TARAKAN – Keberlanjutan transformasi digital di sektor pendidikan membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan. Tidak hanya menghadirkan teknologi di sekolah, kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk memperkuat kemampuan pendidik, mendampingi penerapan inovasi, serta memperluas pemanfaatan praktik baik agar dapat diterapkan di lebih banyak sekolah.
Kepala UPTD Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (TIKP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Utara (Kaltara), Khairunisa Maharani, S.Pd., mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci agar transformasi digital pendidikan tidak berhenti pada pelaksanaan program tertentu. Dukungan tersebut perlu diwujudkan melalui penguatan kapasitas pendidik, pendampingan, dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
“UPTD TIKP Provinsi Kalimantan Utara berkomitmen untuk terus mendukung pemanfaatan teknologi, informasi, dan komunikasi dalam pendidikan melalui penguatan kapasitas pendidik, pendampingan, serta berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ungkapnya, Rabu (28/10/2026).
Menurut Khairunisa, keterlibatan pemerintah pusat dan daerah perlu berjalan beriringan dengan peran satuan pendidikan serta komunitas guru. Sebab, keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan para pendidik dalam menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan komunitas guru menjadi kunci agar transformasi digital dapat berjalan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Salah satu bentuk kolaborasi yang dinilai penting ialah penyebarluasan inovasi pembelajaran yang telah dikembangkan oleh guru. Khairunisa menegaskan, praktik baik tidak seharusnya hanya dimanfaatkan oleh guru atau sekolah yang pertama kali menerapkannya, tetapi perlu dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan lain.
“Praktik baik yang telah dikembangkan oleh guru pejuang digital tidak berhenti pada satu guru atau satuan pendidikan saja. Praktik terbaik tersebut perlu disebarluaskan, dipelajari, kemudian disesuaikan, direplikasi oleh guru-guru lainnya sesuai dengan kondisi serta kebutuhan sekolah masing-masing,” tuturnya.
Khairunisa berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan komunitas guru dapat membentuk ekosistem pembelajaran digital yang berkelanjutan di Kaltara. Menurutnya, kemajuan teknologi pendidikan harus disertai perhatian terhadap kualitas pembelajaran, karakter, kreativitas, dan pemerataan kesempatan belajar bagi peserta didik.
“Mari kita bangun ekosistem pembelajaran digital di Kalimantan Utara yang tidak hanya maju dengan penggunaan teknologi, tetapi juga kuat dalam kualitas, karakter, kreativitas, dan pemerataan kesempatan belajar,” tukasnya.
Dorongan serupa disampaikan Katimja Pemanfaatan Layanan Digital Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Nur Malik Maulana, S.T., M.I.Kom. Ia berharap Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan mitra pendidikan di daerah ikut mengambil peran dalam memperluas jangkauan inovasi yang dihasilkan para Guru Pejuang Digital. Menurutnya, dukungan dari daerah diperlukan agar praktik baik dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh lebih banyak pendidik.
“Kami juga berharap BPMP dan seluruh mitra yang di daerah bisa membantu mengamplifikasi, menyebarluaskan inovasi-inovasi praktik-praktik yang sudah dihasilkan oleh guru-guru pejuang digital,” ujarnya.
Nur Malik menjelaskan, penyebarluasan inovasi merupakan bagian penting dari rangkaian Gelar Karya Inovasi Pejuang Digital. Program tersebut tidak hanya memberikan ruang bagi guru untuk menampilkan karya, tetapi juga mendorong pertukaran pengalaman dan pembelajaran dari praktik nyata. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan dapat menjadi referensi bagi guru lain dalam menyusun pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing.
“Keberhasilan kegiatan ini juga terletak pada sejauh mana karya-karya tersebut nanti bisa menginspirasi guru-guru lain dan tentunya memberi manfaat yang nyata bagi peserta didik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Wibowo Mukti, S.Kom., M.Si., turut menekankan pentingnya berbagi pengalaman dan mengembangkan inovasi secara bersama-sama. Menurutnya, guru perlu mengambil peran aktif dalam mendorong pemanfaatan teknologi di lingkungan pendidikan, sehingga inovasi tidak berhenti sebagai karya individu.
“Guru pejuang digital tidak hanya kita harapkan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai inisiator, akselerator dan juga inspirator di lingkungan satuan pendidikannya,” tuturnya.
Wibowo menambahkan, kolaborasi dan penyebarluasan praktik baik memungkinkan manfaat inovasi menjangkau lebih banyak guru dan peserta didik. Karena itu, kegiatan berbagi karya perlu dilihat sebagai kesempatan untuk membangun pengetahuan bersama, bukan hanya menampilkan hasil yang telah dicapai.
“Sebuah inovasi menjadi semakin berarti ketika tidak berhenti pada satu guru atau satu kelas. Ketika pengalaman tersebut dibagikan, didiskusikan dan dikembangkan bersama, maka manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak guru dan murid,” pungkasnya. (adv)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








