Perjuangan Guru Honorer Jadi PPPK, Gaji Rp 400 Ribu Kini Rp 4 Jutaan

BUKAN tanpa perjuangan, tenaga guru yang lolos seleksi hingga dilantik menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) mengisahkan sepenggal kisahnya hingga diterima sebagai abdi negara.

600-an tenaga pendidik yang dilantik di Tarakan in telah lolos selesi PPPK pada tahun 2023. Setelah lolos passing grade barulah proses pengangkatan oleh pemerintah.

Seliana Febriani bersyukur setelah sekian lama mengabdikan diri sebagai guru akhirnya bisa menjadi salah satu PPPK. Ia pun tentunya harus lebih amanah dan bertanggung jawab lagi dalam menjalankan tugasnya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Seliana mengaku ia telah mengabdikan diri selama 12 tahun lamanya. Ia dinyatakan lolos pasing grade setelah mengikuti tes PPPK. Tidak langsung melamar begitu saja, ia harus mengikuti seleksi administrasi berdasarkan data di Dapodik dan juga klasifikasi P3 dan P4 berdasarkan tahun mengajar atau masa kerja.

“Seleksi administrasi dinyatakan lolos baru kami ikut ujian secara CAT (tes menggunakan komputer). Kami pelamar P3 ini adalah guru-guru yang memang sudah mengabdi dengan hitungan tahun yang sangat lama, saya sudah mengabdi selama 12 tahun,” ujarnya.

Meski pernah lolos passing grade saat mengikuti CPNS, perempuan lulusan Universitas Mulawarman dan lulus Pendidikan Profesi di Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaku awal mengabdi sebagai guru Bimbingan Konseling (BK) digaji Rp 400 ribu per bulan. Ia mengajar di SMP Negeri 3 Tarakan dimana ia tercatat sebagai alumnusnya.

“Jadi selama 12 tahun itu gaji saya berjenjang dari Rp 400 ribu untuk pertama kali kemudian berjenjang naik pernah Rp 1,2 Juta, lalu Rp 1,6 juta dan gaji saya terakhir sebelum terima SK PPPK ada perbaikan Rp 20 ribu/jam saya terimanya Rp 2,1 juta,” jelasnya.

Setelah dilantik menjadi PPPK, ia bersyukur gaji pokok yang diterima Rp 3,2 juta ditambah tunjangan sehingga total kurang lebih Rp 4,2 juta per bulan.

Tak hanya Seliana, Sriono guru SD 001 Tarakan mengatakan, telah mengabdi sebagai guru sejak tahun 1988 di pondok pesantren Jawa Timur, kemudian tahun 1999 pindah ke Kota Tarakan.

Di Tarakan Ia pun mulai mengajar lagi tahun 2006 di sekolah Negeri, namun karena kebutuhan ekonomi dan gaji guru kecil akhirnya menyambi berjualan es dan kelapa.

“Jadi pada waktu itu saya menjadi guru dan menyambil berjualan, saya jualan es, jualan buah kelapa saya titipkan di restoran kemudian ambilkan singkongnya orang,” ungkapnya.

Tidak sampai disitu saja, pada tahun 2007, Ia mengajar di Yayasan MI Arrayan sekitar 8 tahun menjadi guru agama di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) . Setelah itu, pada tahun 2012 mengajar di tiga sekolah.

“Jadi dalam 1 hari bisa 2 sampai 3 kali (mengajar) jadi tidak ada waktu untuk menganggur mengajar terus. Ada 3 sekolah yang bapak ajar tapi yang fokus hanya 2 sekolah dan dua – duanya sekolah swasta (Indo Tionghoa dan Yayasan Arrayan). Kemudian tahun 2013 awal di panggil Dinas untuk mengajar di SD 001 Selumit sampai sekarang,” urainya.

Sriono menegaskan dirinya hanya ingin mendidik anak – anak menjadi anak-anak yang baik dan mengabdi untuk bangsa. Sriono bersyukur, walaupun tinggal 4 tahun lagi ia pensiun tetapi ia dapat merasakan menjadi PPPK dan ia benar – benar diakui bangsa sebagai seorang guru.

“Dulu tahun 2013 digaji cuma Rp 800 ribu dan saat ini Alhamdulillah akan menerima sekitar Rp 4 juta,” pungkasnya.(*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2000 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *