Meraup Pundi-Pundi dari Ikan Pepija

Peminat Ikan Pepija hingga Kanada, Pengusaha Alami Penurunan Produksi

TARAKAN – Tak sedikit warga Tarakan yang menuai pundi-pundi penghasilan dari ikan pepija. Terutama warga di Juata Laut, Kota Tarakan. Sebagian besar produksi ikan pepija berada di wilayah utara Tarakan tersebut. Hal itu dikarenakan wilayah tangkap ikan pepija yang dekat dengan Juata Laut.

Adalah Zaid Hadi, salah seorang pengusaha ikan pepija yang sudah merintis usaha produksi ikan pepija sejak 2009 hingga saat ini. Dikatakan Zaid, peminat ikan pepija tak hanya warga Tarakan melainkan daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri. Produksi ikan tipis miliknya sudah sering kali diterbangkan ke Aceh, Jawa Barat, bahkan Papua. Ikan pepija juga sudah ekspornya ke laur negeri seperti ke Amerika, Kanada, dan beberapa wilayah di Asia Tenggara.

Diceritakan Zaid, dalam satu bulan ia mampu memproduksi 3-5 ton ikan pepija yang ditangkap oleh nelayan lokal di Juata Laut. Memerlukan dua pekan untuk melakukan produksi ikan pepija sebelum diedarkan ke pasaran. Sehingga dalam satu bulan ia mampu melakukan produksi dua kali tergantung jumlah permintaan.

“Usaha ikan ini menjanjikan, saya dan beberapa teman yang berkecimpung ikan pepija ini peminatnya banyak. Baik dari lokal Kaltara, Jawa Timur, Sulawesi, bahkan Papua dan Aceh minat dengan ikan ini. Tahun 2015 saya sudah membuka link sampai luar negeri ke Tawau, Sabah sampai ke Kanada,” ungkap Zaid.

Harga jual ikan pepija per kilogram dibanderol Rp 100-125 ribu dari tangan pengusaha atau pengrajin. Namun, harga di pengecer seperti di pasaran mengalami perubahan tentu di atas harga dari pengusaha. Tapi menurut Zaid, selama pandemi harga ikan pepija mengalami peningkatan secara signifikan kisaran Rp150-170 ribu sehingga di pengecer harga sampai Rp 200 ribu bahkan lebih.

“Ada waktu tertentu harga ikan pepija agak tinggi itu karena hasil penangkapan yang kurang, seperti hukum ekonomi ketika permintaan banyak tapi produk kurang. Sebelum pandemi tren penjualan naik namun selama pandemi produksi kita menurun,” jelas Zaid.

Selama pandemi Covid-19 hasil tangkapan ikan pepija diakuinya mengalami penurunan yang signifikan. Dikatakan Zaid, semasa keadaan masih normal sebelum datang covud-19 belasan nelayan melaut menangkap ikan pepija sehingga dalam dua pekan dia mampu produksi 1-1,5 ton ikan pepija. Mirisnya, selama pandemi produksi ikan pepija untuk sampai ke 300 kg diakui Zaid cukup susah. Nelayan yang dulunya menangkap ikan pepija pun ada yang beralih menangkap ikan bawal karena harga jual cukup tinggi.

“Kesulitannya beberapa nelayan kita tidak bisa beraktifitas karena pandemi, kemudian operasional mereka untuk melaut beberapa sisa nelayan saja yang turun. Penurunan sampai 50 persen, kita yang biasa dalam 2 minggu (sebulan dua kali produksi) menampung 1-1,5 ton, sekarang sudah tidak bisa seperti itu. Kalau masa pandemi begini 300-500 kg saja susah,” jelasnya.

“Produksi menurun, tapi harga sekarang cukup tinggi, selama pandemic hanya beberapa kali saja kita kirim ke luar daerah walaupun permintaan banyak tapi masalahnya produksi kita kurang,” lanjutnya.

Ia menambahkan, kendala utama baginya dalam mengembangkan usaha ikan pepija adalah masalah permodalan. Nelayan bisa turun melaut dimodali pengusaha ikan. Ikan hasil tangkap nelayan akan diolah pengusaha dijadikan ikan tipis siap jual. Sehingga terjadi perputaran ekonomi antara pengusaha ikan tipis dengan nelayan lokal.

“Kita kalau mau dijadikan untuk besar pastinya permodalan, yang menggunakan uang itu untuk nelayan. Istilahnya kita membiayai nelayan, hasil nelayan kita yang kumpulkan, pendanaan itu banyak di nelayan. Keluhan pengusaha itu permodalan, kita tidak dapat bahan baku kalau nelayan tidak dimodali,” ucapnya.

Lanjutnya, perlu perhatian khusus kepada nelayan ikan pepija dari pemerintah. Nelayan menggantungkan hidupnya dan keluarganya pada penangkapan ikan nomei tersebut. Dikatakan Zaid, para pengusaha ikan pepija juga berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah karena mereka ikut membayar pajak usaha ke pemerintah daerah.

“Selama pandemi kami cukup kesulitan karena pendapatan menurun akibat produksi menurun, jadi kita bayar pajak kalau ada laporan produksi ikan pepija, yang jelas tidak seperti masa normal sebelum pandemi,” pungkasnya. (ram/kik)

 

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *