Petani Merugi, Pengembangan Rumput Laut Spinosum Dihentikan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Meski sempat dibudidayakan, pengembangan rumput laut jenis Spinosum (Sp) di Nunukan akhirnya dihentikan. Sebab, harga jual rumput laut tersebut sangat murah dan tidak bisa menutupi biaya operasional petani.

Hal ini diungkapkan langsung Ketua APRL Nunukan, Fery dalam diskusi rapat bersama petani dan pengusaha rumput laut di Nunukan pada Kamis (27/7/2023).

Tak hanya itu, APRL juga menghadirkan Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Nunukan guna memberikan kesadaran dan pemahaman terkait penarikan pajak dari sektor rumput laut bagi pelaku usaha.

“Soal pajak, teman-teman pelaku usaha paling tidak ingat kewajiban pajaknya. Kalau pajak atau PPh ini dari dulu sudah berlaku, tapi anggota harus tahu hitungannya seperti apa,” terangnya.

Baca Juga :  Ditegur Satpol PP Nunukan, Pemasangan Baliho di PJU Masih “Ngeyel”

Lalu terkait rumput laut Spinosum, kata Fery, memang sempat dikembangkan. Hal itu dikarenakan petani mencoba jenis baru dan berharap memiliki harga jual lebih tinggi dibanding jenis Cottonii yang selama ini jadi jenis unggulan dari Nunukan, akan tetapi harga jenis Spinosum sangat rendah.

“Mungkin kurang pemahaman, karena yang terjadi justru harga jualnya itu lebih murah saat di Makassar. Harganya itu kisaran Rp 6 ribu per kg, sedangkan harga bibitnya hanya Rp 3 ribu per kg, tapi tetap tak menutupi operasional petani,”  ungkapnya.

Karena merugi, pihaknya bersama petani maupun pengepul bersepakat untuk tidak mengembangkan kembali rumput laut jenis tersebut. “Terakhir itu kemarin, sekarang sudah tidak ada lagi. Jangan ada penanaman Sp lagi,” jelasnya.

Baca Juga :  Aktivasi IKD di Nunukan Baru Capai 3.521 Penduduk

Selain membahas persoalan tersebut, dirinya juga mengambil kesempatan ini untuk mengatur dan mendata kembali anggota APRL Nunukan. Sebab, hingga saat ini sudah ada kurang lebih 100 anggota yang tergabung.

“Kenapa kita mengatur anggota, karena ini menyangkut pengiriman. Kita tidak melarang tapi kita membatasi agar semua kebagian dalam pengiriman,” jelasnya.

Misal, ketersediaan spek rumput lautnya banyak maka pihaknya juga mengambil banyak namun tak semua. Lalu, rumput laut yang ketersediaannya sedikit, juga diambil sedikit, sehingga semuanya dapat terakomodir.

Baca Juga :  5 Poli Klinik RSUD Nunukan Tutup, Dokter sedang Cuti

Fery mengatakan jika saat ini dalam seminggu ada 1.500 ton rumput laut yang dikirim keberbagai daerah. Dengan adanya pengaturan itu pengangkutan maupun pengiriman rumput laut di Nunukan hingga saat ini masih berjalan dengan lancar.

“Kalau untuk harga di petani itu sekarang kisaran Rp 13 ribu hingga per kg. Harga ini memang rendah, tapi produksi kita terus melimpah,” pungkasnya. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Yogi Wibawa

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2043 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *