benuanta.co.id, BULUNGAN — Gempa susulan dari gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus terjadi. Apa lagi belum lama ini efek gempa di wilayah Teluk Tomini, Sulawesi Tengah juga sempat dirasakan masyakarat Kabupaten Bulungan khususnya Tanjung Selor.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Harapan mengingatkan masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara) untuk tetap mewaspadai potensi gempa bumi. Kondisi tersebut berkaitan dengan keberadaan sejumlah sesar aktif yang melintasi wilayah sekitar Kaltara.
Forecaster BMKG Tanjung Harapan, Agus, mengatakan terdapat dua sesar aktif yang perlu menjadi perhatian, yakni Sesar Tarakan dan sesar yang melintas di wilayah Berau hingga sekitar Tanjung Mangkaliat. Menurut Agus, keberadaan sesar aktif tersebut membuat wilayah Kaltara berpotensi mengalami gempa bumi, meski sebagian besar aktivitas yang terjadi selama ini berupa gempa dengan magnitudo kecil.
“Kita memang di daerah Kalimantan Utara ini ada dua sesar aktif, Sesar Tarakan sama sesar yang melintas di daerah Berau dan Tanjung Mangkaliat. Itu memang cukup sering memberikan muncul berupa gempa-gempa kecil,” kata Agus, Ahad (23/8/2026).
Ia menjelaskan, potensi terjadinya gempa dengan kekuatan lebih besar tetap ada. Hal itu berkaca pada catatan sejarah kegempaan di wilayah sekitar Kaltara. “Untuk potensi gempa besarnya pasti akan suatu saat akan terjadi. Catatan sejarah sendiri pernah gempa cukup besar terjadi di perairan Tarakan dan itu menimbulkan tsunami,” ujarnya.
Agus menilai kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperkuat upaya mitigasi bencana sejak dini. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika gempa terjadi, tetapi perlu dipersiapkan melalui edukasi, pemetaan risiko, hingga penguatan sistem peringatan dan respons kebencanaan.
“Langkah pemerintah daerah, terutama untuk mitigasi bencana, memang setidaknya harus dipersiapkan sejak awal,” katanya.
Agus juga menyebut aktivitas gempa yang terjadi di wilayah lain terkadang dapat dirasakan hingga Kaltara. Salah satunya gempa yang terjadi di wilayah Palu, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.
“Pusat gempanya cukup jauh, tapi efeknya terasa sampai ke sini,” jelasnya.
Ia menambahkan, potensi gempa di Kaltara akan selalu ada karena aktivitas tektonik bumi terus berlangsung. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengabaikan risiko bencana gempa meski selama ini sebagian besar gempa yang dirasakan tergolong kecil.
Terkait pemantauan, Agus mengatakan BMKG memiliki sejumlah perangkat untuk mendukung pengamatan kondisi cuaca dan kegempaan di wilayah Kaltara. Untuk pemantauan cuaca, BMKG memiliki radar cuaca di Tarakan. Sementara untuk sensor gempa, terdapat perangkat pemantauan di Kabupaten Tana Tidung.
“Untuk deteksi dini cuaca kami ada di Tarakan, ada radar cuaca. Kalau untuk sensor gempa ada satu di Kabupaten Tana Tidung punya BMKG,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Endah Agustina








