249 Karya Guru Dikurasi, Tiga Guru Kaltara Tampil di Gelar Karya Inovasi

TARAKAN – Sebanyak 249 karya inovasi pembelajaran dari guru di 35 provinsi dikumpulkan dalam program Gelar Karya Inovasi Pejuang Digital Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Melalui proses kurasi, sebanyak 91 karya terpilih untuk mengikuti pendampingan guna menyempurnakan gagasan dan memperkuat implementasi inovasi sebelum disebarluaskan sebagai praktik baik pembelajaran berbasis teknologi. Dalam kegiatan yang berlangsung secara daring pada Selasa (27/10/2026), tiga Guru Pejuang Digital dari Kalimantan Utara (Kaltara) turut mempresentasikan praktik baik yang dikembangkan di sekolah masing-masing.

Katimja Pemanfaatan Layanan Digital Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, Nur Malik Maulana, S.T., M.I.Kom., mengungkapkan, kurasi dilakukan sebagai bagian dari rangkaian program untuk mendorong guru mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Program tersebut juga diarahkan pada pemanfaatan Rumah Pendidikan dan Papan Interaktif Digital (PID) agar teknologi dapat mendukung proses belajar mengajar.

“Gelar Karya Inovasi Pejuang Digital ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Pusdatin untuk memberikan ruang kepada para guru agar terus mengembangkan dan juga membagikan inovasi pembelajaran berbasis teknologi,” ungkapnya.

Nur Malik mengatakan, dari 249 karya yang diterima, sebanyak 91 karya terpilih setelah melalui proses kurasi. Karya-karya tersebut berasal dari guru di 35 provinsi dan berhak melanjutkan ke tahap pendampingan. Proses ini menjadi bagian penting sebelum inovasi dipresentasikan dan dibagikan kepada pendidik lainnya.

Baca Juga :  Kolaborasi Pusat-Daerah Jadi Penentu Keberlanjutan Digitalisasi Pendidikan di Kaltara

“Kami menerima sekitar 249 karya dari 35 provinsi. Lalu, setelah melalui proses kurasi, terpilih 91 karya dari 35 provinsi yang selanjutnya akan mengikuti tahapan berikutnya, yaitu tahapan pendampingan,” jelasnya.

Ia menerangkan, tahap pendampingan bertujuan menyempurnakan gagasan, memperkuat substansi karya, serta meningkatkan kualitas penerapan inovasi yang telah dikembangkan guru. Pendampingan dilakukan oleh tim yang terdiri dari unsur guru sebagai peer teaching dan pengembang teknologi pembelajaran. Selain memperbaiki isi karya, proses tersebut juga memperkuat dokumentasi implementasi agar inovasi dapat dipahami dan dipelajari oleh guru lain.

“Pendampingan ini tidak hanya dalam rangka menyempurnakan gagasan dan juga isi karyanya, tapi juga memperkuat dari sisi implementasinya dalam bentuk video implementasi,” katanya.

Menurut Nur Malik, video implementasi menjadi salah satu sarana untuk membantu guru lain memahami penerapan inovasi secara lebih konkret. Dengan dokumentasi tersebut, pengalaman pembelajaran yang dikembangkan oleh seorang guru dapat dipelajari dan dijadikan referensi untuk menyesuaikan metode pembelajaran di sekolah lain.

“Tentunya agar inovasi yang dilakukan ini lebih dapat dipahami lebih mudah dan juga dipelajari lebih mudah oleh guru-guru lainnya,” bebernya.

Setelah tahap pendampingan, karya-karya terpilih akan memasuki tahap showcase melalui webinar Gelar Karya Inovasi Pejuang Digital. Dalam tahapan ini, para guru mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan praktik baik, membagikan pengalaman, menjelaskan tantangan, serta memaparkan strategi dan dampak inovasi terhadap pembelajaran. Forum tersebut juga dilengkapi diskusi bersama narasumber daerah untuk membahas kemungkinan penerapan inovasi di sekolah lain.

Baca Juga :  Gelar Karya Inovasi Dorong Guru Kaltara Perluas Pembelajaran Digital

“Para Guru Pejuang Digital ini akan berkesempatan mempresentasikan praktik baiknya, berbagi pengalamannya, menjelaskan tantangan-tantangan dari inovasi yang dikembangkan, strateginya seperti apa, dan dampak inovasinya terhadap pembelajaran seperti apa,” tuturnya.

Nur Malik menegaskan, rangkaian program tidak berhenti pada pendampingan maupun presentasi karya. Setelah proses diseminasi melalui webinar, kegiatan akan dilanjutkan dengan tahap penetapan karya inovasi Pejuang Digital. Ia menilai keberhasilan program juga ditentukan oleh sejauh mana inovasi yang dihasilkan mampu menginspirasi guru lain dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.

“Bagi kami, keberhasilan kegiatan ini juga terletak pada sejauh mana karya-karya tersebut nanti bisa menginspirasi guru-guru lain dan tentunya memberi manfaat yang nyata bagi peserta didik,” tegasnya.

Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap karya inovasi guru dapat menjadi sumber pembelajaran bersama dan mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih luas di sektor pendidikan. Nur Malik menekankan pentingnya keberlanjutan upaya tersebut agar semakin banyak pendidik memperoleh manfaat dari inovasi yang telah dikembangkan.

“Semoga Gelar Karya Inovasi Pejuang Digital ini bisa menjadi ruang belajar bersama dan tentunya terus melahirkan inovasi-inovasi baru dan juga bisa memperluas pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran yang lebih bermanfaat,” tukasnya.

Dalam kegiatan di Kaltara, tiga guru turut tampil untuk berbagi praktik baik pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Mereka adalah Eri Afrizal, M.Pd., dari SMAN 1 Bunyu; Mastan, S.Pd., dari SMK Kesehatan Tarakan; dan Adiatman, S.Pd., dari SMAN 1 Sebatik. Ketiganya menjadi perwakilan guru yang membagikan karya dan pengalaman dalam mengembangkan inovasi pembelajaran di lingkungan sekolah masing-masing.

Baca Juga :  Tahun 2026, Nunukan Terima 50 Pelajar Repatriasi dari Malaysia

Sementara itu, Kepala UPTD Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (TIKP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltara, Khairunisa Maharani, S.Pd., mengapresiasi keterlibatan ketiga guru tersebut dalam kegiatan berbagi praktik baik. Menurutnya, pengalaman yang disampaikan para guru dapat menjadi inspirasi bagi pendidik lain untuk mengembangkan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan peserta didik.

“Semoga karya dan pengalaman yang akan disampaikan hari ini dapat menginspirasi lebih banyak guru menjadi penggerak transformasi digital pendidikan di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Khairunisa menambahkan, inovasi pembelajaran tidak harus dimulai dari penggunaan teknologi yang rumit. Guru dapat mengembangkan solusi dari persoalan sederhana yang ditemukan di kelas, kemudian memanfaatkan kreativitas dan teknologi untuk memperbaiki proses belajar. Ia berharap para guru di Kaltara semakin berani mencoba pendekatan baru dan membagikan pengalaman kepada rekan sejawat.

“Tidak perlu menunggu menjadi ahli teknologi untuk memulai berinovasi. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus memperbaiki pembelajaran dan memberikan pengalaman yang terbaik bagi peserta didik,” pungkasnya. (adv)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli