Deteksi Dini Penyakit Menular di Kaltara Diperkuat

benuanta.co.id, BULUNGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara (Kaltara) terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit menular yang masih menjadi perhatian di masyarakat.

Kepala Dinkes Kaltara Usman, mengatakan sejumlah penyakit menjadi perhatian, mulai dari campak, demam berdarah dengue (DBD), tuberkulosis (TB), HIV/AIDS hingga malaria. Menurutnya, deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penyakit berkembang dan menimbulkan dampak lebih luas.

Saat ini, Dinkes Kaltara juga memberi perhatian khusus terhadap kasus campak. Sejumlah kasus yang ditemukan dinilai berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Baca Juga :  Ekspor Kaltara Tembus US$1,42 Miliar, Neraca Perdagangan Surplus

“Sekarang kita fokus pada kasus campak. Beberapa kasus di Kaltara berpotensi menjadi KLB sehingga perlu penanganan cepat,” sebutnya, Kamis (8/10/2026).

Tim kesehatan disiapkan untuk melakukan penanganan langsung, termasuk ke wilayah Malinau setelah adanya laporan kasus di daerah perbatasan.

Selain campak, DBD juga menjadi perhatian Dinkes Kaltara, terutama di tengah perubahan kondisi cuaca saat ini. Masyarakat diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya memutus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Usman mendorong masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk melalui gerakan 3M, yakni menguras, menutup dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Baca Juga :  Ingkong Ala Minta Tiga Lembaga Pengelola SDA Segera Petakan Masalah Air di Kaltara

Sementara itu, penanganan TB juga terus diperkuat. Dinkes Kaltara meningkatkan skrining dan deteksi dini dengan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan.

“TB menjadi prioritas pemerintah pusat, bahkan masuk dalam Asta Cita Presiden. Karena itu, skrining dan deteksi dini harus diperkuat,” katanya.

Usman menegaskan TB bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dengan pengobatan yang tepat dan dilakukan secara tuntas, pasien dapat kembali pulih.

Baca Juga :  Mendagri Turun ke Perbatasan, DPRD Kaltara Harapkan Persoalan Infrastruktur Segera Teratasi

Pengobatan TB, kata dia, membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar enam bulan. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap penyakit tersebut sebagai sesuatu yang memalukan atau menjadi alasan untuk menghindari pemeriksaan.

“TB bukan penyakit kutukan. Stigma ini harus kita lawan agar masyarakat mau memeriksakan diri lebih awal,” tegasnya.

Dinkes Kaltara berharap penguatan deteksi dini dapat membantu menemukan kasus lebih cepat sehingga penanganan bisa segera dilakukan. Upaya tersebut juga diarahkan untuk menekan penyebaran penyakit menular di Kaltara. (*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *