarak tempuh sekitar 7 kilometer. Dibanding harus menempuh jalan sebelumnya yang harus memutar.

Kilatan cahaya senter memandu langkah penuh waspada operator ekskavator berjalan mondar-mandir di atas jalur lumpur yang sebelumnya rawa untuk meratakan tanah timbunan. Ditemani kisah nostalgia masa lampau, guyonan, hingga ledekan, mengeratkan rasa kebersamaan TNI dan warga. Beringsut dari pemantang rawa ke sudut pengerjaan jembatan. Karena terlalu asyiknya, semangat menggebu prajurit serupa lantangnya sahut-menyahut jangkrik. Menandakan jarum jam telah berada di pukul 22.00 Wita. Waktu istirahat prajurit juga sudah tiba. Secara bergantian, gergaji, linggis, palu, dan alat perkakas lainnya dilepaskan usai digenggam erat selama 15 jam. Semuanya dirapikan ke gudang penyimpanan untuk digunakan lagi esok pagi.

HARMONISNYA TNI DAN WARGA KARANG HARAPAN

PEDULI PENDIDIKAN: Sertu Taufik saat waktu luang di malam hari menyempatkan diri untuk mengajarkan anak Saleh, Ketua RT.16 Karang Harapan yang menjadi tempat tinggalnya selama sebulan dalam kegiatan TMMD ke-109.

Sejak pagi buta hingga larut malam bergelut menukangi jalan dan jembatan bermodalkan alat berat atau perkakas seadanya, memang menguras tenaga. Apalagi selama kegiatan bergulir sebulan penuh, rasa rindu terhadap anak dan istri kerap menambah nyeri otot atau gemuruh gundah gulana lainnya. Sebab, selama masa itu seluruh prajurit yang turut andil pada kegiatan TMMD ke-109 bukan hanya berfokus bahu membahu dengan masyarakat dalam kegiatan sasaran fisik pembangunan di lapangan saja. Melainkan harus menginap di rumah-rumah warga setempat, sebagai rumah kedua yang diharapkan bisa menambah kehangatan bersama rakyat.

Seperti Sertu Taufik, prajurit Kodim 0907 Tarakan yang sangat berterima kasih atas kesediaan Saleh, Ketua RT. 16, Kelurahan Karang Harapan, untuk menampung Satgas TMMD tinggal selama sebulan di rumah mereka. Selama 3 pekan membaur menjadi satu bagian keluarga di tengah-tengah masyarakat setempat, keperluan makan, minum, hingga mandi juga diperlakukan sama oleh tuan rumah. Malah saking akrabnya, tak sedikit pula para prajurit ini sudah dianggap warga layaknya anak kandung sendiri.

Kehadiran pria yang rata-rata berpostur tegap setinggi 180 cm berseragam loreng khas TNI tersamar noda lumpur dan debu ketika bertugas membangun jalan dan jembatan, kerap ditunggu-tunggu Saleh sekeluarga. Ketika pulang ke rumah warna merah jambu milik Ketua RT itu, tak jarang selalu dilalui dengan bercengkrama. Perlakuan serupa juga dialami rekan prajurit lain yang menyebar pulang ke rumah warga lainnya.

Sopan dalam bersikap, santun saat bertutur kata, cerminan keseharian prajurit. Ada kalanya sesekali melemparkan topik jenaka yang menarik gelak tawa tuan rumah. Membungkus sudut pandang TNI yang selama ini dikenal garang. Sejatinya, kata Sertu Taufik, pembawaan sikap ramah dan sopan santun kepada seluruh rakyat ini sudah menjadi keharusan setiap prajurit TNI untuk dilaksanakan.

“Sisi humanisme dari prajurit TNI juga telah ditanamkan sewaktu di pendidikan. Dalam Santi Aji itu juga diuraikan 8 wajib TNI. Pada malam hari di waktu senggang kami mengajari anak beliau untuk belajar dan mengulangi mata pelajaran yang diajarkan guru di sekolah,” kata Sertu Taufik.

Selama di rumah warga, kala tengah malam menunjukan pukul 23.00 Wita, lelahnya raga dan kerinduan terhadap belahan jiwa atau sanak keluarga yang jauh ditinggalkan demi pengabdian untuk negeri, terus mendera. Beruntung bisa sedikit terobati melalui tatap muka secara daring. Beruntung lagi, dalam urusan komunikasi di wilayah ini masih lancar. Ada jaringan 4G, meskipun kembang kempis untuk operator seluler tertentu. Beda cerita jika hujan deras melanda. Kadang sinyal pun sudah tak menentu. Untuk sekadar sambungan telepon atau SMS masih bisa, meski tertatih. Tetapi itu dirasa cukup untuk bertanya kabar, atau menerima kabar. Pelepas kekhawatiran sebelum terlelap malam.

Sigap untuk bangun ketika tidur memang sudah melekat kuat dari prajurit TNI sebagai upaya berjaga-jaga. Namun, kali ini bukan karena adanya ancaman dari musuh negara, melainkan bergegas untuk mengumandangkan azan dan melaksanakan Salat Subuh berjamaah di Masjid An-Nur, yang tak jauh dari kediaman Saleh, ketua RT 16 itu. Sementara azan dikumandangkan merdu nan lantang oleh Sertu Taufik, silih berganti prajurit maupun warga setempat datang ke rumah ibadah umat muslim dengan nuansa cerah hijau muda yang baru direnovasi berkat tangan cekatan prajurit. Mereka sabar menunggu giliran untuk membasuh diri dengan air wudu, sebelum imam salat yang dipimpin oleh Takmir masjid mengucapkan takbir.

“Kehadiran kami yang tergabung dalam Satgas TMMD ini harapannya bisa menambah motivasi masyarakat dalam segi kebersihan desa, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT,” tegas Sertu Taufik.

MENGALAHKAN HUJAN DI BULAN OKTOBER

BERJIBAKU : Satgas TMMD saat berjibaku dengan tanah ketika truk amblas akibat hujan seharian.

Saat ayam mulai berkokok pagi sekitar pukul 06.00 Wita, Marifah, istri Saleh atau akrab disapa Bu RT ini juga bergegas menyiapkan sarapan pagi seadanya. Menunya kopi hitam atau teh manis hangat, ditemani beberapa kue tradisional. Seperti pisang goreng, yang disebut ‘sanggar’ oleh warga kampung ini, atau singkong goreng yang gurih. Semua itu cukup mengisi lambung Sertu Taufik dan rekan-rekan prajurit lainnya. Di samping peranan sebagai sosok istri Saleh dan ibu rumah tangga bagi anak-anaknya, ditambah lagi harus mengurusi Satgas TMMD, saban hari Marifah sendiri juga yang memasak makanan ala kadarnya dengan tulus hati untuk mereka. Bahkan setengah jam sebelum waktu makan tiba. Dia sudah lebih dulu menyiapkan seluruh santapan. Hal itu membuat dia senang bercampur bangga bisa menyiapkan makanan untuk para Satgas TMMD yang telah membangun desanya.

“Setiap hari saya masak dan siapkan makan pagi, siang, dan malam untuk bapak-bapak Satgas TMMD, ini suatu kebanggaan tersendiri buat saya. Pokoknya semuanya sudah saya siapkan. Begitu Satgas mau makan, semuanya sudah disiapkan,” beber Marifah.

Pagi di bulan Oktober ini cukup mendebarkan dalam kegiatan TMMD yang menyisakan waktu hanya hitungan hari. Wajah nestapa prajurit TNI dan warga terlihat was-was. Mereka mengatur siasat. Kala itu memasuki pertengahan Oktober. Hujan memang sedang bergairah menunjukkan bakat alaminya. Derainya seakan ingin terus jatuh bersambung. Mulai dini hari, berlanjut pagi menjelang siang, hanya kedinginan yang dirasakan. Walau beranjak reda sekitar pukul 10.30 Wita, sinar mentari belum sepenuhnya mampu menembus gumpalan awan hitam yang menggantung di langit Kampung Swaran.

Hingga pukul 14.30 Wita, jalan yang dibangun oleh prajurit TNI bersama warga Karang Harapan, masih basah dan berlumpur. Terkadang warga yang menunggangi sepeda motor membawa angkutan logistik bahan bakar minyak untuk keperluan ekskavator, harus berjuang keras melewati licinnya lumpur jalanan yang digarap. Lebih banyak amblasnya daripada mulusnya.

