Ekspor dan Pariwisata Berpotensi Dongkrak Nilai Rupiah

benuanta.co.id, TARAKAN – Di balik pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terdapat sejumlah peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan, terutama bagi sektor ekspor dan pariwisata.

Pengamat Ekonomi di Tarakan sekaligus akademisi Universitas Borneo Tarakan, Margiyono menilai, produsen yang berorientasi ekspor justru memperoleh keuntungan ketika pendapatannya menggunakan dolar Amerika Serikat atau mata uang asing lainnya.

“Dengan rupiah yang melemah, harga produk Indonesia di luar negeri menjadi relatif lebih murah sehingga peluang peningkatan ekspor semakin besar,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi serupa juga dinilai menguntungkan sektor pariwisata. Wisatawan mancanegara memiliki daya beli yang lebih tinggi ketika berkunjung ke Indonesia karena biaya menikmati barang dan jasa menjadi lebih murah dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga :  Ombudsman RI Tinjau Layanan Kepelabuhanan di Malundung Tarakan

Ia menyebut beberapa daerah seperti Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Labuan Bajo berpotensi merasakan peningkatan jumlah wisatawan asing sebagai dampak positif dari pelemahan rupiah. Namun, situasi tersebut berbeda dengan wilayah perbatasan seperti Kalimantan Utara (Kaltara) yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap produk asal Malaysia.

Margiyono mengatakan, masyarakat di kawasan perbatasan akan lebih merasakan dampak kenaikan harga akibat menguatnya ringgit Malaysia terhadap rupiah, termasuk bagi pengguna Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang harganya mengikuti perkembangan harga minyak dunia.

Baca Juga :  Pemprov Kaltara Optimalkan Bandara Juwata untuk Ekspor Hasil Perikanan

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih mencintai dan menggunakan produk dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap barang impor maupun produk dari negara tetangga.

“Kalau kita lebih banyak menggunakan produk dalam negeri, maka dampak pelemahan nilai tukar terhadap pengeluaran masyarakat bisa ditekan,” ungkapnya

Ia menilai karakter ekonomi masyarakat perbatasan memang berbeda dibanding daerah lain karena aktivitas konsumsi terhadap produk Malaysia relatif tinggi sehingga lebih sensitif terhadap fluktuasi kurs. Kendati demikian, peluang peningkatan ekspor dari Kaltara tetap terbuka apabila pelaku usaha mampu memanfaatkan kondisi nilai tukar yang lebih kompetitif di pasar internasional.

Baca Juga :  Pertamina EP Bunyu Field Tanam Mangrove dan Durian di Wilayah Pesisir

“Mungkin kita hanya dapat surplus dari kenaikan harga ekspor kita tetapi kita menghadapi kenaikan harga BBM non susbsidi oleh karena penyesuaian terhadap harga minyak bumi,” tutupnya. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *