benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Langkanya tabung LPG Subsidi 3 Kilogram (Kg) membuat masyarakat Kabupaten Tana Tidung (KTT) beralih gunakan tabung LPG non-subsidi 5,5 Kg.
Arif (33), salah satu warga Sesayap mengaku terpaksa merogoh kocek sekitar Rp 130 ribu untuk membeli tabung gas lain, lantaran sudah beberapa hari ini tak mendapatkan gas melon 3 Kg.
“Biasanya harganya ini (tabung gas pink) Rp 110 ribu setiap isi ulang. Tapi kok ini malah naik Rp 20 ribu dan mau tidak mau saya tetap beli karena tabung melon juga kosong,” kata Arif kepada benuanta.co.id, Senin (3/1/2021).
Akibat kelangkaan tabung LPG subsidi 3 Kg ini, Arif terpaksa mencari tabung 3 Kg hingga Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.
“Kalau ada teman saya nitip teman. Tapi kalau gak ada saya sendiri yang langsung pergi ke Sekatak. Jaraknya memang lebih jauh, tapi lebih murah lah di Sekatak harga tabung melonya sekitar Rp 30 ribu atau Rp 40 ribu” jelasnya.
Adapun Ujang (58), warga Sesayap lainnya juga mengeluhkan harga tabung pink yang mahal, di mana hampir semua pedagang tabung menaikan harga.
“Saya kehabisan tabung 3 kilogram, karena sudah lama kosong. Jadi saya mau pakai yang tabung pink sempat beli harganya cuma Rp 110 ribu kenapa sekarang Rp 130 ribu,” keluhnya.
Kata Ujang, rata-rata toko yang menjual tabung gas pink ini masih dikisaran Rp 130 ribu untuk sekali isi ulang.
“Ada tiga toko yang saya datangi tadi harganya sama Rp 130 ribu sekali isi ulang. Mungkin pedagang sengaja atau memang dari sananya naik saya juga kurang paham,”bebernya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop dan UKM Tana Tidung, Rico Ardianto menjelaskan sebelum Natal dan Tahun Baru kemarin, pihaknya sudah melakukan sidak ke pangkalan elpiji dan juga SPBU yang ada di KTT.
Melalui sidak tersebut, stok elpiji dan BBM dinilai masih tercukupi. Sedangkan harga gas melon di tingkat pangkalan juga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 27 ribu pertabung, dan pihak agen dan pangkalan juga menjamin ketersediaan elpiji dan BBM.
“Sebelum Natal kemarin kami sudah lakukan sidak ke agen dan pangkalan elpiji, begitu juga dengan SPBU. Mereka menjamin tidak ada kelangkaan apalagi kenaikan harga,” ujarnya.
Jika saat ini ada warga yang mengeluhkan kenaikan harga dan kelangkaan elpiji wajar dipertanyakan dan pihaknya akan kembali mendatangi pihak agen dan pedagang elpiji tersebut.
“Waktu kami sidak kata pemilik agen dan pangkalan persediaan elpiji aman bahkan tidak ada kenaikan harga, tapi ternyata masih ada warga yang mengeluh elpiji 3 kg dan elpiji pink naik itu akan kami tindak lanjuti lagi,” tegasnya.
Tak ingin menyulitkan masyarakat, ia pun menegaskan kepada pemilik, agen dan juga pangkalan elpiji untuk terus mengontrol penjualan, dan meminta jangan memainkan harga.
“Saya minta bagi pemilik agen elpiji maupun pangkalan jangan nakal, jangan maanfaatkan kesempatan selama Nataru. Jika ada yang bermain maka kita akan tindak tegas nantinya,” tutupnya. (*)
Reporter : Osarade
Editor : Yogi Wibawa