Para prajurit tak tega melihat itu. Dengan sigap, mereka langsung melepaskan cangkul yang digunakan untuk mendukung pembangunan jalan agar terus berjalan. Gesekan cangkul ke tanah berlumpur mengalirkan genangan air ke pembuangan berukuran 1,5 meter di sisi kiri dan kanan jalan itu. Cuaca masih sama, di bawah rintik hujan yang intensitasnya kali ini mulai berkurang.

Waktu berlalu, namun kesulitan masih berkecamuk ketika kendaraan yang mengangkut material tanah tak bisa melaju gesit di ganasnya lumpur setinggi mata kaki, yang kadang di beberapa titik juga melumat hingga di atas betis orang dewasa. Alhasil, mesin meraung, sopir berkali-kali mengutak-atik persneling, tuas gas diinjak, mobil truk itu beringsut. Raungan semakin keras meski geraknya sangat pelan. Roda tergelincir ke kiri dan kanan. Sopir pontang-panting memutar kemudi. Berbelok tak karuan. Usaha yang berlangsung selama 35 menit itu berbuah manis dengan menaklukkan perlawanan lumpur. Diakhiri tepuk tangan suka cita dari prajurit dan warga, sekadar penyemangat untuk kembali bekerja.

Tapi tantangan belum berakhir. Meski akses jalan telah berhasil digarap hingga melesatkan wahana putar berkelir orange berbobot 10 ton ke ujung bukit Kampung Swaran dan menyisakan kurang lebih 200 meter lagi untuk digarap di sepanjang itu. Rawa pun telah menanti untuk ditimbun material tanah. Belum lagi pengecoran jembatan dengan dimensi 8×8 meter terus ditunda akibat cuaca sangat kurang bersahabat.

Kata Kapten Inf Pattah Setiawan, situasi pengerjaan sasaran fisik utama ini memang cukup pelik jika kondisi cuaca terus hujan. Maka, begitu sang surya telah kembali menampakkan sinarnya, pengerjaan itu akan terus dikebut sejak pagi pukul 08.00 Wita sampai malam hari. “Kita terus berjuang memaksimalkan tenaga, alat maupun semangat bahu membahu Satgas TMMD dan warga untuk mengalahkan medan dan cuaca,” tutur Kapten Inf Pattah Setiawan.

USAI TUNTAS, HUBUNGAN TETAP TERJALIN

SAMPAI MALAM: Satgas TMMD ke-109 Kodim 0907 Tarakan bersama warga membangun jembatan hingga malam hari.

Belasan tahun juga akses jalan ini didambakan warga Karang Harapan. Terlebih warga Kampung Swaran. Pada tahun 1990-an, rata-rata warga setempat menggantungkan nasibnya menjadi karyawan PT. Swaran Jaya, perusahaan kayu yang sejak beberapa tahun silam sudah tak beroperasi lagi. Lalu kini, di mana kebutuhan ekonomi semakin menjadi-jadi, sebagian besar mereka pun beralih profesi. Mengais rezeki menjadi nelayan atau bertani. Sedikitnya ada ratusan kepala keluarga menjadi penghuni kampung setinggi 16 meter di atas permukaan laut itu. Yang setiap hari harus keluar masuk melewati Jalan Aki Pinangki. Dilanjutkan melewati beberapa lembah di Jalan Aji Iskandar, atau Jalan Aki Babu untuk mencapai titik ke tempat bekerja atau sekolah di kawasan perkotaan.

Diakui Arman, salah satu pemuda RT. 16, Kampung Swaran, bila ada warga sakit dan membutuhkan perawatan kesehatan intensif, mau tak mau harus menempuh jalanan sepanjang 8,8 kilometer untuk sampai Rumah Sakit Umum Kota Tarakan di Jalan Aki Babu. Durasinya 18 menit menggunakan sepeda motor. Naik turun bukit silih berganti yang kiri dan kanan hanya ada jurang terjal. Seperti berirama. Memacu kendaraan harus dengan mata penuh berjaga-jaga di atas aspal penuh lubang. Bopeng tak karuan yang ditambal sana, tambal sini. Kurangnya penerangan jalan juga kerap jadi penyebab terjadinya laka lantas di daerah ini.

“Kalau sudah ada akses jalan ini, berarti ke Rumah Sakit juga bisa lebih cepat. Karena begitu ada yang sifatnya emergency juga bisa cepat ditangani. Semua menunggu jalan pintas ini untuk bisa dilewati. Bukan hanya kita di Swaran, tetapi masyarakat yang dari kota mau ke daerah Swaran, Intraca atau ke Bengawan bisa lewat sini. Begitu sebaliknya,” harap Arman.

Eratnya kebersamaan dan semangat gotong royong saat berhasil keluar dari beragam situasi dan kondisi yang menyulitkan pembangunan jalan, menjadi kebanggaan tersendiri untuk Amirullah, warga RT 12 yang ikut berkecimpung menuntaskan sasaran utama kegiatan fisik program TMMD ke-109 tahun 2020 di Tarakan.

Apa lagi ketika mengungkapkan hubungan baik antara warga dengan Satgas TMMD. Napasnya tersengal-sengal. Palu yang awalnya dihujamkan menembuskan paku ke papan untuk pengecoran jembatan, seketika terhenti. Dilepaskan perlahan dari genggaman pria bertubuh mungil ini. Bibirnya bergetar lirih, bersamaan secepat mungkin menyekakan bulir keringat dari pori-pori dahi yang deras mengucur ke kelopak mata. Pupil matanya membesar tersamar. Kedua bola matanya berkaca-kaca, mengisyaratkan besarnya rasa memiliki antar warga dan prajurit yang telah tumbuh subur di kampung ini.

“Abang-abang tentara ini sudah seperti saudara saya sendiri rasanya. Ketika berkerja semuanya harus gotong royong. Tidak ada saling perintah, tidak boleh bekerja sendirian. Semoga ikatan silaturahmi kami warga di sini (Karang Harapan) bisa terus terjalin dengan Satgas TMMD. Pintu rumah kami juga akan selalu terbuka untuk prajurit jika datang berkunjung. Karena selama ini apa yang saya makan, mereka juga makan. Apa alas dan di mana kami tidur selama ini, selalu bersama-sama,” kata Amirullah.

GOTONG-ROYONG PATAHKAN PARADIGMA DENGAN KUALITAS

TINJAUAN : Dansatgas TMMD, Letkol Inf. Eko Antoni Chandra Lestianto bersama Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) yang dipimpin Brigjen TNI Toto Nurwanto, didampingi Komandan Korem 092/Mrl BrigjenTNI Suratno, dan Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes saat meninjau lokasi pengerjaan fisik utama di kegiatan TMMD.

Demi mengejar target penyelesaian pekerjaan yang akan berakhir pada 21 Oktober 2020, Dansatgas Letkol Inf. Eko Antoni Chandra Lestianto menuturkan, semangat prajurit dan warga tak akan terkikis oleh cuaca yang acap kali membuat kewalahan. Bentuk pengabdian prajurit itu terus berjalan bahu-membahu menyelesaikan target pengerjaan mulai pagi hingga malam hari.

Keringat jatuh bercucuran, membakar semangat tak kenal lelah. Pengerjaan yang terus dipacu untuk sesegera mungkin diselesaikan, juga selalu memperhatikan kualitas fisik dari tangan terampil para prajurit. Setiap bahan material dan adonan yang digunakan dalam pengerjaan TMMD tetap mengutamakan kualitas jangka panjang.

Demikian halnya tahapan pengerjaan yang menggaet konsultan proyek dari Dinas Perkerja Umum Kota Tarakan, praktis itu juga mematahkan paradigma dan memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat luas bahwa kegiatan ini bukan dikerjakan asal-asalan. Semuanya dibuktikan kuat dengan karya pengabdian prajurit TNI untuk bisa dirasakan manfaatnya secara umum.

“Termasuk juga pondasi jembatan permanen, kita menggunakan cor yang kuat sekali dan memang (posisi jembatan) agak tinggi, supaya saat banjir tidak mengenangi jembatan. Konsultannya ada dari Dinas PU untuk menjamin kualitas mutu dari pengerjaan,” kata Letkol Inf. Eko Antoni Chandra Lestianto.

Di samping menyelesaikan sasaran utama kegiatan fisik berupa pembangunan jembatan dan akses jalan, Satgas TMMD Kodim 0907 Tarakan juga melakukan renovasi tiga rumah ibadah. Di antaranya satu masjid, dan dua gereja di Karang Harapan. Apa lagi program TMMD ke-109 di tahun 2020 ini memang berbeda dibanding tahun sebelumnya yang dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Perlu ekstra kehati-hatian dalam menuntaskan program pembangunan fisik maupun non fisik. Bentuk Kemanunggalan TNI kepada masyarakat itu dijalin bersamaan dengan program sosial, kesehatan, serta berbagai penyuluhan bermanfaat.

Misalnya saja, memberikan bantuan sembako hingga sosialisasi protokol kesehatan secara door to door untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dari Satgas TMMD ke-109 Kodim 0907 Tarakan juga dilakukan, melalui sterilisasi wilayah sasaran TMMD, termasuk pemukiman warga dengan cairan disinfektan.

“Kita yakinkan masyarakat, kehadiran kami Satgas TMMD di kampung ini bukan untuk membangun saja, tetapi juga untuk menjaga kesehatan masyarakat,” imbuh Letkol Inf. Eko Antoni Chandra Lestianto yang juga Dandim 0907 Tarakan.

Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) yang dipimpin Brigjen TNI Toto Nurwanto didampingi Komandan Korem 092/Maharajalila BrigjenTNI Suratno menyampaikan, pelaksanaan TMMD ke-109 di Tarakan berlangsung sangat baik, dengan sinergitas dan komitmen Pemerintah Kota Tarakan dalam mendukung kegiatan TMMD. Sekaligus berharap dapat membawa beragam manfaat untuk masyarakat Bumi Paguntaka.

“Untuk Tarakan dalam melaksanakan TMMD ke-109 menyiapkan dana Rp 1,85 miliar. Ini cukup bagus, karena banyak kabupaten kota yang mengalihkan anggaranya untuk penanganan Covid-19. Tetapi Bapak Walikota ini konsisten mendukung kegiatan TMMD ini,” terang Brigjen TNI Toto Nurwanto.

“Dari yang kami lihat di sini, harapannya waktu yang ada kurang lebih 1 minggu ini akan selesai semua pembangunannya. Pembangunan jalan dan jembatan, rumah ibadah masjid maupun gereja dan lainnya, dan mudah-mudahan bisa membantu perekonomian masyarakat, khususnya Kota Tarakan,” tambahnya.

TMMD TINGKATKAN AKSELERASI PEMBANGUNAN

KUNJUNGAN: Walikota Tarakan dr. H. Khairul, M.Kes turut melakukan kunjungan bersama Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) yang dipimpin Brigjen TNI Toto Nurwanto didampingi Komandan Korem 092/Maharajalila BrigjenTNI Suratno.

Menilik tahapan TMMD ke-109 tahun 2020 yang dilaksanakan Kodim 0709/Tarakan, sarat akan manfaat bagi masyarakat luas. Program ini pun turut mendapat apresiasi dari Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., dan menyebut seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan ini sangat membantu Pemerintah Kota Tarakan dalam mendongkrak pembangunan.

“Kegiatan ini sangat membantu pemerintah kota dalam rangka mengakselerasi pembangunan. Ada beberapa daerah yang perlu dipercepat pembangunannya, misalnya jalan tembus ke Swaran yang telah dikerjakan oleh TNI bersama masyarakat ini,” ujar Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes.

“Di tengah-tengah pandemi ini, pelaksanaan kegiatannya juga bisa berjalan dengan baik. Kita berharap melalui kegiatan ini semoga tidak ada wilayah di Tarakan yang terisolir, baik secara fisik, maupun secara kultural,” tutup Walikota.

Mengemas sukses dan tuntasnya pelaksanaan TMMD ke-109 tahun 2020 dari Kodim 0907 Tarakan, memang kerap dihadapkan peliknya ruang, waktu dan cuaca. Melalui secuil tulisan dan potret Kemanunggalan prajurit dan warga, kegiatan yang wajib selesai dalam waktu singkat berhasil dituntaskan. Walau penuh hambatan, pada akhirnya semua kegiatan fisik dan non fisik yang dilakukan dengan kerja keras itu sukses membuahkan hasil. Dengan sejuta manfaat kegiatan TMMD ke-109 dari prajurit TNI untuk warga Kampung Swaran, masyarakat Tarakan, hingga rakyat Indonesia seluruhnya.(*)

 

Reporter : Yogi Wibawa

Editor: M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed