benuanta.co.id, BERAU– Masa depan bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang dari Kabupaten Berau hingga Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tengah menjadi sorotan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, secara tegas menyatakan dukungannya untuk mengubah kawasan tersebut menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan atau Geopark, ketimbang membiarkannya dieksploitasi untuk industri semen.
Dalam sebuah percakapan singkat, Gamalis mengungkapkan, pengembangan Geopark akan membawa dampak yang jauh lebih positif bagi kemajuan pariwisata daerah.
Ia menilai, sektor pariwisata yang berkelanjutan adalah kunci bagi kemajuan Berau di masa depan. Keputusan untuk lebih condong pada pengembangan Geopark bukan tanpa alasan.
Gamalis menyoroti risiko besar yang membayangi jika kawasan karst tersebut dialihfungsikan menjadi pabrik semen.
“Kalau dijadikan semen kemarin, ya agak sedikit mengkhawatirkan terhadap lingkungan kita. Kalau Geopark, sepakat,” ujar Gamalis, Kamis (14/5/2026).
Kekhawatiran ini berdasar pada ekosistem karst yang dikenal sensitif. Pilihan untuk menjadikan kawasan ini sebagai Geopark dianggap sebagai langkah paling bijak untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga lokal melalui pariwisata.
Dukungan terhadap pembentukan Geopark Karst Sangkulirang-Mangkalihat ini semakin kuat setelah adanya temuan dari tim Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim).
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, ditemukan puluhan situs yang memiliki nilai sejarah tinggi di sepanjang bentangan karst tersebut. Kekayaan arkeologis dan geologis inilah yang menjadi modal utama Berau untuk bersaing di kancah pariwisata internasional.
“Karena ada puluhan situs yang kemarin dicek sama teman-teman Dispar Kaltim, nilai bersejarahnya tinggi karena membentangnya cukup gede,” ungkapnya.
Saat ini, isu mengenai pelestarian karst di Berau memang tengah ramai diperbincangkan di media sosial.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat konsisten dalam menjaga benteng hijau Kalimantan ini dari ancaman kerusakan industri berat. (*)
Reporter: Georgie Silalahi
Editor: Endah Agustina








