NTP Kaltara Naik, Daya Beli Petani Menguat pada Oktober

Ekonomi39 views

benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2025.

Kepala BPS Kaltara Masud Rifai, menjelaskan bahwa NTP provinsi ini naik sebesar 0,61 persen dari 116,19 pada September menjadi 116,89 pada Oktober 2025.

Peningkatan ini menunjukkan adanya kenaikan daya beli petani. Karena harga hasil pertanian yang diterima petani meningkat lebih tinggi, dibandingkan dengan harga barang dan jasa yang mereka bayar.

Baca Juga :  Dari Seutas Benang sampai ke Manca Negara, Tenun D’utan Bawa Identitas Kalimantan Utara

“Secara umum, peningkatan NTP ini menandakan kondisi ekonomi petani relatif membaik. Harga komoditas hasil pertanian mengalami kenaikan, sementara pengeluaran petani relatif stabil,” ujarnya, Ahad (16/11/2025).

Ia menyebutkan, kenaikan NTP terutama terjadi pada subsektor tanaman pangan yang naik 0,03 persen, tanaman perkebunan rakyat naik 0,57 persen, peternakan naik 0,45 persen, dan perikanan yang mengalami lonjakan tertinggi sebesar 1,87 persen.

Baca Juga :  Desil Bansos Disorot, Ekonom: Jangan Hanya Lihat Gaji, Ukur Pendapatan Siap Belanja

Sementara itu, satu-satunya subsektor yang mengalami penurunan adalah hortikultura, yang turun 0,58 persen.

Peningkatan NTP juga dipengaruhi oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 0,59 persen, dari 134,81 menjadi 135,60.

“Kenaikan ini terutama disumbang oleh meningkatnya harga pada subsektor perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan,” jelasnya.

Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru mengalami penurunan tipis 0,02 persen menjadi 116,01.

Baca Juga :  Industri Mikro dan Kecil di Kaltara Serap 11.752 Tenaga Kerja, Didominasi Pekerja Perempuan

Penurunan ini terjadi karena berkurangnya biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi yang relatif stabil. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian pedesaan di Kaltara.

Kenaikan NTP berarti petani punya ruang lebih besar untuk menabung atau berinvestasi kembali dalam usahanya. Ini tentu kabar baik bagi ketahanan ekonomi di wilayah perdesaan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *