Fenomena Bunuh Diri, Kondisi Psikologi Tertekan, Dominan Faktor Ekonomi

FENOMENA meningkatnya kasus bunuh diri yang ramai diperbincangkan di media sosial turut menjadi perhatian di wilayah Kalimantan Utara, khususnya Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kasus muncul dan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.

Psikolog Amalia Laili Barokah menyebutkan, tindakan bunuh diri tidak selalu dipicu oleh depresi, melainkan kombinasi berbagai faktor yang menekan kondisi psikologis seseorang.

“Banyak orang mengira bunuh diri itu pasti karena depresi. Padahal tidak selalu begitu, penyebabnya bisa macam-macam,” katanya, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi paling umum yang dialami seseorang sebelum melakukan tindakan tersebut adalah perasaan putus asa dan kehilangan harapan.

“Biasanya karena dia merasa tidak sanggup lagi. Ada perasaan putus asa, sedih berkepanjangan. Dia merasa di posisi paling sulit dan melihat bunuh diri sebagai jalan keluar,” jelasnya.

Menurut Amalia, pemikiran kematian bisa menyelesaikan masalah menjadi persepsi keliru yang sering muncul dalam kondisi mental yang tertekan.

“Orang yang bunuh diri itu bukan karena ingin mati, tapi karena merasa itu solusi dari masalah yang dia hadapi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor dominan belakangan ini. Tekanan akibat utang, pinjaman online, hingga kesulitan memenuhi kebutuhan hidup menjadi beban berat bagi sebagian orang.

“Masalah ekonomi itu paling banyak sekarang. Misalnya terjerat pinjaman atau judi, mereka merasa sudah tidak ada jalan keluar,” katanya.

Selain itu, Amalia mengungkap adanya fenomena peniruan atau copycat suicide yang membuat kasus serupa bermunculan dalam waktu berdekatan.

“Kalau ada satu kasus, lalu muncul lagi, itu bisa jadi efek meniru. Orang jadi menganggap bunuh diri sebagai pilihan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tanda-tanda seseorang berpotensi melakukan bunuh diri sebenarnya bisa dikenali, meskipun tidak selalu terlihat jelas.

“Biasanya ada perubahan perilaku, seperti menarik diri atau mulai menyiapkan sesuatu, misalnya membagikan barang-barang miliknya,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama jika terlihat adanya perubahan sikap.

“Kalau ada yang mulai menjauh, jangan dimarahi, tapi didekati dan diajak bicara,” pesannya.

Dalam hal ini, Amlia juga menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah, terutama dalam mengatasi persoalan ekonomi dan menyediakan layanan kesehatan mental yang mudah diakses.

“Peran pemerintah sangat penting, baik dari pencegahan maupun penanganan. Termasuk kebijakan yang tidak memberatkan masyarakat,” katanya.

Ia juga menyoroti kecenderungan laki-laki yang lebih sering menjadi korban, karena faktor sosial yang membuat mereka enggan terbuka.

“Laki-laki sering merasa harus kuat, jadi tidak mau terlihat lemah. Akhirnya semua dipendam sendiri,” jelasnya.

Terkait pemberitaan, Amalia mengingatkan media agar tidak menyajikan informasi yang dapat memicu peniruan.

“Jangan dituliskan detail cara bunuh diri atau isi pesan yang ditinggalkan. Itu bisa berdampak ke pembaca,” tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan agar masyarakat mulai lebih terbuka dan berani mencari bantuan saat menghadapi masalah berat.

“Tidak semua hal bisa kita kontrol. Kalau merasa tidak sanggup, penting untuk bicara dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional,” pungkasnya. (*)

Reporter: Alvianita

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *