Listrik Pedalaman Kaltara Baru Jangkau 61 Persen Warga, Dinas ESDM Siapkan Alternatif PLTS

benuanta.co.id, BULUNGAN– Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Utara (Kaltara) menyebut layanan listrik di wilayah pedalaman belum sesuai dengan klaim yang selama ini disampaikan PLN. Berdasarkan data ESDM, baru sekitar 61 persen warga yang menikmati aliran listrik.

Kepala Dinas ESDM Kaltara, Ferdy Manurun Tanduklangi, mengatakan perbedaan tersebut pernah menjadi perhatian pemerintah daerah karena PLN sebelumnya menyampaikan cakupan layanan listrik telah mencapai 99 persen.

“PLN ini kadang menyampaikan listrik sudah 99 persen, sementara faktanya di masyarakat belum. Saya pernah protes, karena yang kami temukan baru sekitar 61 persen,” ujar Ferdy, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga :  Kontingen Kaltara Sabet Tiga Emas dan Empat Perak dalam PESPARAWI Nasional XIV 

Ia menjelaskan, perbedaan data terjadi karena desa yang baru dialiri listrik sebagian kecil rumah tangga tetap dikategorikan sebagai desa berlistrik.

“Misalnya satu desa ada 100 kepala keluarga, baru tiga rumah yang mendapat listrik sudah dianggap desa berlistrik. Menurut saya tidak bisa begitu, minimal harus lebih dari separuh warga yang sudah menikmati listrik,” ungkapnya.

Menurut Ferdy, kondisi tersebut membuat gambaran pelayanan listrik di daerah menjadi tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan. Ia mengatakan, luas wilayah Kaltara dengan permukiman yang tersebar menjadi tantangan dalam memperluas jaringan listrik menggunakan sistem PLN.

Baca Juga :  Persiapan Piala Gubernur Futsal Kaltara 2026 Capai 90 Persen, 40 Tim Siap Berlaga di Nunukan

“Kalau satu kampung hanya dihuni sekitar 50 orang, tentu biaya membangun jaringan listrik sangat besar. Secara hitungan investasi itu tidak efisien,” katanya.

Karena itu, pihaknya mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai solusi untuk menjangkau daerah yang sulit dilayani jaringan listrik konvensional.

Ia menyebut pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dinilai cocok dikembangkan di wilayah dengan intensitas panas matahari yang tinggi, sedangkan daerah yang memiliki aliran sungai dan air terjun berpotensi memanfaatkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Baca Juga :  Harganas ke-33, Gubernur Kaltara: Ayah Harus Hadir dan Aktif Dampingi Anak

“Setiap daerah punya potensi yang berbeda. Yang panas cocok menggunakan PLTS, sementara daerah yang banyak sungai dan air terjun bisa memanfaatkan mikrohidro. Potensi-potensi itu yang harus dihitung agar masyarakat di pedalaman juga bisa menikmati listrik,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *