benuanta.co.id, NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) telah menyiapkan sejumlah agenda besar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun dan HUT Kabupaten Nunukan ke-27 tahun.
Kepala Disbudporapar Kabupaten Nunukan, Surai mengatakan, rangkaian kegiatan akan dimulai pada Agustus 2026 dengan menghadirkan berbagai event, mulai dari gerak jalan indah yang melibatkan peserta tingkat SD, SMP, SMA hingga kategori umum. Selain itu, pemerintah daerah juga akan menggelar Festival Kebudayaan dan Nunukan Color Fest 2026 sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
“Untuk Agustus ada beberapa kegiatan seperti gerak jalan indah, festival kebudayaan, dan Nunukan Color Fest 2026. Pesertanya dari berbagai tingkatan, mulai pelajar hingga masyarakat umum,” ujar Surai.
Ia menjelaskan, pada September 2026 kegiatan akan berlanjut dengan Festival Tanjung Karang yang akan dipusatkan di Pulau Sebatik. Selain itu, terdapat agenda Bejiu Safar, Marching Band tingkat pelajar dan umum, serta Gebyar Kuliner Nusantara.
“Jadi ada empat tingkatan yang kita siapkan, baik hadiah maupun doorprize. Pemerintah sangat mendukung dan merayakan kegiatan ini. Dalam rangkaian HUT RI juga ada festival kebudayaan yang menghadirkan 21 kecamatan,” jelasnya.
Menurutnya, Festival Kebudayaan nantinya akan menampilkan berbagai kekayaan budaya daerah, mulai dari lomba tari, lomba menyanyi, hingga pertunjukan budaya dari berbagai etnis yang ada di Kabupaten Nunukan. “Kita festivalkan budaya-budaya tempatan maupun budaya dari etnis-etnis yang ada di Nunukan,” katanya.
Memasuki Oktober 2026, sejumlah kegiatan lainnya juga telah disiapkan, di antaranya Kicau Mania, Paras Fest Perbatasan, Senam Yameto dan Lukiwol, Run Energy Baru, Irau Tidung Borneo Bersatu yang akan digelar di Desa Binusan, serta Ilau Pasisimpungan. Sementara itu, pada November 2026, agenda yang dijadwalkan berlangsung yakni Debaya North Awakening dan Fun Color Setabu.
Dikatakannya, salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah Senam Yameto dan Lukiwol yang akan melibatkan banyak peserta. Kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang menampilkan budaya masyarakat Lundayeh.
“Yameto setiap tahun kita pertandingkan, sedangkan Lukiwol atau Yiluk Yaki Betawol InsyaAllah akan kita upayakan memecahkan rekor MURI pada 11 Oktober mendatang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) tersebut akan dipusatkan di ruang terbuka hijau yang mampu menampung sekitar 10 ribu orang. Keistimewaan kegiatan Lukiwol, juga terletak pada keterlibatan peserta dari negara tetangga seperti Brunei Darussalam, Filipina, dan Malaysia, serta perwakilan dari lima kabupaten/kota.
“Kami optimis rekor MURI bisa diraih karena persiapan sudah dilakukan dengan baik. Pesertanya melibatkan pelajar, masyarakat, lembaga, hingga seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Nunukan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







