Soroti Persoalan Sampah di Berau, Wabup Gamalis Dorong Pengelolaan Berbasis Nilai Ekonomi

BERAU — Wakil Bupati Berau, Gamalis, melontarkan pandangan yang di luar kebiasaan terkait persoalan sampah di wilayahnya. Di tengah gunungan sampah yang kian menumpuk, ia justru menegaskan sampah kini sudah saatnya dipandang sebagai sumber daya baru yang bernilai ekonomis tinggi.

Hal tersebut diungkapkan Gamalis dalam sebuah sesi diskusi terkait tantangan kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Berau.

“Sampah ini saya kira kita tidak bisa lagi memandangnya sebagai sesuatu yang harus dibuang. Hari ini, sampah sudah menjadi bagian dari sumber daya yang dapat memberikan manfaat, baik ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” ujar Gamalis, Senin (2/11/2026).

Baca Juga :  Respons Krisis BBM hingga Masalah Listrik, Bupati Berau Minta Warga Pahami Kendala Petugas Field

Gamalis membeberkan, volume sampah di Kabupaten Berau saat ini telah mencapai angka yang cukup fantastis, yakni berkisar di angka 54.568,41 ton per tahun atau jika dirata-rata mencapai 150 ton per hari.

Dengan angka sebesar itu, ia mengingatkan agar persoalan ini tidak lagi sekadar dilihat sebagai potret statistik semata, melainkan alarm nyata bagi daerah. Dalam kesempatan yang sama, Gamalis turut membeberkan tiga tantangan besar yang dihadapi Pemkab Berau dalam menangani persoalan sampah.

Baca Juga :  Mitigasi Dampak Pemadaman Listrik, Bupati Sri Juniarsih Minta PLN Alokasikan CSR untuk Wi-Fi di RTH

Pertama, sebagian besar masyarakat masih memegang pola pikir konvensional, yakni sampah cukup dikumpulkan di rumah, diangkut petugas, lalu dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pola ini dinilai tidak akan mampu bertahan lama menampung lonjakan volume sampah.

Kedua, dengan luasnya wilayah wisata Berau, mulai dari wilayah hulu, tengah, hingga kawasan kepulauan pesisir dan laut, pemerintah dihadapkan pada tantangan infrastruktur penanganan sampah serta biaya logistik pengangkutan yang cukup mahal.

Ketiga, area TPA Bujangga yang memiliki luas sekitar 11,5 hektar dinilai rentan mengalami overcapacity jika volume sampah terus merangkak naik setiap tahunnya tanpa adanya pembenahan sistem dari hulu ke hilir.

Baca Juga :  Hari Sumpah Pemuda ke-98, Bupati Sri Juniarsih Tegaskan Pembangunan Harus Diiringi Karakter Pemuda

Gamalis juga menceritakan pengalaman lapangannya saat melihat langsung sampah dari laut dan muara yang sempat terbawa arus hingga masuk ke kawasan jembatan akibat minimnya penyaringan di tingkat hulu.

Meski demikian, Pemkab Berau terus mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah, dari yang tadinya sekadar buang menjadi sistem ekonomi sirkular yang melibatkan kesadaran kolektif masyarakat luas. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Endah Agustina