Dinkes Tahun Ini Upayakan Tekan Kasus Hipertensi di Kabupaten Kota di Kaltara

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) kembali menerima kunjungan kerja dari tim Direktorat Kemenkes RI pada Selasa (28/3/2023) lalu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kaltara Marsuryani SKM, bahwa kehadiran Direktorat Kemenkes RI yaitu melaksanakan kegiatan asistensi teknis.

“Juga mendorong penguatan program pencapaian indikator pelayanan hipertensi terkendali,” ucapnya Sabtu (1/4/2023).

Termasuk dijelaskannya ada 3 poin penting yang menjadi atensi Dinkes Kaltara pada tahun ini agar dapat terealisasi yaitu penanganan angka kasus hipertensi.

“Yaitu sosialisasi indikator Renstra 2020-2024 yang mengalami revisi. Lalu Angka hipertensi di kaltara cukup tinggi. Kemudian strategi pengendalian hipertensi melakukan integrasi pelaksanaan skrining penyakit tidak menular dengan lintas sektor dan lintas program. Dan membahas kendala-kendala yang dialami kabupaten kota dan puskesmas dalam melakukan pengendalian hipertensi,” ungkapnya.

Selain itu Dinkes Kaltara pada tahun 2022 lalu memiliki target sasaran menekan angka kasus hipertensi tertinggi yang terjadi di Kota Tarakan yaitu 52 ribu jiwa.

“Kalau di Bulungan target sasarannya pada tahun 2022 ada sebanyak 18.422 jiwa Nunukan 10.365 jiwa, Tarakan 52.852 jiwa, Malinau 18.094 jiwa dan KTT 6,355 jiwa,” bebernya.

Kemudian kata dia, untuk capaian Dinkes Kaltara berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten Kota upaya menekan angka kasus hipertensi tinggi seperti di Bulungan sudah terealisasi 8.949 jiwa.

“Nunukan 8.808 jiwa, Tarakan 9.237 jiwa, Malinau 2.759 jiwa, KTT 2.073 jiwa,” tuturnya.

Secara presentasi yang memiliki angka kasus tinggi hipertensi pada tahun 2022 yaitu Kabupaten Nunukan mencapai 77,95 persen.

“Kabupaten Bulungan 48,58 persen. Tarakan 17,48 persen. Malinau 15,25 persen. KTT 32,62 persen,” ujarnya.

Penyebab angka kasus hipertensi masih tinggi di kabupaten kota pada tahun 2022, menurutnya efek kesadaran pasien minum obat dan datang kontrol ke fasilitas layanan kesehatan masih rendah.

“Jika sudah merasa sehat obat tidak dilanjutkan lagi oleh pasien dan pola hidup tidak sehat dan rata-rata di atas usia 40 tahun yang mengalami sakit hipertensi,” imbuhnya.

Kendati demikian, dirinya sudah mengimbau kepada para staf dinkes kabupaten kota agar segera lakukan sosialisas tentang kesehatan.

“Sosialisasi melalui kabupaten kota dan puskesmas tentang pola hidup sehat dan kepatuhan minum obat, dinkes provinsi melakukan skrining PTM secara berkala pada ASN dan Honorer sekaligus sosialisasi pola hidup yang sehat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *