benuanta.co.id, TARAKAN – Kondisi Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, yang mengalami kerusakan di sejumlah titik dinilai perlu mendapat perhatian serius karena ruas tersebut menjadi salah satu jalur utama dengan aktivitas lalu lintas dan kegiatan ekonomi yang cukup tinggi.
Pemerhati transportasi sekaligus Akademisi Bidang Teknik Sipil, Dr. Ir. Muhammad Djaya Bakri, S.T., M.T., mengungkapkan Jalan Gajah Mada memiliki peran penting karena menjadi akses menuju sejumlah pusat aktivitas masyarakat dan perekonomian.
“Jalan Gajah Mada merupakan jalur utama menuju pusat perbelanjaan dan aktivitas ekonomi, seperti Pasar Gusher, kompleks pertokoan, hotel, coldstorage perikanan, serta pelabuhan Tengkayu I dengan arus lalulintas relatif tinggi sepanjang hari,” ungkapnya, Kamis (8/10/2026).
Dengan tingginya aktivitas di kawasan tersebut, kondisi jalan menurutnya perlu terus dipertahankan agar berada dalam kondisi mantap dan dapat digunakan masyarakat secara aman, lancar serta nyaman. Ia menjelaskan kondisi jalan yang mantap berarti tidak terdapat kerusakan pada permukaan maupun bagian jalan yang dapat mengganggu mobilitas kendaraan.
“Sangat urgent untuk selalu mempertahankan dan memelihara kondisi jalan dalam kondisi mantab, yaitu kondisi jalan yang tidak terdapat kerusakan pada permukaan jalan seperti bergelombang, berlubang, tergenang air, serta amblas pada beberapa bagian jalan,” jelasnya.
Kerusakan pada sejumlah bagian jalan, lanjutnya, berpotensi mengganggu fungsi Jalan Gajah Mada sebagai jalur dengan arus lalu lintas yang tinggi. Apabila kondisi tersebut dibiarkan, ruas jalan dapat semakin sulit digunakan dengan aman, lancar dan nyaman oleh kendaraan.
“Jalan tersebut berpotensi atau berakibat tidak dapat dilalui dengan aman, lancar, dan nyaman oleh kendaraan,” tegasnya.
Dalam penanganan jalan, pemerintah menurutnya perlu mengacu pada standar yang telah ditetapkan Bina Marga sebagai institusi yang mengatur dan membuat regulasi terkait standar teknis pekerjaan jalan. Ia merujuk pada Pedoman No.07/P/BM/2021 tentang Perencanaan dan Pemrograman Pekerjaan Preservasi Jaringan Jalan.
“Sesuai standar Bina Marga, Pedoman No.07/P/BM/2021 tentang Perencanaan dan Pemrograman Pekerjaan Preservasi Jaringan Jalan, pemeliharaan atau preservasi jalan terdiri dari pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, rehabilitasi dan rekonstruksi jalan,” terangnya.
Ia menilai kerusakan jalan yang lebih parah sebenarnya dapat dicegah apabila pemeliharaan rutin dilakukan secara konsisten, terutama pada ruas yang memiliki peran vital seperti Jalan Gajah Mada. Pemeliharaan rutin tersebut tidak hanya dilakukan ketika kerusakan sudah terlihat parah, tetapi secara berkelanjutan sepanjang tahun atau selama umur layanan jalan.
“Pemeliharaan rutin dilakukan secara terus menerus sepanjang tahun dan atau umur layan jalan untuk menjaga kondisi jalan selalu dalam keadaan baik dan mantab,” ujarnya.
Menurutnya, pemeliharaan rutin dapat dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari penanganan lubang hingga menjaga saluran air di sisi jalan. Penambalan lubang perlu segera dilakukan ketika ditemukan kerusakan pada permukaan, disertai pembersihan saluran drainase dan perbaikan bagian jalan yang mengalami retak, bergelombang maupun amblas.
“Seperti segera penambalan lubang (patching) jika terdapat lubang pada permukaan jalan, pembersihan saluran drainase atau saluran samping jalan, serta perbaikan bagian permukaan jalan yang mengalami retakan, bergelombang atau amblas,” imbuhnya.
Namun, penanganan Jalan Gajah Mada menurutnya tidak cukup hanya dengan memperbaiki bagian permukaan jalan. Pemerintah juga perlu melihat kondisi struktur konstruksi jalan untuk mengetahui penyebab dan tingkat kerusakan yang terjadi.
“Perbaikan jalan perlu memperhatikan kondisi kerusakan struktur jalannya,” tuturnya.
Apabila kerusakan yang terjadi sudah menyebabkan konstruksi jalan mengalami amblas, maka penanganannya membutuhkan pekerjaan pada struktur jalan, bukan sekadar pelapisan atau perbaikan permukaan. Ia menyebut rekonstruksi struktur dapat dilakukan melalui perbaikan atau pergantian lapisan pondasi perkerasan dengan material yang lebih baik.
“Jika konstruksi jalan mengalami amblas, maka diperlukan perbaikan berupa rekonstruksi struktur jalan seperti perbaikan atau pergantian lapisan pondasi perkerasan jalan dengan menggunakan bahan yang lebih baik, seperti perkerasan beton bertulang (rigid pavement),” lanjutnya.
Selain kondisi struktur jalan, aspek drainase juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan. Berdasarkan pengamatannya, kondisi saluran drainase samping Jalan Gajah Mada di sepanjang koridor kawasan pertokoan, hotel dan permukiman sudah tidak lagi ideal dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Kondisi terkini saluran drainase samping Jalan Gajah Mada sepanjang koridor kawasan pertokoan, hotel, dan permukiman terlihat tidak ideal lagi dengan kondisi lingkungan sekitar,” bebernya.
Karena itu, kapasitas saluran dinilai perlu ditingkatkan agar mampu mengalirkan limpasan air permukaan dengan lebih baik. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mendesain ulang dimensi saluran, termasuk mempertimbangkan bentuk saluran tertutup seperti yang telah dibangun di kawasan Jalan Diponegoro, Kelurahan Sebengkok, Tarakan.
“Diperlukan redesain dimensi saluran untuk peningkatan kapasitas saluran samping mengalirkan limpasan air permukaan. Saluran drainase samping dapat berupa saluran tertutup seperti yang dibangun pada kawasan Jalan Diponegoro Kelurahan Sebengkok Tarakan,” terangnya.
Ia menjelaskan kondisi drainase memiliki kaitan erat dengan ketahanan struktur jalan karena air dapat memengaruhi daya dukung konstruksi apabila tidak dikelola dengan baik. Drainase yang berfungsi dengan baik akan membantu melindungi struktur perkerasan jalan dari daya rusak air yang dapat memicu kerusakan lebih lanjut seperti amblas maupun munculnya genangan di permukaan jalan.
“Saluran drainase jalan yang baik akan melindungi struktur perkerasan jalan dari daya rusak air, seperti mengakibatkan menurunnya daya dukung konstruksi jalan yang tampak berupa terjadi amblas dan genangan air di permukaan jalan,” tuturnya.
Untuk mengatasi persoalan genangan di kawasan tersebut, ia menilai pemerintah perlu melakukan penanganan terhadap saluran yang ada sekaligus meningkatkan kapasitasnya. Redesain saluran diperlukan agar limpasan air permukaan dapat dialirkan dengan lebih optimal.
“Diperlukan redesain dimensi saluran untuk peningkatan kapasitas saluran samping mengalirkan limpasan air permukaan,” katanya.
Menurutnya, saluran tertutup juga dapat menjadi salah satu alternatif desain yang dipertimbangkan pemerintah dalam penanganan drainase Jalan Gajah Mada. Ia kembali mencontohkan pembangunan saluran tertutup di kawasan Jalan Diponegoro sebagai salah satu bentuk yang dapat menjadi referensi.
“Saluran drainase samping dapat berupa saluran tertutup seperti yang dibangun pada kawasan Jalan Diponegoro Kelurahan Sebengkok Tarakan,” ujarnya.
Untuk penanganan jangka pendek, ia menyarankan pemerintah terlebih dahulu melakukan normalisasi terhadap saluran drainase yang saat ini tidak berfungsi secara optimal. Normalisasi tersebut dapat dilakukan melalui pembersihan maupun pengerukan material endapan yang menghambat aliran air, sekaligus memperbaiki bagian outlet drainase pada area hilir.
“Penanganan jangka pendek, perlu normalisasi saluran drainase yang sekarang tidak berfungsi dengan pembersihan atau pengerukan material endapan, dan perbaikan outlet drainase pada area hilir menuju sungai terdekat,” sarannya.
Pada sisi badan jalan, penanganan jangka pendek juga perlu menyasar bagian konstruksi yang telah mengalami amblas. Menurutnya, kerusakan struktur tersebut perlu ditangani melalui rekonstruksi agar perbaikan tidak hanya bersifat sementara pada permukaan jalan.
“Serta rekonstruksi struktur perkerasan yang mengalami amblas dengan konstruksi pelat beton (rigid pavement),” katanya.
Sementara untuk penanganan jangka panjang, pemerintah dinilai perlu melakukan perencanaan kembali terhadap sistem drainase agar kapasitasnya sesuai dengan kebutuhan kawasan. Redesain dimensi saluran tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan saluran samping dalam mengalirkan limpasan air permukaan.
“Penanganan jangka panjang, diperlukan redesain dimensi saluran untuk peningkatan kapasitas saluran samping mengalirkan limpasan air permukaan,” ucapnya.
Ia kembali menyebut pembangunan saluran tertutup sebagai salah satu opsi yang dapat diterapkan dalam penanganan jangka panjang, dengan mempertimbangkan kondisi kawasan dan kebutuhan kapasitas saluran.
“Dapat berupa saluran tertutup seperti yang dibangun pada kawasan Jalan Diponegoro Kelurahan Sebengkok Tarakan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







