Desa Tanjung Karang Sebatik Menjadi Lokus Penanganan Stunting, Turun 20 Kasus

benuanta.co.id, NUNUKAN – Sebagai lokus penanganan masalah stunting di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan tahun 2024, telah terjadi penurunan sekitar 20 kasus anak stunting.

Sebelumnya lokus stunting di Desa Tanjung Karang mencapai 60 kasus, dan saat ini tinggal 40 kasus.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2024 votes

Kepala Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, Faisal mengatakan desanya salah satu lokus stunting di Kabupaten Nunukan namun dia bersyukur karena sedikit ada penurunan.

“Pernah 60 angka stunting dan saat ini suda ada penurunan sekitar 20 jadi msi ada 40 yang masih menjadi perhatian khusus kami,” kata Faisal, kepada benuanta.co.id, Ahad, 17 Maret 2024.

Penetapan lokus stunting ini, kata Faisal, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Nunukan

Kegiatan ini sebagai upaya pemerintah untuk mengevaluasi kembali lokus stunting. Sekaligus untuk mengambil langkah yang dipandang perlu untuk mempercepat penurunan stunting.

Baca Juga :  Bobol Rumah dan Konter HP, Mantan PMI Ini Diringkus Polisi

Wakil Bupati Nunukan H. Hanafiah, mengatakan, angka stunting mengalami turun naik sehingga ini yang perlu diperhatikan lagi apa permasalahan tersebut. Sebenarnya pemerintah daerah sudah berupaya secara maksimal dalam rangka penurunan stunting di Kabupaten Nunukan.

“Kita akan terus berupaya melakukan penurunan stunting hingga di angka 14 persen sesuai dengan target nasional,” ujarnya, kepada benuanta.co.id.

Selain itu, juga pemanfaatan dana desa untuk penanganan stunting dapat dimulai dari pemetaan sasaran secara partisipatif terhadap warga desa yang terindikasi.

Tujuannya agar mendapat perhatian dalam penanganan stunting oleh kader pemberdayaan di desa.

“Kita tetap optimis stunting dapat kita turunkan, dan kita juga akan menghimbau kepada kepala desa agar bisa turut bersama-sama mengalokasikan dana desa untuk keperluan pengentasan stunting,” tutupnya.

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Nunukan memperkenalkan Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), kepada masyarakat karena pemenuhan pangan sangat penting sebagai komponen dasar untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

Baca Juga :  267 Pelanggaran Selama Ops Ketupat Kayan di Nunukan

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Nunukan, Wiwin Indrayanti, mengatakan Pemerintah memastikan masyarakat mendapatkan pangan bergizi sehingga kampanye ini akan digerakkan secara masif.

“Langkah awal di Kecamatan Sebatik ada sekitar 40 anak mendapatkan makanan B2SA yang kami lakukan pada saat jelang berbuka puasa bersama,” kata Wiwin Indrayanti.

Dia juga menjelaskan Pangan Beragam artinya dapat mengonsumsi berbagai jenis makanan, Bergizi artinya memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, Seimbang artinya porsinya sesuai dengan kebutuhan tubuh, dan Aman berarti bebas dari bahan kimia atau berbahaya.

Camat Sebatik, Wahyuddin, menyampaikan Pemerintah Kecamatan memberikan dukungan penuh pada kegiatan B2SA Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kabupaten yang bekerja sama dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kecamatan Sebatik.

“Saya menganggap ini adalah bentuk sosialisasi kepada masyarakat, agar memahami mengolah makanan yang sehat murah dan bersumber dari lokal,” jelasnya.

Kepala Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, Faisal, mengharapkan kegiatan ini bisa berkelanjutan tidak berhenti sampai disini saja, karena wilayahnya sebagai lokus stunting, dan dia juga bersyukur akhir-akhir ini sudah ada penurunan walaupun tidak signifikan.

Baca Juga :  Dua Hari Pencarian, Akhirnya 5 Motor Berhasil Dievakuasi

“Kami bersyukur dengan adanya bantuan dari beberapa Dinas di Kabupaten Nunukan termasuk dana Desa sehingga dapat menunjang penurunan angka stunting di Sebatik,” ujarnya.

Dia juga berharap kepada Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian apa yang telah dilakukan bisa menjadi trobosan baru di Desa Tanjung Karang, karen dia meliat yang diolah adalah makan lokal yang di produksi diwilayah mereka sendiri.

Di sisi lain, Yeni Warga Sebatik mengatakan tujuan dari Gerakan Pangan B2SA Terpadu ini yaitu untuk meningkatkan kualitas konsumsi gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan gizi. Selain itu, gerakan ini juga bertujuan untuk mengembangkan potensi pangan lokal, mempermudah akses terhadap pangan, dan memastikan ketersediaan pangan aman dan berkualitas.

“Ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian para pelaku usaha termasuk ibu rumah tangga seperti saya ini dalam menyediakan pangan yang aman dan berkualitas,” tutupnya.(*)

Reporter: Dermawan

Editor: Ramli 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *