benuanta.co.id, TARAKAN – Di bawah tanah dan perairan Kalimantan Utara, pencarian energi belum selesai. Ketika kebutuhan energi terus tumbuh dan ketidakpastian geopolitik global membuat pasokan energi dunia semakin rentan, Kaltara kembali menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam peta pengembangan hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional.
Ada sumur yang harus dihidupkan kembali. Ada pengeboran baru yang harus dipercepat. Ada pula penemuan cadangan yang semula menunggu hingga 2030, tetapi kini didorong agar bisa dimulai dua tahun lebih cepat.
Semua bergerak dalam satu tujuan: menjaga agar produksi migas tetap tersedia dan potensi energi di dalam negeri tidak berhenti menjadi sekadar cadangan di bawah permukaan.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Wilayah Kalimantan dan Sulawesi, Wisnu Wardhana, mengatakan penguatan kegiatan hulu migas menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global.
“Kegiatan hulu migas merupakan ujung tombak pemenuhan kebutuhan energi nasional. Apalagi dengan dinamika dan konflik geopolitik global yang terjadi saat ini, kita dituntut untuk semakin mampu memenuhi kebutuhan energi secara mandiri,” ujar Wisnu di akhir bulan Juli lalu saat jumpa awak media Kaltara di Kota Tarakan.
Bagi Kaltara, dorongan itu diterjemahkan dalam bentuk yang konkret pengeboran. Di Tarakan, Medco mengawal pelaksanaan satu kegiatan pengeboran. Sementara Eni tengah didorong mempercepat jadwal pengeborannya. Jika sebelumnya ditargetkan pada 2028, kegiatan tersebut diupayakan dapat dimajukan menjadi 2026.
“Untuk Eni, kita dorong agar yang sebelumnya direncanakan pada 2028 bisa dipercepat menjadi 2026,” kata Wisnu.
Di utara Kaltara, perhatian juga mengarah ke wilayah perairan Nunukan. Pertamina Group menyiapkan pengeboran di Pertamina Nunukan Offshore.
Tidak berhenti pada pengeboran, Pertamina Group juga mengajukan perpanjangan kontrak. Harapannya, tambahan waktu pengelolaan dapat membuka peluang untuk menemukan cadangan baru sekaligus meningkatkan keekonomian kegiatan dan kapasitas produksi.
Membangun masa depan migas tidak hanya soal menemukan sumur baru. Ada pekerjaan lain yang tak kalah penting yakni mempertahankan apa yang masih menghasilkan.
Di wilayah operasi Tarakan, persoalan penurunan produksi menjadi tantangan yang harus dihadapi. Sumur-sumur yang telah lama berproduksi secara alami mengalami penurunan kemampuan sehingga perlu dipersiapkan langkah work over atau kerja ulang sumur.
Perwakilan JOB Simenggaris, Dwi Susiowati, mengatakan kegiatan tersebut direncanakan mulai Juli 2026. “Work over direncanakan mulai bulan Juli 2026,” ujar Dwi.
Work over dilakukan pada sumur yang telah ada untuk memperbaiki kinerja, mengoptimalkan kembali potensi produksi, atau meningkatkan kemampuan sumur dalam menghasilkan migas.
Bagi industri hulu, langkah semacam ini menjadi penting. Sebab, menjaga produksi bukan semata-mata mencari ladang baru, tetapi juga mempertahankan produktivitas sumur yang telah lebih dahulu beroperasi.
Di sinilah tantangan klasik industri hulu migas muncul: produksi turun seiring usia dan kondisi sumur, sementara kebutuhan energi terus berjalan. Maka, setiap tambahan produksi menjadi penting.
Tak hanya itu, SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) juga mencoba berpacu dengan waktu untuk menghadirkan penemuan baru.
Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi, Mutiara Dinanti, mengatakan kolaborasi antara tim, KKKS dan SKK Migas dilakukan untuk mendukung pencapaian target lifting yang ditetapkan dalam APBN. “KKKS dan SKK Migas untuk bersama-sama mencapai target lifting APBN,” kata Mutiara.
Untuk tahun 2026, target lifting minyak nasional dalam APBN ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari (bph). Angka ini naik dari target 2025 sebesar 605 ribu bph.
Penambahan kegiatan pengeboran menjadi salah satu strategi. Penambahan tim KKKS diharapkan dapat mendukung kegiatan drill sekaligus mempercepat penanganan apabila muncul kendala umum di lapangan.
Sejumlah program penemuan yang sebelumnya dijadwalkan pada 2030 kini diupayakan untuk dipercepat menjadi 2028. “Penemuan-penemuan baru dari KKKS yang awalnya dijadwalkan untuk tahun 2030 diupayakan untuk dipercepat pelaksanaannya menjadi tahun 2028,” ujar Mutiara.
Percepatan ini menunjukkan bahwa industri hulu tidak bisa hanya mengandalkan produksi dari sumur yang ada. Cadangan baru harus ditemukan dan dikembangkan agar keberlanjutan produksi dapat terjaga.
Setiap kegiatan memiliki tantangan masing-masing. Pengeboran membutuhkan investasi dan kesiapan teknis. Kegiatan lepas pantai menghadirkan kompleksitas tersendiri. Sementara work over harus dilakukan dengan perhitungan agar sumur yang ada dapat memberikan hasil optimal.
Namun seluruh langkah tersebut bertemu pada satu kepentingan, memastikan sumber energi domestik tetap mampu menopang kebutuhan nasional.
Bagi SKK Migas, pekerjaan itu juga tidak cukup hanya dilakukan di ruang-ruang operasi. Komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian penting, terutama karena aktivitas industri migas berpotensi melahirkan isu dan gesekan di lapangan.
Sebab, di balik suara mesin pengeboran, aktivitas di anjungan lepas pantai, dan pekerjaan di sumur-sumur tua, terdapat cerita yang lebih besar, bagaimana sebuah wilayah di utara Indonesia ikut mengambil bagian dalam menjawab kebutuhan energi negeri.
Kaltara mungkin belum menjadi akhir dari pencarian migas Indonesia. Justru sebaliknya, pengeboran yang dipercepat, sumur yang dihidupkan kembali, dan penemuan baru yang dikejar menunjukkan bahwa perjalanan itu masih panjang.
Sementara itu, Manager Field R&S Kalimantan Region dari PT Medco E&P Tarakan, Rivian Pragitta Oktara, menambahkan Medco melakukan pengeboran di Tarakan untuk meningkatkan ketahanan energi, salah satunya untuk jaringan gas (Jargas). “Mohon doa dan restunya pengeboran ini berhasil dan bisa membawa ketahanan energi di Tarakan bisa lebih lagi,” jelasnya. (*)
Penulis: Ramli







