benuanta.co.id, TARAKAN – Universitas Borneo Tarakan (UBT) menggelar Wisuda ke-43 pada Rabu (29/7/2026) lalu di Gedung Rektorat Lantai 4 UBT. Sebanyak 755 wisudawan dan wisudawati resmi dilepas untuk kembali ke tengah masyarakat dengan membawa gelar akademik sekaligus tanggung jawab baru.
Dalam prosesi tersebut, Rektor Universitas Borneo Tarakan, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H., menekankan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi bukan menjadi titik akhir perjalanan pendidikan. Menurutnya, gelar akademik harus menjadi bekal untuk terus belajar, bekerja, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Wisuda hari ini bukan berarti berakhirnya proses belajar, tetapi menjadi awal dari tanggung jawab baru yang akan saudara emban,” ungkapnya.
Ia mengatakan etos kerja dan integritas perlu menjadi karakter yang melekat pada setiap lulusan, terlebih UBT tengah membawa semangat sebagai entrepreneurship university. Menurutnya, kemampuan akademik harus berjalan beriringan dengan kebiasaan bekerja secara bertanggung jawab dan berintegritas.
“Etos kerja dan integritas akan menjadi semangat yang mudah-mudahan menjadi bagian penting dari visi entrepreneurship university,” ujarnya.
Prof. Yahya juga mengingatkan para lulusan bahwa kualitas seseorang tidak cukup hanya dilihat dari satu pencapaian akademik yang diraih ketika wisuda. Ia mendorong para alumni untuk membangun kebiasaan positif dan mempertahankan kualitas diri dalam perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kualitas bukanlah tindakan, tetapi kebiasaan,” katanya.
Menurutnya, gelar akademik yang diperoleh para wisudawan juga membawa konsekuensi berupa amanah untuk mengembangkan pengetahuan dan memberikan kontribusi nyata. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi.
“Gelar akademik yang saudara peroleh hari ini harus dimaknai sebagai amanah yang terus menuntut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, memberi kontribusi terbaik bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” tuturnya.
Sebagai perguruan tinggi yang berada di wilayah perbatasan Indonesia, Prof. Yahya menyebut UBT memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman. Ia berharap para lulusan dapat membawa nama baik kampus melalui kiprah mereka di berbagai bidang, baik pada tingkat nasional maupun internasional.
“UBT yang ada di wilayah perbatasan ini terus mengambil peran strategis untuk mencetak generasi muda yang unggul dan berkarakter serta mampu mengikuti perkembangan zaman, baik secara nasional maupun internasional,” terangnya.
Ia pun meminta para alumni memahami bahwa setelah meninggalkan kampus, mereka menjadi bagian dari wajah UBT di tengah masyarakat. Setiap tindakan dan kontribusi yang dilakukan lulusan akan turut mencerminkan nilai-nilai yang dibangun selama menjalani pendidikan di kampus.
“Saudara adalah cerminan Universitas Borneo Tarakan. Tunjukkan bahwa lulusan Universitas Borneo Tarakan tidak hanya mampu berkiprah dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu memberikan teladan dan kemanfaatan yang lebih besar,” pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Yahya turut menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan keluarga wisudawan yang selama ini memberikan dukungan, doa, serta pengorbanan hingga anak-anak mereka berhasil menyelesaikan pendidikan. Ia menyadari tidak seluruh orang tua dapat berada bersama wisudawan di lantai empat karena keterbatasan kapasitas ruangan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh orang tua dan keluarga wisudawan-wisudawati yang saat ini sedang mengikuti kegiatan ini,” ucapnya.
Keterbatasan tempat pelaksanaan wisuda tersebut, menurut Prof. Yahya, menjadi salah satu pekerjaan rumah yang terus diupayakan UBT. Saat prosesi berlangsung, sebagian orang tua harus mengikuti rangkaian kegiatan dari lantai satu Gedung Rektorat karena kapasitas ruang tidak mampu menampung seluruh peserta beserta keluarga.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak bisa membersamai di lantai empat ini karena orang tua sekarang berada di lantai satu rektorat karena kapasitasnya sangat terbatas,” lanjutnya.
Ia mengatakan UBT akan terus memperjuangkan tersedianya fasilitas yang lebih representatif untuk pelaksanaan kegiatan besar kampus. Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah keberadaan gelanggang olahraga atau GOR yang mampu menampung wisudawan sekaligus orang tua dalam kegiatan berskala besar.
“Ini terus menjadi PR kami dan akan kami terus perjuangkan setiap tahunnya agar Universitas Borneo Tarakan memiliki gelanggang atau GOR yang mumpuni untuk menampung kapasitas seluruh wisudawan dan wisudawati beserta orang tua,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Yahya juga menyampaikan bahwa prosesi wisuda menjadi momentum bagi kampus untuk mengembalikan para lulusan kepada keluarga setelah menyelesaikan pendidikan. Ia berharap segala perjuangan dan doa orang tua menjadi kekuatan bagi para lulusan dalam menghadapi dunia setelah kampus.
“Hari ini kami mengembalikan putra dan putri Bapak-Ibu yang tentu saja saat ini mereka sudah menyandang gelar sarjana,” katanya.
Ia kemudian mengajak para wisudawan untuk menjadikan dukungan keluarga sebagai modal dalam membangun masa depan. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh gelar yang disandang, tetapi juga oleh kemampuan untuk terus berkembang dan bersaing secara sehat.
“Mudah-mudahan pengorbanan orang tua yang tidak henti-hentinya dan doa yang tidak putus-putusnya menjadi penguat seluruh civitas akademika serta seluruh wisudawan-wisudawati hari ini untuk menjadi orang yang sukses dan memiliki kemampuan untuk berdaya saing bagi nusa dan bangsa,” tuturnya.
Khusus kepada lulusan baru, Prof. Yahya mengingatkan bahwa dunia setelah perguruan tinggi akan menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dihadapi dengan ketekunan dan kemauan untuk terus bergerak tanpa mudah menyerah ketika menemui hambatan.
“Kita sedang menghadapi banyak tantangan yang luar biasa, maka jangan putus asa untuk yang fresh graduate, khususnya yang baru lulus S1,” pesannya.
Ia kemudian membagikan nasihat yang disebutnya selalu disampaikan oleh orang tuanya mengenai dua sikap yang dapat menghambat seseorang dalam mencapai kesuksesan. Dua hal tersebut adalah keputusasaan ketika berada di posisi bawah dan kesombongan ketika berada di posisi atas.
“Ada dua hal yang membuat orang sukses akan jatuh dan orang yang tidak sukses tidak akan mencapai kesuksesan. Yang pertama adalah orang yang berada di bawah tapi dia putus asa, dan yang kedua orang yang berada di atas tapi dia merasa sombong,” terangnya.
Karena itu, ia meminta para lulusan untuk menjaga sikap dalam setiap fase kehidupan, baik ketika menghadapi kesulitan maupun ketika memperoleh keberhasilan. Bagi mereka yang sedang berjuang, ia berpesan agar tidak menyerah, sedangkan mereka yang telah mencapai posisi lebih baik diminta tetap rendah hati.
“Putus asa dan kesombongan adalah dua hal yang akan membuat kita tidak mampu menjadi orang yang sukses,” tegasnya.
Prof. Yahya juga mengingatkan lulusan yang berpotensi memperoleh peningkatan karier agar tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Menurutnya, setiap pencapaian justru harus diiringi dengan tanggung jawab yang lebih besar.
“Apa pun halangan yang akan Anda hadapi ke depan, jangan putus asa. Untuk yang sudah berada di atas, mungkin Anda akan dipromosikan, maka jangan pernah sombong,” pesannya.
Sementara itu, dalam Wisuda ke-43 tersebut, sebanyak 755 lulusan berasal dari sejumlah jenjang pendidikan. Rinciannya terdiri dari 162 lulusan Program Magister (S2) dengan rata-rata IPK 3,78, 567 lulusan Program Sarjana (S1) dengan rata-rata IPK 3,58, tiga lulusan Program Diploma 3 (D3) dengan rata-rata IPK 3,09, serta 23 lulusan Program Profesi dengan rata-rata IPK 3,82.
“Sebanyak 755 wisudawan dan wisudawati pada periode ke-43 ini berasal dari beberapa jenjang program studi dengan capaian akademik yang sangat memuaskan,” paparnya.
Selain capaian IPK, UBT juga mencatat masa studi para lulusan sebagai bagian dari evaluasi capaian pendidikan. Data tersebut menunjukkan 52,38 persen lulusan menyelesaikan masa studi kurang dari 4,5 tahun, sedangkan 47,62 persen menempuh masa studi lebih dari 4,5 tahun.
“Data ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan proses pendidikan di UBT yang pelan-pelan kita lakukan perbaikan di berbagai aspek,” bebernya.
Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil yang patut diapresiasi sekaligus menjadi dorongan bagi UBT untuk terus melakukan pembenahan. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya tercermin melalui jumlah lulusan dan nilai akademik, tetapi juga dari proses pembentukan karakter serta kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja dan masyarakat.
“Capaian ini tentu saja harus kita syukuri bersama,” ucapnya.
Menutup pesannya, Prof. Yahya berharap seluruh lulusan mampu membawa nilai-nilai yang diperoleh selama berada di UBT ke dalam kehidupan profesional maupun sosial. Dengan bekal ilmu, karakter, etos kerja, dan integritas, para alumni diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih luas sekaligus menjaga nama baik almamater.
“Jadilah lulusan yang mampu memberikan kemanfaatan yang lebih besar bagi masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli








