FM : Pengusaha Ayam Pedaging Bohong dan Tidak Kooperatif

benuanta.co.id, TARAKAN – Sebelum melakukan peninjauan lokasi, Ketua Lembaga Nasional Pemantau dan Pemberdayaan Aset Negara Provinsi Kalimantan Utara, Fajar Mentari yang akrab disapa FM menyempatkan diri memenuhi panggilan untuk bertemu dengan Eldy Efendi selaku pemilik usaha ternak ayam pedaging di RT 57 Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat, Kota Tarakan dan Sudirman Jaya yang mengaku sebagai pengelola, pada Sabtu, 25 Juni 2022 lalu di Rumah Makan Padang Ladang Indah di Jalan Pulau Sumatera No 11, Pamusian, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Menurut Fajar, dalam pertemuan itu, Sudirman lebih mendominasi pembicaraan dengan cerita ngawur beda konteks, sudah di luar rel subtansi persoalan. Di antaranya pernah memimpin massa hingga sekitar 7.000 orang saat tragedi berdarah Kota Tarakan pada September 2010 silam.

“Saya ini mau bicara soal kandang ayamnya yang mengundang satu lalat dan kawan-kawannya, bukan mau bicara ayam sama lalat tawuran gara-gara beda suku,” ujar Fajar.

Dikatakan Fajar, dirinya tidak ada urusan dengan itu semua, urusannya adalah membela kepentingan hajat hidup orang banyak. “Jangan karena menyukseskan usaha satu orang, tapi dampaknya membunuh usaha banyak orang. Enak di kamu, nggak enak di banyak orang lain. Bicara ayam dan lalat tidak ada kaitannya dengan suku apa. Prinsip Saya, selama kaitannya itu untuk membela kepentingan hak hajat hidup orang banyak, maka bahkan suku Anda pun pasti Saya bela. Di situ konteks dan subtansinya,” tandasnya.

Fajar menilai tidak tepat jika Sudirman juga mempersoalkan tahi sapi. “Apa masalahnya tahi sapi selama tidak ada warga sekitar yang mempersoalkan? Toh, yang diributkan warga ini ‘kan soal lalat yang bergentayangan ke rumah-rumah warga, bukan bau tahi sapi yang diam di tempat. Bau tahi sapi tidak keluyuran ke rumah warga seperti lalat,” bebernya.

Baca Juga :  Tinggalkan Sapi Sembarangan, Pemilik Kena Denda Rp 1 Juta

Lanjut Fajar, jadi, menyoal bau kotoran sapi itu kalau ada orang yang kebetulan numpang lewat situ aja, bukan nyebar ke rumah-rumah warga seperti lalat. Buktinya, bau tahi sapi tidak tercium sampai di kandang ayamnya, padahal nyata-nyata cukup dekat dengan kandang ayam miliknya. Demi membela diri, sapi pun mau dijadikan kambing hitam.

“Jadi, Saya belum terima laporan keberatan warga setempat soal bau tahi sapi. Berapa orang warga setempat yang keberatan, keberatan Ketua RT mewakili warganya. Kalau mau dipersoalkan ‘kan harus sesuai prosedur,” tandasnya.

Di samping itu, Fajar ingin mengajak Sudirman bersama-sama banyak belajar soal kehidupan lalat. Jadi, menurut Fajar, semua bahan organik yang membusuk, termasuk limbah tumbuhan atau kotoran hewan, dikombinasikan dengan sedikit kelembaban, secara alami akan menjadi surga bagi lalat untuk makan dan bertelur.

Telur-telur lalat akan dengan cepat menetas menjadi belatung yang akan segera berkembang menjadi lebih banyak lalat. Oleh karena itu, pengendalian lalat dalam jangka panjang mengharuskan anda mengidentifikasi dan menghilangkan sumber makanan dan kelembaban ini.

Lalat kerap muncul dalam jumlah besar pada siang hari. Saat langit berubah menjadi gelap, mereka hampir sulit dijumpai, bahkan di lokasi paling kotor semisal tempat sampah sekalipun. Mungkin tak sedikit yang bertanya, kemana perginya lalat-lalat itu pada malam hari?

Lalat tersebut membutuhkan cahaya yang terpolarisasi untuk membimbing mereka secara visual. Kala hari berubah menjadi senja, lalat-lalat berlindung di bawah dedaunan, batang, cabang-cabang, dan ranting-ranting pohon. Selain itu, mereka ada juga yang bernaung pada batang rumput yang tinggi atau tanaman lainnya.

Baca Juga :  Sepanjang 2022, BPJS Ketenagakerjaan Tarakan Bayarkan Klaim Rp188,5 Miliar

Hama serangga seperti lalat, nyamuk, dan sejenisnya biasanya lebih memilih waktu fajar dan senja sebagai ‘jam-jam kerja’ mereka. Dengan kata lain pada saat lalat keluyuran ke rumah warga itu di saat terang hari, bukan di rumput.

“Sementara sapi yang Dia singgung itu ‘berdomisili’ di padang rumput. Kalau pun lalat dan kawanannya ke rumput, itu mungkin pada saat mereka ‘mau tidur aja’, dan mendekati gelap hingga sudah gelap,” terangnya.

Fajar juga menilai tidak relevan dengan persoalan ini jika Sudirman membanding-bandingkan dengan pemakai narkoba dan galian C yang tidak mengantongi izin namun terbiarkan.

“Jika Anda memang punya buktinya, silahkan dilaporkan saja ke yang berwenang, karena hanya tindakan bodoh jika di luar wewenang orang lalu tiba-tiba menuduh dan mengadili orang lain sembarangan tanpa dasar,” imbuhnya.

Fajar menilai, pihak manajemen usaha peternakan ayam pedaging ini tidak kooperatif. Terlebih pada saat Sudirman dengan intonasi nada tinggi menyatakan bahwa kalau pihaknya sudah berusaha mengajak baik agar diakomodir dengan baik, tapi kalau tidak bisa diajak baik, maka ribut aja sekalian. “Bahkan dia mau membakar kandang ayam dimaksud. Jadi, ajakan baiknya dengan pernyataannya itu sudah kontra produktif dan kontra diksi, karena malah terkesan mengintimidasi, dalam arti itu ‘kan sama dengan narasi ngajak ribut ya,” ucap intelektual muda ini.

Fajar mengaku pihak perusahaan ternak ayam broiler tersebut juga berusaha membujuknya untuk meninjau lokasi dengan tujuan hanya untuk membuktikan bahwa kandangnya itu bukan markas besar lalat.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Tarakan Bekuk 3 Pelaku Kasus Penggelapan dan Penipuan di Makassar, Jember dan Madiun

“Saya terus terang tersinggung dengan cara mereka, karena itu sama halnya secara tidak langsung menganggap Saya ini bodoh. Bagaimana tidak, wajar saja Saya hanya menjumpai dua ekor lalat karena kandangnya posisi kosong ayam pasca panen,” ujar Sekretaris Ikatan Persaudaraan Pemuda Makassar (IPPM) Kaltara ini.

Ada pun keterangan dari beberapa tetangga-tetangganya yang mengatakan tidak ada masalah dengan lalat, Fajar anggap itu sebagai faktor memelihara silaturahmi, faktor menjaga perasaan tetangga di depan umum, faktor tidak tega, faktor tidak enak hati. Menjadi kewajaran, karena secara psikologi sebagai tetangga yang apalagi merangkap pengontrak di kontrakannya.

“Sebagai orang yang lebih matang dari sisi usia seyogiaya lebih arif dalam memilih diksi-diksi narasi tutur, bukan seperti orang ngajak tawuran. Namun kembali lagi ke fokus masalah bahwa dalam konteks ribut-ribut soal lalat ayam, saya tidak ada urusan dengan zamanmu yang tidak Saya saksikan, karena sekarang kita berada di zaman yang sama yang bukan lagi zamanmu yang sudah berlalu. Bagi Saya, persetan dengan semua itu, dan Saya pastikan bahwa sejengkal pun Saya tidak akan mundur selama yang benar adalah benar, sebab darah yang mengalir di tubuh Saya dirancang tidak untuk mundur,” tegasnya.

Di akhir wawancaranya, Fajar mengajak bicara ke titik perkara agar menghemat waktu dan energi untuk tidak berdebat terlalu liar. “Jangan mengait-ngaitkan urusan lalat ayam dengan pertanyaan suku apa, karena ayam dan lalat tidak punya suku. Sehingga pokok pembicaraan tidak berisi omong kosong belaka. Katakan hitam jika memang hitam. Karena jika hitam dikatakan putih, maka itu sama dengan bohong!,” tutup Fajar.(*)

Editor: M. Yanudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *