GPM Dipercaya Efektif Menstabilkan Harga Pasar

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diinisiasi oleh Badan Pangan Nasional dipercaya akan efektif untuk menstabilkan harga pasar.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Diana Riswaty. Hal tersebut terbukti dari semakin berkurangnya peminat belanja karena harga pasar yang stabil dan dapat dijangkau oleh masyarakat.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1999 votes

“Secara keseluruhan, GPM tersebut adalah untuk menstabilkan harga pangan di pasaran dan bertujuan untuk menekan angka inflasi di daerah,” katanya, Rabu (3/4/2024).

Baca Juga :  DPKP Kaltara Dorong Lahan Kurang Produktif Ditanam Jagung

Tentu hal tersebut dirasa cukup membantu masyarakat di Kaltara dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok dengan harga yang lebih murah.

“Kita lebih dari tujuh kali, telah laksanakan GPM yang tersebar di lima Kabupaten/Kota di Kaltara selama bulan Ramadan ini. Saya pikir untuk program GPM ini sudah efektif ya dalam rangka menstabilkan harga,” ungkapnya.

Baca Juga :  DPKP Kaltara Dorong Lahan Kurang Produktif Ditanam Jagung

Menurut Diana, barang yang dijual di GPM ini merupakan Bapoting yang memang sering menyumbang inflasi di daerah.

“Seperti cabai rawit, beras, telur, minyak goreng, gula pasir, barang-barang yang seperti itu kan memang yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat, apalagi menjelang hari raya Idulfitri,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyoroti terkait harga telur yang terbilang cukup anteng mengalai kenaikan dan tidak beranjak turun di pasaran.

“Untuk kebutuhan pokok lain sepertinya sudah stabil untuk harganya, mungkin hanya telur yang masih sedikit mengkhawatirkan,” terangnya.

Baca Juga :  DPKP Kaltara Dorong Lahan Kurang Produktif Ditanam Jagung

Dari pantauan yang telah dilakukan oleh DPKP di beberapa agen dan penjual telur di Tanjung Selor, untuk harga telur hingga saat ini masih tetap berada diangka Rp 70 ribu hingga Rp 71 ribu.

Hal tersebut menurutnya, disebabkan jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) untuk kebutuhan telur meningkat.

“Kebutuhan untuk lebaran seperti membuat kue atau hidangan lainnya, sedangkan stok telur sendiri masih terbatas,” tutupnya.(adv)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *