Kopi Liberika Berau Disiapkan Tembus Pasar Nasional lewat Kolaborasi Lintas Sektor

benuanta.co.id, BERAU – Komoditas Kopi Liberika khas Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mendadak jadi sorotan usai dinilai menyimpan potensi ekonomi luar biasa sebagai produk unggulan daerah. Untuk menembus pasar yang lebih luas, pengembangan Kopi Liberika kini membutuhkan suntikan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, petani, akademisi, hingga pelaku usaha dan komunitas lokal.

Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui diskusi kolaboratif pengembangan Kopi Liberika Kaltim yang diinisiasi Yayasan Sekolah Tani Indonesia di Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Sabtu (25/7/2026) lalu.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, yang hadir langsung dalam agenda tersebut, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya wadah diskusi strategis antar-pemangku kepentingan itu.

“Ini bukan sekadar kegiatan minum kopi atau berdiskusi tentang rasa kopi. Yang kami bangun ini adalah sebuah ekosistem yang akan menentukan masa depan petani, perekonomian desa, hingga pengembangan komoditas unggulan Kabupaten Berau,” tegas Gamalis, Senin (27/7/2026).

Baca Juga :  Demi Pertahankan Program Prioritas, Bupati Berau Optimalkan Efisiensi Anggaran

Sebelum diskusi dimulai, Gamalis sempat menyeruput langsung seduhan Kopi Liberika asli Berau tanpa racikan gula untuk membuktikan kualitasnya. Hasilnya, Gamalis mengaku terpukau dengan karakter rasa kopi lokal tersebut yang dinilainya tak kalah saing dengan kopi populer dari daerah lain.

“Tadi saya coba kopinya, rasanya enak. Ada sedikit rasa asam yang menjadi ciri khasnya, dan saya menikmatinya tanpa gula. Memang kalau ingin merasakan karakter asli kopi, sebaiknya diminum tanpa gula,” ungkapnya.

Di balik nikmatnya secangkir kopi tersebut, ia mengingatkan ada jejak keringat dan perjuangan panjang para petani lokal yang bertahun-tahun merawat tanaman kopi hingga panen. Ia pun secara khusus menyoroti sosok Ibu Helmina sebagai bukti nyata bahwa SDM di Berau mampu menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi jika diberi pendampingan yang tepat.

Baca Juga :  Pemkab Berau Kirim 59 Atlet Cilik Ikuti Turnamen Bupati Malinau Cup VI

Meskipun tren kedai kopi di Indonesia dan Berau makin menjamur di setiap sudut kota, Gamalis menyayangkan mayoritas kafe masih mengandalkan biji kopi dari luar daerah. Kondisi ironis ini ia nilai sebagai tantangan sekaligus peluang emas agar Kopi Liberika Berau bisa unjuk gigi dan menjadi “tuan rumah” di tanah sendiri.

“Hari ini penikmat kopi semakin banyak, kafe tumbuh di mana-mana. Tetapi kita juga harus mulai berpikir bagaimana kopi lokal Berau bisa hadir di setiap kedai kopi. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” ujar Gamalis.

Guna mengejar target tersebut, Wabup Berau menekankan pentingnya pembentukan ekosistem kopi yang terintegrasi penuh dari hulu hingga ke hilir. Langkah terpenting di sektor hulu adalah menjamin ketersediaan bibit unggul serta memberikan pendampingan teknis secara konsisten kepada para petani.

Baca Juga :  DBH Sumber Daya Alam Terpotong, Bupati Berau Andalkan Sektor Pariwisata 

“Petani tidak boleh berjalan sendiri. Mereka harus didampingi mulai dari penyediaan bibit, teknik budidaya, hingga peningkatan produktivitas. Kalau petaninya kuat, maka komoditasnya juga akan berkembang,” jelasnya.

Tak berhenti di budidaya, perhatian ekstra juga wajib diberikan pada proses pascapanen demi menjaga mutu, mendongkrak nilai jual, serta memperluas promosi produk.

“Kalau kualitas sudah bagus tetapi tidak memiliki merek yang kuat dan akses pasar yang luas, tentu akan sulit berkembang. Karena itu, promosi dan pemasaran harus dilakukan secara berkelanjutan,” tutup Gamalis. (*)

Reporter: Georgie Sihaloho

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *