Berangkat dari Cinta Bahasa dan Budaya hingga Menulis Kamus Bulungan – Indonesia

benuanta.co.id, Bulungan – Ida Ayu Parlina seorang penulis yang mencintai bahasa dan budaya daerah. Ia adalah penulis kamus Nun Kabor Peradi? Kamus Bulungan-Indonesia, yang merupakan kamus pertama yang memuat kosakata bahasa Bulungan.

“Saya membuat kamus ini, berawal membuat tulisan di laman Facebook. Tapi karena banyak tulisan saya yang hilang, maka yang saya lakukan dengan membuat status,” ucap Ida Ayu Parlina kepada benuanta.co.id.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1925 votes

Wanita yang lahir di Tanjung Palas pada 10 Agustus 1974 mengaku jika jumlah penutur bahasa Bulungan semakin hari semakin sedikit. Hal inilah yang membuatnya prihatin, agar tidak hilang sama sekali sumber data yang menjadi patokannya dalam membuat kamus Nun Kabor Peradi ini adalah sang ibunya sendiri.

“Saya banyak mengutip perkataan dari ibu, apa yang diucapkan saya catat dan kumpulkan. Ketika tidak paham artinya saya akan tanyakan dan catat,” terangnya.

Dia mengatakan bahwa ia membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyelesaikan kamus ini. Ia mengumpulkan data kosakata bahasa Bulungan dari berbagai sumber selain mendiang ibunya, juga dari buku, internet, media sosial dan wawancara langsung dengan penutur asli bahasa Bulungan.

“Sebenarnya ini belum semua, masih banyak yang ketinggalan. Kemarin saya berpikirnya begini kalau tidak segera saya cetak antara kehilangan banyak catatan juga umur tidak ada yang tahu,” katanya.

Ida Ayu Parlina mengaku tertarik dengan bahasa dan budaya daerah sejak kecil. Ia sering mendengarkan cerita-cerita rakyat dari orang tuanya dan kakek-neneknya. Ia juga sering membaca buku-buku tentang sejarah dan kebudayaan Kalimantan. Ia merasa bahwa bahasa dan budaya daerah adalah bagian dari identitas dan warisan yang harus dilestarikan dan dikembangkan.

“Ada satu tahun lebih saya bawa buku dan pulpen kemana-mana, kalau orang tua bicara saya dengarkan dan saya akan tanyakan kalau tidak paham,” bebernya.

Dia mengakui jumlah penutur yang semakin sedikit, lantaran tata bahasa Bulungan yang sedikit sulit, hal ini terlihat ketika akan membuat kalimat tapi kosakata yang akan digunakan tidak pas. Bahkan harus sesuai dengan konteks yang akan dibahas.

“Kalau kita gunakan terjemahkan kata perkata itu tidak bisa, seperti Bedua kalau kita terjemahkan artinya semangat. Tapi kalau akan digunakan lain tidak bisa karena arti lainnya itu makhluk halus atau hantu,” papar Ida.

Salah satu keunikan tata bahasa Bulungan ketika menerangkan sesuatu menggunakan kata sifat maka kata keterangan tersebut diletakkan di awal kalimat. Ida Ayu Parlina memberikan beberapa contoh misalnya anaknya cantik maka bahasa Bulungannya “Jejok Aneknya”.

“Contoh lain Pekerjaan itu melelahkan maka ditulis “Ngelumu Kuat Inon”. Begitu juga aku sakit hati maka dibuatnya “Pedos Asongku Kenuatnya”,” ungkapnya.

Untuk itu, salah satu cara yang dilakukan oleh Ida Ayu Parlina untuk melestarikan bahasa dan budaya daerah adalah dengan menulis kamus Nun Kabor Peradi? Kamus Bulungan-Indonesia. Walaupun kata wanita yang saat ini, ia bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Bulungan mengatakan kamusnya masih akan dilakukan revisi.

“Saat ini jumlah kata dasar pada kamus Nun Kabor Peradi ada 2.540 kata dasar dan edisi revisi sekitar 70-an kata,” sebutnya.

Ida Ayu Parlina berharap bahwa kamus ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk belajar dan mengenal lebih dalam bahasa dan budaya daerah. Ia juga berharap bahwa kamus ini dapat menjadi inspirasi bagi penulis-penulis lain untuk membuat karya-karya yang berkaitan dengan bahasa dan budaya daerah.

Informasi tambahan, selain sebagai penulis, dirinya juga kerap menjadi narasumber beberapa kegiatan diantaranya narasumber penyusunan RPP & Silabus Bahasa Bulungan (SMP), Revitalisasi Bahasa Bulungan, cerita Busang Mayun (cerita daerah berbentuk animasi), karya ilmiah cerita rakyat Bulungan untuk dosen UBT, penyusunan skripsi mahasiswa UBT terkait bahasa Bulungan

“Saya juga menjadi narasumber penyusunan skripsi mahasiswa UNM terkait sejarah dan seni  Informan penulisan buku Warisan Budaya dan Kearifan Lokal Masyarakat di Kabupaten Bulungan Tahun 2023 kerjasama Universitas Mulawarman dengan Disdikbud Kabupaten Bulungan. Selanjutnya informan penulisan buku Corak Budaya, kerjasama Universitas Hasanuddin dan Disdikbud Kaltara,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Nicky Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *